Konten dari Pengguna

Laut Indonesia Kian Tercemar, Pakar IPB: Kurangi Plastik, Perkuat Kolaborasi

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: magnific

Prof Etty Riani, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, mengatakan bahwa kondisi pencemaran laut di Indonesia kini semakin memprihatinkan. Tidak lagi hanya terjadi di kawasan perkotaan, kondisi ini telah meluas hingga wilayah pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia.

"Sebagian besar pencemaran laut berasal dari aktivitas di daratan, seperti limbah domestik, industri, pertanian, maupun sampah yang terbawa sungai hingga ke laut," jelas pakar pencemaran lingkungan dan ekotoksikologi ini.

Selain menurunkan kualitas air, pencemaran juga menyebabkan kerusakan ekosistem penting seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota laut.

Prof Etty mengungkapkan bahwa sampah plastik masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran laut di Indonesia. Berdasarkan berbagai penelitian di wilayah pesisir, jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, hingga jaring dan tali plastik.

Menurutnya, persoalan plastik menjadi semakin serius karena sulit terurai dan dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan. Seiring waktu, plastik akan terpecah menjadi mikroplastik bahkan nanoplastik yang kini telah ditemukan di air laut, sedimen, ikan, kerang, udang, teripang, hingga garam. Kondisi ini berpotensi mengancam kesehatan ekosistem maupun manusia melalui rantai makanan.

Ia menekankan bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam mencegah sampah berakhir di laut. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja dan botol minum sendiri, memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, tidak membuang sampah ke sungai maupun pantai, serta berpartisipasi dalam kegiatan bersih sungai dan pantai. Edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar juga penting agar pengelolaan sampah menjadi budaya sehari-hari.

Lebih jauh, Prof Etty mengingatkan bahwa apabila pencemaran laut terus dibiarkan selama 10 hingga 20 tahun ke depan, dampaknya akan sangat luas. Produktivitas perikanan diperkirakan menurun akibat rusaknya habitat ikan, sementara akumulasi bahan pencemar dan mikroplastik pada biota laut dapat mengancam keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Dari sisi ekonomi, nelayan berisiko mengalami penurunan hasil tangkapan dan kualitas produk perikanan, sedangkan sektor wisata bahari juga dapat terdampak akibat menurunnya kualitas lingkungan pesisir.

"Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," tutupnya. (Lp)