Libatkan 73 Mahasiswa Internasional, OVOC IPB Buka Peluang ke Pasar Global

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebanyak 73 mahasiswa internasional dan 15 dosen dari enam negara terlibat dalam OVOC International, bagian dari program Community Development – EQUITY 2025–2026 IPB University. Program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan masyarakat, inovasi, dan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris LPA2I IPB University, Danang Aria Nugroho, SE, MSi, dalam Lokakarya dan Diseminasi Hasil Program Community Development – EQUITY 2026 di Hotel Savero, Bogor, Kamis (13/8).
“Secara keseluruhan, kegiatan OVOC International melibatkan 13 mahasiswa IPB, 73 mahasiswa internasional, serta 15 dosen dari enam negara,” ujar Danang.
OVOC International dilaksanakan melalui kegiatan inbound dan outbound. Dalam kegiatan inbound, peserta belajar langsung di sejumlah wilayah, antara lain Bogor dengan komoditas ubi, Ciamis dengan pepaya California, Cianjur dan Bandung Barat dengan komoditas hortikultura, serta Garut dan Lampung Barat dengan komoditas kopi.
Melalui experiential learning, peserta belajar dari petani, pelaku usaha, koperasi, pemerintah, dan industri mengenai rantai nilai komoditas, mulai dari budi daya, pascapanen hingga pemasaran. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari asesmen untuk mengembangkan implementasi OVOC International dan membangun ekosistem bisnis berbasis komoditas unggulan daerah.
Hasil evaluasi Short Course yang menjadi bagian program menunjukkan 87,5 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan.
Sementara kegiatan outbound dilaksanakan di Belgia, Swiss, Belanda, Korea Selatan, Jepang, China, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kegiatan tersebut menghasilkan jejaring serta peluang kerja sama dengan mitra pendidikan, riset, pemerintahan, dan industri.
Salah satu hasilnya adalah peluang pasar ekspor bagi komoditas unggulan desa binaan IPB University. Kerja sama dengan mitra di China menghasilkan kesepakatan dengan buyer untuk sejumlah komoditas, termasuk pinang, dengan nilai kerja sama sekitar Rp33 miliar.
Kepala LPA2I IPB University Prof Handian menekankan, pengabdian kepada masyarakat perlu terhubung dengan inovasi, bisnis sosial, dan hilirisasi agar ekosistem yang dibangun tidak terputus.
“Dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat, kita tidak bisa memisahkannya dari hilirisasi inovasi, termasuk komersialisasi inovasi. Kalau ketiganya berjalan sendiri-sendiri, akan ada rantai dalam ekosistem yang terputus,” katanya.
Menurut Prof Handian, penguatan ekosistem juga perlu menjawab kebutuhan pembiayaan dan mempertemukan inovasi dengan petani, lahan, serta calon pembeli.
“Ekosistemnya mulai lengkap: inovasi IPB tersedia, petani siap terlibat, lahan tersedia, dan pembelinya juga ada,” ujarnya.
Program Community Development – EQUITY 2025–2026 juga mencakup Global Network for Advanced Agromaritime dan Wakaf Produktif. Ketiganya diarahkan untuk memperkuat jejaring internasional, kolaborasi, pengabdian, bisnis sosial, inovasi, dan hilirisasi.
Prof Handian berharap keterlibatan mahasiswa dan dosen internasional dalam OVOC terus dikembangkan menjadi peluang kemitraan untuk mengembangkan dan memasarkan produk masyarakat ke pasar yang lebih luas.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita memastikan hubungan antara pengabdian kepada masyarakat, bisnis sosial, dan hilirisasi inovasi benar-benar tersambung,” pungkasnya. (dh)
