Mahasiswa KKNT IPB University Gerakkan Warga Cangkurawok Konsumsi Protein Hewani

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
Konten dari Pengguna
19 Agustus 2022 14:11
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Maraknya Kasus Stunting, Mahasiswa KKN-T IPB University Gerakkan Warga Cangkurawok Konsumsi Protein Hewani
zoom-in-whitePerbesar
Maraknya Kasus Stunting, Mahasiswa KKN-T IPB University Gerakkan Warga Cangkurawok Konsumsi Protein Hewani
ADVERTISEMENT
Kasus stunting pada anak di bawah lima tahun masih menjadi persoalan yang belum dapat terselesaikan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University bersama Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Bougenville di Cangkurawok, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Bogor, Jawa Barat lakukan kegiatan upaya pencegahan kejadian stunting pada balita.
ADVERTISEMENT
Mahasiswa KKN-T IPB University membuat program “Gerakan Protein Sehat” sebagai wujud kontribusi dalam menurunkan prevalensi stunting. Kegiatan berupa pemberian protein hewani pada seluruh balita yang hadir dan melakukan program intervensi sensitif seperti pemberian edukasi kepada orang tua mengenai stunting.
Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman terkait apa itu stunting, ciri-ciri yang terlihat, dampak yang ditimbulkan serta pentingnya konsumsi protein hewani sebagai solusi pencegahan stunting. Kegiatan ini mendapat dukungan dan perhatian dari pihak Posyandu Bougenvile dan warga setempat.
Posyandu Bougenville melakukan pencegahan stunting di Cangkurawok melalui intervensi spesifik dengan pemberian imunisasi, monitoring pertumbuhan anak (tinggi dan berat badan), serta pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita.
“Untuk penanganan terhadap anak yang bergejala stunting, biasanya kami berikan wafer atau biskuit untuk membantu memenuhi kebutuhan gizinya,” terang Neneng Zakiah, kader Posyandu Bougenvile di Cangkurawok Rukun Warga (RW) IV.
ADVERTISEMENT
Dalam kesempatan itu, Khujaji, salah satu mahasiswa KKN-T IPB University mengedukasi pentingnya pencegahan kejadian balita stunting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) kepada ibu hamil. Masa 1000 HPK dimulai sejak fase kehamilan (selama 270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).
“Stunting pada balita perlu dicegah mulai dari dalam kandungan. Karena pada fase 1000 HPK dapat dikatakan sebagai masa emas untuk pertumbuhan anak,” ungkap Khujaji. Menurutnya, persoalan stunting perlu menjadi perhatian khusus bagi ibu hamil dan yang memiliki balita. Stunting tidak hanya berdampak terhadap berat dan tinggi anak, namun juga perkembangan otak yang dapat menurunkan kemampuan kognitif pada masa mendatang.
Khujaji menambahkan, dalam mencegah kejadian stunting pada balita maka perlu diberikan gizi yang cukup, dengan mengonsumsi protein hewani seperti telur, susu, ayam dan ikan. Pemberian protein hewani merupakan zat gizi yang sangat signifikan dalam tumbuh kembang anak sebagai penyusun dan pembangun sel-sel di dalam tubuh. Protein hewani, kata dia, memiliki kandungan asam amino yang lebih lengkap apabila dibandingkan dengan protein nabati. Protein hewani yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau yaitu susu dan telur. “Karena itu, mahasiswa KKN-T IPB University membagikan susu dan telur rebus sebagai gerakan awal dalam membantu pemenuhan gizi anak untuk mencegah kejadian stunting di Cangkurawok,” tandasnya. (*/Rz)
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020