Konten dari Pengguna

Mahasiswa Pascasarjana IPB Soroti Perubahan Perilaku Nelayan Lewat Program BCL

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Pascasarjana IPB Soroti Perubahan Perilaku Nelayan Lewat Program BCL
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Pascasarjana IPB Soroti Perubahan Perilaku Nelayan Lewat Program BCL

Menjaga laut ternyata bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Bukan hanya membawa pulang hasil tangkapan, nelayan kini mulai terbiasa membawa pulang sampah dari laut.

Hal ini menjadi temuan mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB University yang tergabung dalam Bogor Science Club saat melakukan pengamatan langsung di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta. Program Bulan Cinta Laut (BCL) yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan dinilai tidak hanya mendorong kepatuhan, tetapi juga mulai membentuk perubahan perilaku nelayan.

“Menariknya, nelayan mulai terbiasa membawa sampah tanpa harus selalu diingatkan. Ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku dengan terbentuknya kebiasaan baru,” ujar Feldy Khalid, perwakilan mahasiswa.

Aktivitas nelayan di PPS Nizam Zachman sendiri berlangsung nyaris tanpa jeda. Kapal datang silih berganti membawa hasil tangkapan, menciptakan denyut kehidupan yang dinamis di kawasan pelabuhan. Dalam tiga tahun terakhir, produksi perikanan meningkat signifikan, dari sekitar 135 ribu ton pada 2022 menjadi lebih dari 282 ribu ton pada 2025. Jenis tangkapan didominasi cakalang, tuna mata besar, dan tuna sirip kuning.

Sekitar 62 persen hasil tangkapan diekspor ke Thailand, Vietnam, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang, dengan kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp23,6 triliun. Angka ini menegaskan peran strategis PPS Nizam Zachman dalam perekonomian nasional.

Namun, tingginya aktivitas tersebut juga diiringi persoalan lingkungan, yakni meningkatnya jumlah sampah yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Untuk menjawab tantangan ini, KKP menghadirkan program BCL dengan melibatkan nelayan sebagai bagian dari solusi.

Nelayan didorong untuk tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga mengumpulkan sampah selama melaut. Pendekatan ini mengadaptasi praktik pendaki gunung dalam menjaga kelestarian alam di kawasan hutan secara kolektif.

Program BCL mulai dijalankan di PPS Nizam Zachman pada Januari 2024. Data menunjukkan jumlah sampah yang dikumpulkan berfluktuasi, yakni 8.163 kg pada 2024 dan sekitar 6.100 kg pada 2025. Memasuki 2026, tren kembali meningkat signifikan pada tiga bulan awal, dipengaruhi meningkatnya jumlah kapal saat periode Idulfitri.

Program ini juga dilengkapi mekanisme pengawasan. Kapal yang tidak membawa sampah akan diberi peringatan sebagai tidak patuh pada surat tanda bukti lapor kedatangan kapal (STBLKK). Pendekatan ini efektif mendorong kepatuhan jangka pendek, meski memiliki keterbatasan dalam membangun kesadaran jangka panjang.

“Kombinasi aturan dan keterlibatan langsung menjadi kunci keberhasilan program. Sanksi efektif mendorong perubahan awal, sementara pengalaman langsung memperkuat terbentuknya kebiasaan,” sebut Feldy Khalid.

Ke depan, program ini dapat diperkuat melalui pemberian apresiasi atau insentif bagi nelayan yang konsisten mengumpulkan sampah laut. Selain itu, penguatan peran nelayan juga dapat diarahkan sebagai bagian dari sistem pemantauan kondisi laut berbasis masyarakat (community-based monitoring).

Feldy menyimpulkan, “Dari PPS Nizam Zachman, terlihat bahwa menjaga laut tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Perubahan justru dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, ketika nelayan tidak hanya membawa pulang hasil tangkapan, tetapi juga membawa pulang tanggung jawab terhadap laut.” (*/Rz)