Sambut Iduladha, HSC IPB Berikan Pelatihan Penanganan Kurban Untuk Anggota DKM

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki bulan Dzulhijjah 1447 H, menyambut Iduladha, Halal Science Center (HSC) IPB University kembali mengambil langkah strategis guna mengawal kualitas pelaksanaan ibadah kurban di Tanah Air.
Melalui kolaborasi bersama Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) dan PT Bank BCA Syariah, HSC IPB University sukses menggelar "Pelatihan Penanganan dan Penyembelihan Hewan Kurban bagi Masyarakat Umum dan Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM)".
Acara yang dihelat secara hybrid ini berpusat di Kampus IPB Cilibende, Kota Bogor, sekaligus menjangkau ratusan peserta dari berbagai wilayah melalui ruang virtual Zoom Meeting.
Urgensi pemahaman fikih yang matang menjadi sorotan utama dalam pemaparan materi pertama yang disampaikan oleh KH Arwani Faishol Anwar. Ia membedah secara rinci aspek syariat penyelenggaraan kurban, mulai dari kriteria pemilihan hewan yang sah hingga tata cara eksekusi penyembelihan di lapangan.
"Ibadah kurban adalah bentuk ketakwaan kita, maka pelaksanaannya harus sesempurna mungkin sesuai tuntunan Rasul. Juru sembelih harus memastikan bahwa pisau memotong tiga saluran utama tanpa ragu: saluran napas, saluran makanan, dan dua urat nadi leher. Jika ketiga elemen ini terputus dengan cepat, hewan tidak tersiksa lama, darah keluar maksimal, dan daging yang dihasilkan pun dijamin halal serta thayyib," paparnya.
Beralih ke manajemen teknis dan kelestarian lingkungan, Edit Lesa Aditia, SPt, MSc mengajak para pengurus DKM untuk mengubah paradigma dalam memperlakukan hewan kurban pasca-penyembelihan. Dosen Fakultas Peternakan IPB University ini menyoroti pentingnya akurasi perhitungan karkas berdasarkan kondisi fisik ternak, bukan sekadar melihat postur yang tampak besar dari luar.
Selain itu, ia memberikan perhatian khusus pada kampanye green-qurban. "Sudah saatnya kita meninggalkan kantong plastik sekali pakai saat mendistribusikan daging kurban. Selain memicu timbunan sampah baru yang sulit terurai, beberapa jenis plastik berisiko mencemari higienitas daging. Panitia kurban di masjid-masjid bisa mulai mengoptimalkan penggunaan wadah lokal ramah lingkungan seperti besek bambu atau daun pisang," tutur dia.
Sesi edukasi ini ditutup dengan demonstrasi praktis yang dipandu oleh pakar anatomi dan kesehatan hewan, Dr drh Supratikno. Ia memperagakan teknik penanganan hewan kurban yang tepat. Di antaranya cara merebahkan hewan secara perlahan tanpa memicu stres berlebih yang dapat merusak kualitas otot daging.
Ia juga menggarisbawahi satu kesalahan fatal yang kerap dijumpai di area pelataran masjid saat hari-H penyembelihan, yaitu bercampurnya penanganan karkas dengan organ dalam.
"Jangan pernah memotong atau mencuci jeroan hijau, seperti lambung dan usus di dekat atau di area yang sama dengan pemotongan daging bersih. Jeroan hijau menyimpan jutaan bakteri pencernaan. Jika isi lambung bocor dan mengenai daging, bakteri tersebut akan berkembang biak sangat cepat. Inilah alasan utama mengapa daging kurban sering kali cepat berbau busuk bahkan sebelum sampai ke tangan penerima," tegasnya. (MW)
