Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Ungkap 5 Faktor Kelelahan Saat Mudik, Dosen IPB, Beri Solusi Anti-Aging Medicine
21 Maret 2025 14:01 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Mudik menjelang lebaran telah menjadi tradisi tahunan di Indonesia. Perjalanan jarak jauh selama mudik sering kali memberikan tantangan tersendiri, seperti kelelahan ekstrem ataupun jetlag—terutama bagi pemudik yang menempuh perjalanan lintas zona waktu.
ADVERTISEMENT
Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti stres oksidatif, mempercepat penuaan sel, dan menurunkan daya tahan tubuh.
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University sekaligus praktisi anti-aging medicine, dr Samuel Stemi, MBiomed, AIFO-K, Dipl AAAM mengungkapkan bahwa kelelahan saat mudik bisa disebabkan oleh beberapa faktor utama.
1. Kurang Tidur
Faktor pertama adalah kurang tidur. Persiapan mudik seringkali dilakukan dalam sisa waktu singkat sehingga membuat waktu tidur berkurang. Akibatnya, tubuh tidak dalam kondisi optimal ketika akan berangkat.
“Sebaiknya cicil persiapan mudik, setidaknya sejak satu minggu sebelumnya,” ucap dr Samuel.
2. Lamanya Durasi Perjalanan
Faktor kedua adalah durasi perjalanan yang panjang. dr Samuel mengatakan posisi duduk terlalu lama dapat menyebabkan ketegangan atau kekakuan otot dan kurang lancarnya peredaran darah, bahkan dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah.
ADVERTISEMENT
“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa microstretching atau gerakan kecil seperti menggerakkan pergelangan kaki, memutar bahu, atau kontraksi otot ringan, dapat memperlancar aliran darah,” tuturnya.
3. Dehidrasi
Faktor penyebab kelelahan yang ketiga, yakni dehidrasi. Menurut dr Samuel, kurangnya asupan cairan selama perjalanan bisa menurunkan tingkat energi dan menyebabkan sakit kepala.
“Upayakan minum air putih minimal delapan gelas sehari, sejak sebelum berangkat dan juga selama perjalanan,” ucapnya.
4. Kelelahan
Faktor keempat, pola konsumsi makanan yang tidak sehat. dr Samuel mengatakan, mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan energi secara tiba-tiba.
“Untuk menghindari hal ini, pilihlah karbohidrat kompleks seperti oatmeal, ubi rebus, kentang, dan protein berkualitas seperti telur rebus, kacang almond, kenari, atau edamame,” jelas dr Samuel.
ADVERTISEMENT
Saat perjalanan jauh, lanjut dia, tubuh juga mengalami peningkatan radikal bebas yang mempercepat penuaan.
“Bagi yang gemar mengonsumsi suplemen, saya anjurkan suplemen astaxanthin, karena astaxanthin 6.000 kali lebih kuat dari vitamin C dalam menangkal radikal bebas,” tuturnya.
5. Stres
Faktor kelima penyebab kelelahan adalah stres. dr Samuel menyebut, kemacetan dan kepadatan penumpang di transportasi umum bisa memicu ketidaknyamanan dan insekuritas.
“Maka, sejak awal, upayakan memilih armada transportasi yang terpercaya. Kenakan pula pakaian yang nyaman dan tidak terlalu ketat di bagian dada dan perut, agar tidak menghambat gerak pernapasan normal dan pertukaran udara di paru-paru,” tuturnya.
Anti-Aging Medicine untuk Mengatasi Jetlag
Bagi pemudik yang menempuh perjalanan lintas zona waktu, jetlag bisa menjadi tantangan. Jetlag terjadi ketika tubuh terasa lelah, bingung, dan tidak nyaman akibat perubahan zona waktu yang cepat saat bepergian dengan pesawat.
ADVERTISEMENT
Untuk menghindari jetlag, dr Samuel menyarankan untuk mengonsumsi bahan makanan yang kaya akan melatonin alami seperti salmon, buah ceri, pisang, dan kacang almond. Melatonin adalah hormon yang diproduksi untuk mengatur siklus tidur dan bangun.
“Jika benar-benar dibutuhkan, bisa mengonsumsi suplemen melatonin oral dalam dosis rendah (1-3 mg). Suplemen ini diminum pada saat perjalanan, ketika menjelang jam tidur berdasarkan zona waktu di tempat yang akan dituju,” ujarnya.
Selain dengan mengonsumsi suplemen, metode latihan pernafasan diafragma diyakini dapat mempercepat adaptasi tubuh terhadap zona waktu baru.
“Salah satu metode terbaru dalam dunia anti-aging adalah latihan pernafasan diafragma untuk menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dan meningkatkan oksigenasi sel,” jelasnya.
Lebih jauh dr Samuel mengatakan, teknik seperti 4-7-8 breathing (tarik nafas 4 detik, tahan 7 detik, buang perlahan 8 detik), terbukti efektif untuk meningkatkan kualitas tidur dan mempercepat adaptasi tubuh terhadap zona waktu baru.
ADVERTISEMENT
“Memahami cara kerja tubuh dan menerapkan strategi anti-aging medicine dapat mengurangi kelelahan dan jetlag, sehingga dapat menikmati momen kebersamaan dengan keluarga dalam kondisi terbaik,” pungkasnya.