Konten dari Pengguna

Vitamin Belum Tentu Diserap Tubuh, Pakar IPB Teliti Pencernaan In Vitro

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: magnific

Selama ini masyarakat sering menilai suatu pangan sehat berdasarkan tingginya kandungan antioksidan, vitamin, atau komponen bioaktifnya. Namun, apakah seluruh kandungan tersebut benar-benar dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh?

Menurut Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi Pertanian IPB University, Prof Endang Prangdimurti, jawabannya belum tentu. “Tidak semua senyawa tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh tubuh,” kata dia saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (23/7).

Karena itulah, Prof Endang menerapkan prosedur/protokol teknik pencernaan in vitro untuk mengetahui seberapa banyak zat bermanfaat dalam pangan yang benar-benar tersedia bagi tubuh.

Apa itu Pencernaan In Vitro?

Prof Endang menjelaskan, pencernaan in vitro merupakan simulasi proses pencernaan manusia yang dilakukan secara terkontrol di laboratorium. Kondisinya menyerupai proses fisiologis manusia, mulai dari fase oral, lambung, hingga usus halus.

“Melalui metode ini, peneliti dapat melihat perubahan komponen bioaktif selama proses pencernaan dan mengetahui seberapa banyak komponen tersebut yang tersedia untuk diserap tubuh atau disebut bioaksesibilitas,” terangnya.

Selama proses pencernaan, komponen bioaktif dapat mengalami berbagai perubahan akibat interaksi dengan matriks pangan, perubahan pH, aktivitas enzim pencernaan, maupun interaksi dengan komponen lain. Akibatnya, senyawa bioaktif dapat terlepas dari matriks pangan, mengalami transformasi, terdegradasi, atau membentuk kompleks baru dengan protein, lipid, dan serat.

Sejak 2022, penelitian Prof Endang lebih berfokus pada penerapan protokol pencernaan in vitro untuk mengkaji potensi pangan fungsional. Salah satu penelitiannya mengkaji pengaruh pengeringan terhadap bioaksesibilitas komponen bioaktif pada daun pulai. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok flavonoid yang mendominasi air rebusan daun pulai tidak seluruhnya stabil selama proses pencernaan.

Temuan berbeda terlihat pada pangan utuh (whole food). Pada beberapa jenis sayuran yang dikonsumsi sebagai lalapan, kandungan senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan justru dapat meningkat setelah melalui proses pencernaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pencernaan dapat membantu melepaskan senyawa bioaktif yang sebelumnya masih terikat dalam matriks pangan.

“Pada pangan utuh, awalnya mungkin kandungannya terlihat lebih rendah karena senyawanya masih terikat dalam matriks pangan. Setelah dicerna, senyawa tersebut bisa lebih banyak yang terlepas dan tersedia,” ungkapnya.

Teknik ini juga diterapkan dalam pengujian potensi antidiabetes dan alergenisitas pangan. Pada ekstrak teh hijau, misalnya, aktivitas penghambatan enzim pencernaan karbohidrat dapat meningkat setelah pencernaan in vitro. Sementara itu, pengujian alergenisitas protein menjadi bagian penting dalam penilaian keamanan pangan, termasuk pengembangan pangan hipoalergenik.

Menurut Prof Endang, teknik pencernaan in vitro dapat menjadi tahap skrining sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut pada hewan maupun manusia. Ke depan, pendekatan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan pangan fungsional berbasis sumber daya hayati lokal yang tidak hanya kaya akan komponen bioaktif, tetapi juga terbukti dapat tersedia dan memberikan manfaat bagi tubuh setelah dikonsumsi. (Ez)