Wanita Rentan Terserang Autoimun, Ini Panduan Sehat dari Pakar IPB University

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit autoimun kini menjadi perhatian kesehatan global yang serius. Secara global, sekitar 10 persen populasi atau 1 dari 10–15 orang terkena penyakit autoimun. Data dari The Lancet menunjukkan tren peningkatan prevalensi nasional untuk penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan diabetes tipe 1.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, persentase penderita autoimun berkisar antara 3–5 persen. Dari angka tersebut, sekitar 80 persen penderitanya adalah wanita. Insiden penyakit autoimun di Asia Tenggara diprediksi akan terus meningkat seiring adanya urbanisasi dan perubahan lingkungan.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan, penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun kita secara tidak sengaja menyerang sel-sel sehat karena salah mengenali antigen. Akibatnya, terbentuk autoantibodi yang memicu peradangan dan dapat merusak organ-organ tubuh.
“Secara umum, gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas,” jelas Prof Ronny.
Ia mengungkap, penyakit autoimun sangat beragam, lebih dari 100 jenis. Beberapa yang dikenal meliputi rheumatoid arthritis, lupus, myositis, psoriasis, vitiligo, dan skleroderma. Pada sistem pencernaan terdapat penyakit crohn, celiac, dan kolitis ulseratif. Pada gangguan hormonal terdapat diabetes tipe 1, hashimoto, dan graves. Gangguan saraf meliputi multiple sclerosis dan myasthenia gravis.
Berdasarkan penelitian, Prof Ronny mengungkapkan bahwa wanita memiliki kecenderungan lebih terhadap gangguan autoimun karena faktor genetik, hormon estrogen dan progesteron, serta faktor imunologis. Meskipun sistem imun yang kuat sangat penting untuk melindungi kehamilan, sistem ini juga bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap serangan dari dalam diri sendiri.
“Autoimun tidak langsung diwariskan kepada anak, tetapi ada predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mereka, selain faktor lingkungan. Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan,” kata Prof Ronny.
Dalam proses interaksi antara genetik dan lingkungan, Prof Ronny menjelaskan bahwa gen yang rentan tidak selalu aktif. Lingkungan dapat berperan besar dalam mengaktifkan atau menonaktifkan gen melalui mekanisme epigenetik, seperti metilasi deoxyribonucleic acid (DNA).
“Sebagai contoh, seseorang yang memiliki gen HLA tertentu mungkin tidak akan sakit tanpa adanya infeksi yang memicu. Begitu pula, wanita yang berpotensi terkena lupus bisa mengalami flare setelah terpapar sinar ultraviolet (UV) atau mengalami tekanan mental,” jelasnya.
Jika didiagnosis dengan penyakit autoimun, penting untuk tidak hanya mengikuti pengobatan, tetapi juga mengelola gaya hidup serta mendapatkan dukungan psikososial. Prof Ronny menyarankan untuk berkonsultasi secara rutin dengan dokter reumatologi dan imunologi. Berdasarkan diagnosis, pengobatan dapat meliputi NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs), kortikosteroid, imunomodulator, atau terapi khusus seperti insulin untuk diabetes tipe 1.
“Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Selain itu, Langkah kecil ini membantu merasa lebih baik tiap hari,” pungkasnya Prof Ronny. (MHT)
