1 Orang Tewas Tertimbun Longsor di Bogor Barat, Warga Sempat dengar Gemuruh

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi rumah yang tertimbun tanah longsor. Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah yang tertimbun tanah longsor. Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Hujan deras mengguyur wilayah Bogor Barat mengakibatkan tanah longsor di kawasan Taman Muara, Kelurahan Pasirjaya, Minggu (3/5) malam.

Peristiwa ini menewaskan seorang warga bernama Widia Ningsih (24). Korban tertimbun longsor saat berjalan menuju warung.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan pihaknya menerima laporan kejadian sekitar pukul 20.25 WIB dan segera menuju lokasi untuk melakukan penanganan.

“Tinggi longsor sekitar dua meter dan lebar sekitar tujuh meter. Curah hujan yang tinggi membuat struktur tanah menjadi tidak stabil sehingga memicu terjadinya tanah longsor,” kata Dimas, Senin (4/5).

Menurut Dimas, korban tidak sempat menyelamatkan diri saat material longsor tiba-tiba menimpa dirinya. Warga sempat berusaha mengevakuasi korban dan membawanya ke RS Ummi, namun nyawanya tak tertolong.

“Korban sempat dibawa ke RS Ummi lalu dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

Dimas mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.

“Jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah, segera laporkan agar bisa ditangani lebih cepat,” tutupnya.

Terdengar Suara Gemuruh

Sementara itu, seorang saksi mata, Firman (49), mengaku mendengar suara gemuruh keras sesaat sebelum kejadian. Ia langsung terbangun dan keluar rumah setelah mendengar teriakan warga.

“Pas begitu ada suara ‘brugh’ kayak gempa, saya kaget bangun. Enggak lama istri manggil, katanya ada yang ketindihan longsor,” ujarnya.

Firman bersama warga lainnya berupaya menyingkirkan material longsor secara manual sebelum petugas datang. Saat ditemukan, korban dalam kondisi terjepit batu dan tanah.

“Kita angkatin batu satu-satu. Waktu itu masih ada napasnya,” pungkasnya.