12 Bekantan dan 2 Ular Ditemukan Mati Terpanggang Imbas Karhutla di Kalsel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang mati dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.  Foto: ANTARA/HO-BKSDA Kalsel
zoom-in-whitePerbesar
Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang mati dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Foto: ANTARA/HO-BKSDA Kalsel

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan mengkonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna mengatakan pihaknya menerima laporan pada Minggu (13/9) dari petugas pemadam kebakaran Hulu Sungai Selatan dan masyarakat mengenai bekantan yang terdampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.

“Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king cobra ikut terbakar,” ujarnya dikutip dari Antara, Rabu (16/9).

Seekor bekantan (Nasalis larvatus) berjalan di pohon saat patroli habitat bekantan dan satwa lainnya di Area Preservasi, Desa Panjaratan, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Sabtu (5/9/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Menurutnya, berdasarkan informasi kepala desa setempat, ada 60 ekor bekantan di sana.

“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” ucapnya.

Peta Provinsi Kalsel Foto: Google Maps

Selain satwa endemik Kalimantan itu, Agus mengatakan bahwa kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang yang masih dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.

Tim penyelamatan BKSDA Kalsel telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi habitat yang terbakar, luas kawasan terdampak, serta memastikan kemungkinan masih terdapat satwa yang selamat dan membutuhkan penyelamatan atau evakuasi.

Hasil pengecekan menunjukkan habitat bekantan di lokasi tersebut terdiri atas dua kawasan terpisah yang masing-masing memiliki luas sekitar dua hingga tiga hektare dan dipisahkan oleh jalan, dengan satu kawasan merupakan tanah desa dan kawasan lainnya milik masyarakat.

Kawasan yang menjadi habitat bekantan dikepung kabut asap akibat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Foto: BKSDA Kalsel/HO via Antara

Agus mengungkapkan kebakaran, terutama terjadi di kawasan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar, sedangkan kawasan tanah desa aman dari kebakaran, sementara bekantan yang mati ditemukan berada di kawasan milik masyarakat tersebut.

Kedua kawasan itu, kata dia, menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan, karena satwa menggunakan area tersebut sebagai jalur pergerakan, meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu hamparan ekosistem yang menyatu.

“Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa kondisi habitat yang terbatas, kemudian kebakaran dengan api cukup besar dan disertai angin kencang, diduga menyebabkan bekantan yang berada di kawasan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api.

Petugas kepolisian menunjukkan seekor bekantan yang mati dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Foto: Dok. Istimewa

BKSDA Kalsel telah menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan dengan menguburkan, dan apabila ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain, seperti penembakan, bangkai akan dibawa untuk diperiksa oleh dokter hewan.

BKSDA Kalsel selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa dan kecamatan serta mengajak masyarakat menjaga habitat satwa dilindungi tersebut, sembari melanjutkan pemantauan terhadap kemungkinan adanya satwa yang masih membutuhkan evakuasi.

“Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi habitat dan satwa liar yang terdampak kebakaran,” ujar Agus.