2 Dekade Pemberontakan, Gerakan Muslim-Melayu Tetap Ingin Merdeka dari Thailand

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nikmatullah Seri, juru bicara delegasi negosiasi damai gerakan Barisan Revolusi Nasional (BRN) di Thailand bagian selatan, saat diwawacarai AFP, Senin (14/9/2026). Foto: Arif Kartono/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Nikmatullah Seri, juru bicara delegasi negosiasi damai gerakan Barisan Revolusi Nasional (BRN) di Thailand bagian selatan, saat diwawacarai AFP, Senin (14/9/2026). Foto: Arif Kartono/AFP

Dua dekade usai pemberontakan yang menewaskan ribuan orang di Thailand bagian selatan, gerakan Muslim-Melayu di sana berjanji akan terus memperjuangkan kemerdekaan.

"Perjuangan kami akan terus berlanjut hingga ujung waktu," kata juru bicara delegasi negosiasi damai dari gerakan Barisan Revolusi Nasional (BRN) di Thailand selatan, Nikmatullah Seri, seperti dikutip dari AFP.

"Selama tujuan kami masih belum tercapai, kami akan terus berjuang," sambung dia.

Militer Thailand. Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

BRN merupakan gerakan bersenjata yang memperjuangkan pemisahan diri wilayah selatan, yang berpenduduk mayoritas Muslim, dari Thailand. Mereka memulai perjuangan sejak 1960-an, tetapi konflik bersenjata yang berdarah pertama kali pecah pada 2004.

Untuk meredakan konflik, Pemerintah Thailand memulai negosiasi dengan BRN pada 2013 melalui perantara Malaysia. Terakhir kali pertemuan tingkat tinggi antara BRN dan Pemerintah Thailand digelar pada Desember tahun lalu.

Setelahnya, proses negosiasi damai menemui jalan buntu. Pemerintah pusat Thailand menghentikan dialog setelah lima orang tentaranya terbunuh di wilayah selatan tempat BRN beroperasi.

Setelah peristiwa itu, untuk pertama kalinya perwakilan BRN akhirnya mau buka mulut. Meski tak menyinggung peristiwa pada Juli lalu, Nikmatullah menegaskan tujuan perjuangan mereka jelas tak berubah, yakni kemerdekaan.

"Objektif tetap sama yaitu kami menuntut kemerdekaan," ucap Nikmatullah.

Adapun wilayah selatan Thailand memiliki sejarah panjang terkait Islam. Mereka dulunya merupakan eks bagian Kesultanan Patani yang bernuansa Melayu dan Muslim.

Namun, kawasan itu kemudian diambil pada awal 1900-an oleh Kerajaan Thailand. Bertolak belakang dengan Kesultanan Patani, kerajaan yang menjadi cikal bakal Thailand modern saat ini mayoritas penduduknya merupakan pemeluk Buddha.

Laporan lembaga pemantau Deep South Watch menyebut, semenjak konflik bersenjata membara pada 2004, sebanyak lebih dari 7 ribu orang kehilangan nyawa di selatan Thailand. Mereka yang tewas terdiri dari milisi pemberontak, pasukan keamanan Thailand, dan warga sipil.

Menurut Nikmatullah, kelompoknya telah meminta agar Bangkok membagi kekuasaannya di empat provinsi di selatan Thailand dengan BRN. Kelompok itu turut menuntut agar syariah Islam berlaku bagi seluruh muslim di empat provinsi di selatan tersebut.

"Kami ingin kekuasaan politik. Itu sebabnya, BRN bisa memerintah di kawasan tersebut," ujar Nikmatullah.