25 Hari Bawa Garibaldi: Cerita Kolonel Fuad Komandani Kapal Induk Pertama RI

Perjalanan panjang sekitar 25 hari dari Taranto, Italia, akhirnya membawa ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Indonesia. Di balik pelayaran tersebut, ada Kolonel (P) Fuad Hasan yang dipercaya menjadi calon komandan kapal yang nantinya berganti nama menjadi KRI Sriwijaya itu.
Fuad bersama kru dari TNI AL mengawaki kapal tersebut bersama 300 kru Angkatan Laut Italia dalam pelayaran menuju Indonesia. Bagi Fuad, perjalanan itu bukan sekadar membawa kapal dari Italia ke Indonesia, tetapi juga menjadi pengalaman pertama personel Indonesia mengawaki kapal induk.
"Ini adalah sejarah pertama bagi bangsa Indonesia, kami mengawaki calon kapal induk. Dan ini adalah sejarah, milestone yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.” kata Fuad usai kedatangan Giuseppe Garibaldi di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026).
Tiga Bulan Persiapan
Sebelum ikut membawa Giuseppe Garibaldi ke Indonesia, Fuad dan personel Indonesia terlebih dahulu menjalani rangkaian familiarisasi. Pelatihan dilakukan di Indonesia selama kurang lebih satu bulan, kemudian dilanjutkan di pangkalan Angkatan Laut Italia di Taranto selama sekitar satu bulan.
Setelah rangkaian pelatihan tersebut, mereka menjalani pelayaran dari Italia menuju Indonesia selama sekitar 25 hari. Jika dihitung sejak pelatihan awal, proses yang dijalani Fuad dan kru berlangsung kurang lebih tiga bulan.
"Jadi konsepnya ini adalah familiarisasi, kami melaksanakan pelatihan di Indonesia dulu, di Kolat Koarmada II kurang lebih selama 1 bulan. Kemudian kami berangkat ke Italia ke Taranto, ya, di pangkalan Angkatan Laut Italia di Taranto, kami melaksanakan familiarisasi kurang lebih 1 bulan lagi dan kami berlayar kurang lebih sekitar 25 hari. Jadi ya kurang lebih selama total kurang lebih 3 bulan," kata Fuad.
Selama pelayaran, Fuad tidak hanya menjalankan peran sebagai orang yang belajar mengoperasikan kapal. Kru Indonesia juga langsung mengawaki kapal bersama kru Italia.
Menurut Fuad, pola tersebut dilakukan dengan konsep joint crew, yakni gabungan kru Indonesia dan Italia. Personel Indonesia dan Italia menjalankan tugas sehari-hari sesuai bidang, departemen, dan divisi masing-masing.
"Pada dasarnya kami belajar, kami melaksanakan familiarisasi bersama atau kami melaksanakan familiarisasi tersebut kepada kru Italia langsung. Jadi sambil kami belajar, kami mengawaki. Jadi tidak cuma kami belajar, tapi kami juga mengawaki kapal ini ee menempati penjagaan, memasak, bekerja setiap hari sesuai bidang, departemen, divisinya masing-masing,"katanya.
Sempat Terkendala Bahasa
Bekerja bersama kru dari dua negara membuat komunikasi menjadi salah satu tantangan pada awal pelayaran. Fuad menyebut bahasa menjadi kendala yang harus mereka hadapi.
Namun, kru Indonesia dan Italia menggunakan teknologi untuk membantu komunikasi selama berada di kapal.
"Kesulitan pada awalnya selalu kita dihadapkan sama bahasa, komunikasi. Namun demikian, ya kita pakai teknologi lah, ada Google Translate segala macam," ujar Fuad.
Menurut dia, kemampuan prajurit Indonesia dalam beradaptasi membuat komunikasi antara kedua kru berjalan dengan baik. Seiring perjalanan, hubungan mereka pun semakin dekat.
"Saya akui bahwa prajurit yang saya bawa ini kreatif, jadi bisa menjalin komunikasi ini dengan baik dengan prajurit kru Italia. Jadi kita ini berlayar bersama itu sudah seperti keluarga," ungkapnya.
Meski bekerja dalam satu kapal, Fuad menegaskan kru Indonesia dan Italia tetap menghormati aturan serta tradisi masing-masing angkatan laut.
"Kita respek dengan aturan dan tradisi masing-masing. Namun untuk misi ini, kita ini sama antara misi yang dibawa oleh Angkatan Laut Italia dan Indonesia sama, membawa kapal ini aman selamat sampai tiba di Indonesia," tuturnya.
Melewati Laut Merah
Perjalanan Giuseppe Garibaldi juga melewati sejumlah wilayah yang menjadi perhatian dalam aspek keamanan maritim, yakni Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, hingga Teluk Aden.
Fuad mengatakan saat melewati kawasan tersebut, Giuseppe Garibaldi dikawal kapal fregat Italia ITS Carlo Bergamini. Ia menyebut kawasan tersebut menjadi bagian dari perhatian terkait keamanan maritim.
"Kita ketahui bersama bahwa di Laut Merah, di Laut Merah, menjadi concern terkait dengan security issue, ya. Namun demikian kemarin kita melewati Laut Merah, mulai dari Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, sampai dengan Teluk Aden, ini menjadi tiga, tiga perairan yang menjadi concern di bidang di terkait security maritim," katanya.
Fuad menjelaskan pengawalan tersebut berkaitan dengan operasi EUNAVFOR ASPIDES yang menjalankan pengawalan terhadap kapal-kapal niaga milik negara-negara Eropa saat melewati kawasan tersebut.
"ITS Giuseppe Garibaldi dikawal oleh ITS Carlo Bergamini. Jadi di perairan tersebut ada operasi UNAFOR, operasi dari Angkatan bersenjata itu Angkatan Bersenjata gabungan dari Eropa, EUNAVFOR ASPIDES namanya, Aspides Operation," ujarnya.
Selain pengawalan di kawasan tersebut, Giuseppe Garibaldi juga sempat melakukan sailing pass dengan kapal perang Italia dalam perjalanan dari Taranto menuju Indonesia.
"Kami melaksanakan sailing pass tiga kali dengan kapal ITS kapal perangnya, kapal fregatnya Italia, baik di Laut Mediterania kami melaksanakan dua kali, saat itu kami dengan ada ITS Carabinieri dan ITS Tonnerre, dan terakhir ITS Carlo Bergamini," kata Fuad.
Tak Ada Kendala Mesin
Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 hari, Fuad memastikan tidak ada kendala terkait mesin selama pelayaran.
Menurut Fuad, kapal tersebut memiliki karakter tersendiri. Ia menyebut Giuseppe Garibaldi sebagai kapal yang klasik, unik, tidak memiliki kapal kembar, serta memiliki tampilan yang menurutnya cantik.
"Kapal ini, saya tidak mau bilang kapal ini tua, kapal ini klasik, kapal ini unik, tidak ada kembarannya, dan kapal ini cantik, beautiful, ya,"tuturnya.
Meski begitu, Fuad menyebut personel Indonesia masih harus beradaptasi dengan peralatan baru yang ada di kapal. Ia menilai kru yang dibawanya mampu mempelajari peralatan tersebut dengan baik.
"Namanya adaptasi terhadap peralatan baru yang mungkin belum pernah diawaki oleh personel sebelumnya, butuh adaptasi, Pak," katanya.
Tak Terbayang Jadi Calon Komandan Kapal Induk
Bagi Fuad, pengalaman membawa Giuseppe Garibaldi ke Indonesia memiliki makna pribadi. Saat pertama menjadi prajurit, Fuad mengaku tidak pernah membayangkan Indonesia akan memiliki kapal induk yang kemudian ia dipercaya untuk menjadi calon komandan.
"Mungkin tidak terbayang pada saat itu saya Letda Angkatan Laut punya kapal induk," ujarnya.
Perjalanan kariernya pun akhirnya membawa Fuad ke posisi yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Kini, ia dipercaya menjadi calon komandan kapal yang akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya.
"Dulu belum terbayang juga saya sampai ke step komandan, dan hari ini ataupun pada saat ini, kita kita mengalami milestone ini, kita menjumpai sejarah yang luar biasa, Indonesia punya kapal induk, dan sangat tidak terbayangkan saya diberikan kepercayaan, kehormatan dari Angkatan Laut untuk jadi calon pertama komandan kapal induk," kata Fuad.
Kapal tersebut nantinya akan resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. Fuad menyebut dirinya dan kru siap menjalankan misi setelah kapal diresmikan.
"Untuk misi apa pun saya siap. Mission first, safety first, selama itu diberikan misi atau tugas apa pun kepada kita, ya, tujuan kita adalah mensukseskan misi dan faktor keselamatan jadi nomor satu," ujarnya.
Setelah peresmian, Fuad mengatakan kru akan terus berlatih agar siap mengoperasikan kapal. Ia juga menyebut misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana menjadi salah satu misi yang dipersiapkan.
"Saya sangat optimis bahwa kita bisa bisa melaksanakan retrofit kapal ini dengan baik, kemudian sesuai dengan harapan Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, bahwa ini akan digunakan untuk misi kemanusiaan, misi penanggulangan bencana," katanya.
Fuad pun menegaskan kesiapan dirinya dan kru untuk menjalankan tugas yang diberikan setelah kapal tersebut resmi menjadi KRI Sriwijaya.
"Saya beserta kru akan berlatih untuk semaksimal mungkin bisa siap operasi dalam waktu segera, dan kemudian kita juga akan mission ready anytime, ya, kita harus siap kapal apa pun diberikan oleh misi apa pun diberikan oleh pimpinan, ya. Apakah itu misi kemanusiaan, penanggulangan bencana ataupun yang lain, kita akan siap," pungkasnya.
