4 SMA Unggul Garuda Baru Mulai Beroperasi Juli, 307 Siswa Terbaik Lolos

Pemerintah tengah membangun SMA Unggul Garuda Baru di empat lokasi berbeda. Langkah ini diambil dalam rangka menyiapkan generasi muda unggul di bidang sains dan teknologi.
Masing-masing sekolah dibangun di Belitung Timur, Timor Tengah Selatan, Konawe Selatan, dan Bulungan. Pemerintah menilai, pembangunan fisik sekolah menunjukkan perkembangan signifikan, bahkan melampaui target yang ditetapkan.
“Saat ini pemerintah tengah membangun empat Sekolah Unggul Garuda Baru yang berlokasi di wilayah yang selama ini minim akses pendidikan unggul,” ujar Plt Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kurnia Ramadhana, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/6).
“Hingga 21 Juni 2026, progres pembangunan seluruh lokasi menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan seluruhnya berada di atas target yang telah ditetapkan,” lanjutnya.
Bersamaan dengan pembangunan fisik, pemerintah juga menyiapkan operasional keempat sekolah dengan melaksanakan rekrutmen kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta guru dan tenaga kependidikan (GTK).
Menurut data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), telah direkrut 12 orang yang terdiri dari 3 kepala sekolah, 1 pelaksana tugas kepala sekolah, dan 8 wakil kepala sekolah.
Di bidang tenaga pendidik, telah direkrut 42 guru ASN dan PPPK. Ada juga 11 guru pendidikan agama yang dalam proses pengajuan mutasi atau penugasan dari instansi asal atau dari Kemendiktisaintek.
Sementara itu, kebutuhan tenaga kependidikan lainnya dipenuhi melalui mekanisme penugasan dari perguruan tinggi dan pemerintah daerah setempat. Untuk mendukung operasional tujuh sekolah ke depan, pemerintah juga menyiapkan rekrutmen sekitar 459 CPNS guru dan tenaga kependidikan.
Kurnia pun menyatakan SMA Unggul Garuda Baru rencananya siap beroperasi untuk kegiatan belajar mengajar untuk tahun ajaran baru 2026/2027 pada Juli ini.
“Jika dilihat dari progres pembangunan fisik serta rekrutmen kepsek, wakepsek, serta GTK hingga Juni ini, keempat SMA Garuda Unggul Baru akan siap menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran 2026/2027,” katanya.
Adapun rekrutmen peserta didik baru SMA Unggul Garuda Baru telah dibuka pada 5 Februari 2026. Dalam proses seleksi, tiga komponen yang jadi penilaian yakni akademik sebesar 50 persen, latar belakang ekonomi 30 persen, dan asal geografis 20 persen.
Kurnia menyebut antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat tinggi. Total ada 3.935 peserta didik dari berbagai daerah yang mendaftar dan mengikuti seleksi tahap pertama.
Dari jumlah tersebut, 1.632 peserta lolos seleksi tahap pertama, 640 peserta lolos tahap kedua, dan 320 peserta lolos tahap ketiga.
“Akhirnya 307 siswa terbaik dinyatakan lolos sebagai peserta didik angkatan pertama Sekolah Unggul Garuda Baru tahun ajaran 2026/2027,” ujar Kurnia.
Siswa SMA Unggul Garuda Transformasi Diterima di Kampus Top Dunia Naik 150%
Di sisi lain, saat ini pemerintah juga tengah menjalankan program SMA Unggul Garuda Transformasi. Ada 12 SMA/MA pilihan yang dibina oleh pemerintah.
Kedua belas sekolah yang jadi pionir ini tersebar dari Aceh hingga Papua Barat Daya. Di antaranya MAN Insan Cendekia Gorontalo, SMA Pradita Dirgantara, SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh, dan SMA Averos Sorong.
Kurnia mengatakan, jumlah siswa yang diterima di 100 perguruan tinggi top dunia meningkat hingga 150 persen dalam satu tahun.
“Di 12 SMA Unggul Garuda Transformasi yang ditetapkan tahun 2025, persentase jumlah siswa yang diterima di top 100 universities naik mencapai 150 persen,” kata Kurnia.
Menurut catatan Kemdiktisaintek, pada 2025 hanya 132 siswa yang diterima di 100 universitas top dunia. Namun, pada 2026 jumlahnya naik signifikan.
“Kini, jumlahnya naik menjadi 330 siswa pada tahun 2026 atau setahun setelah sekolah-sekolah ini dipilih dan dibina sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi,” ungkap Kurnia.
SMA Unggul Garuda Transformasi ini merupakan satu kesatuan ekosistem dengan SMA Unggul Garuda Baru yang juga diselenggarakan Kemendiktisaintek.
Bedanya, SMA Unggul Garuda Baru dibangun dan dikelola dari awal oleh pemerintah, sementara SMA Unggul Garuda Transformasi merupakan SMA/MA yang dipilih dan dibina demi mengoptimalkan potensi peserta didik menuju perguruan tinggi terbaik dunia.
Setiap SMA Unggul Garuda Transformasi mendapatkan pengayaan bagi peserta didik, guru, dan manajemen sekolah selama dua tahun. Selain itu, sekolah-sekolah ini juga berperan sebagai hub pendampingan dan penguatan kapasitas bagi puluhan SMA dan MA di wilayah sekitarnya.
Pada 2026, pemerintah pun kembali menetapkan 30 SMA Unggul Garuda Transformasi sehingga jumlahnya bertambah menjadi 42 sekolah. Pemerintah menargetkan jumlah sekolah yang mengikuti program ini mencapai 80 SMA atau MA pada 2029.
Kurnia menjelaskan program pengayaan yang didapatkan SMA Unggul Garuda Transformasi mencakup penguatan pembelajaran di bidang STEM, pelatihan internasional bagi guru dan konselor termasuk sertifikasi SAT dan IELTS, pendampingan riset kolaboratif, pelatihan penulisan recommendation letter, serta fasilitasi pendaftaran peserta didik ke perguruan tinggi terbaik dunia.
“Program Sekolah Unggul Garuda hadir untuk memastikan bahwa talenta terbaik bangsa dapat tumbuh tanpa dibatasi oleh kondisi ekonomi ataupun asal geografis,” kata Kurnia.
Pemerintah menegaskan program Sekolah Unggul Garuda merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi Indonesia yang unggul, kompetitif, dan siap memimpin bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
