5 Bayi Orang Utan Ditemukan di India, WALHI Soroti Perdagangan Satwa Ilegal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengasuh bercengkerama dengan individu orang utan (Pongo pygmaeus) di Sekolah Orang Utan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026).  Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengasuh bercengkerama dengan individu orang utan (Pongo pygmaeus) di Sekolah Orang Utan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Lima bayi orang utan ditemukan di kawasan hutan di Distrik Balasore, Negara Bagian Odisha, India, oleh petugas kehutanan setempat. Temuan ini mengagetkan mengingat India bukanlah habitat orang utan.

Temuan tersebut diduga berkaitan dengan penyelundupan satwa dari Indonesia, tempat populasi terbesar orang utan berada.

Kepala Departemen Komunikasi Strategis Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Dana Tarigan, menilai temuan tersebut menunjukkan masih lemahnya pengawasan terhadap tumbuhan dan satwa dilindungi di Indonesia.

instagram embed

"Keberadaan orang utan di India menunjukkan pengawasan terhadap tumbuhan dan satwa dilindungi di Indonesia masih sangat lemah," kata Dana kepada kumparan, Jumat (11/9).

Dana mengatakan, orang utan merupakan satwa yang habitat alaminya berada di Indonesia dan sebagian Malaysia. Karena itu, menurut dia, keberadaan orang utan di India patut diduga sebagai hasil perdagangan satwa ilegal.

"Orang utan hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia, dan India sama sekali bukan habitat orang utan. Jadi bisa disimpulkan bahwa keberadaan satwa dilindungi tersebut adalah ilegal," ujarnya.

Dia menilai kasus tersebut menunjukkan perdagangan satwa liar masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Menurutnya, pemerintah dan aparat penegak hukum perlu meningkatkan upaya untuk mencegah penyelundupan satwa dilindungi.

Wildlife trafficking (perdagangan ilegal satwa liar) masih sangat tinggi di Indonesia dan belum ada keseriusan pemerintah dan aparat keamanan untuk menghentikannya. Hal ini menjadi ancaman serius bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia,” tegas Dana.

Dia juga meminta pemerintah segera berkoordinasi dengan otoritas India untuk memulangkan lima orang utan tersebut ke habitat yang sesuai.

“Pemerintah harus segera mengambil kembali orang utan yang diselundupkan tersebut, melakukan tracking untuk menangkap pelakunya, termasuk jika ada indikasi keterlibatan pejabat atau aparat keamanan di pemerintahan,” ujarnya.

Menurut Dana, penyelidikan juga perlu melibatkan aparat penegak hukum internasional karena kasus tersebut diduga merupakan kejahatan lintas negara.

“Penyelidikan sebaiknya bekerja bersama dengan aparat internasional, karena ini adalah kejahatan lintas negara yang terus berulang terjadi. Tanpa penindakan hukum, kejadian ini akan terjadi lagi ke depannya,” tuturnya.

Tiga individu orang utan (Pongo pygmaeus) memakan buah-buahan di Sekolah Orang Utan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Terpisah, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kemenhut, Ahmad Munawir, mengatakan berdasarkan pengamatan awal terhadap ciri fisik dan morfologi, kelima orang utan itu diduga berasal dari Pulau Sumatera. Namun, identifikasi tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan DNA.

India Menyelidiki

Sebelumnya, petugas kehutanan India menyelamatkan lima bayi orang utan di kawasan hutan wilayah timur India pada Selasa (8/9). Menteri Lingkungan Odisha, Ram Singh Khuntia, mengatakan pihak berwenang menduga orang utan tersebut diselundupkan ke India dari Asia Tenggara.

Kelima orang utan itu ditemukan saat petugas Departemen Kehutanan melakukan patroli di wilayah Udaipur, di bawah Jaleswar Range, Distrik Balasore.

Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar atau Wildlife Crime Control Bureau India akan menyelidiki kasus tersebut. Otoritas India juga menduga ada jaringan internasional yang terlibat.

Saat ini, kelima orang utan tersebut ditempatkan dalam karantina di sebuah taman zoologi di Odisha.