68 Ribu Kasus ISPA Terkait Abu Anak Krakatau, Kemenkes Siagakan 830 Puskesmas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu 6/9/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu 6/9/2026). Foto: kumparan

Kementerian Kesehatan mencatat 68.919 kasus ISPA di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengatakan angka tersebut merupakan kasus ISPA secara kumulatif.

“Situasi ISPA pada wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Krakatau, laporan kasusnya terkini adalah ada 68.919 kumulatif kasus ISPA-nya,” ucap Widyawati dalam agenda konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Kamis (10/9).

Rinciannya, dari 68.919 kasus ISPA secara kumulatif, sebanyak 14.439 kasus terjadi pada kelompok usia 0-5 tahun, sedangkan 54.480 kasus pada usia di atas 5 tahun.

Sementara itu, kasus ISPA per 8 September 2026 tercatat sebanyak 17.780 kasus.

Untuk menangani dampak kesehatan tersebut, Kemenkes menyiagakan 830 puskesmas dan 413 rumah sakit di wilayah terdampak. Layanan 119 juga disiagakan di kabupaten/kota terdampak.

“Untuk penanganan dan pemantauan, siagakan 119 di kabupaten/kota dan siapkan pos pelayanan sebanyak 830 puskesmas, menyiapkan 413 rumah sakit,” jelas Widyawati.

Selain itu, Kemenkes menyalurkan bantuan berupa oksigen konsentrator, masker, obat-obatan, dan bahan medis habis pakai (BMHP). Sebanyak 10 oksigen konsentrator dikirim ke Lampung dan 20 lainnya ke Banten.

Widyawati pun mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk melindungi diri dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

“Imbauan kami dari hari Minggu adalah gunakan masker, lindungi diri Anda dari abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Kalau tidak perlu sekali, jangan keluar rumah,” tegasnya.