AFFI Nilai Jogja Siap Punya Studio Film Bertaraf Internasional

Ketua Asosiasi Fixer Film Indonesia (AFFI), Viko Amanda, menilai Yogyakarta siap memiliki studio film bertaraf internasional. Menurutnya, daerah ini telah memiliki ekosistem perfilman yang kuat, mulai dari sumber daya manusia, penyedia peralatan produksi, hingga ragam lokasi syuting yang mendukung kebutuhan produksi film.
Viko mengatakan kebutuhan studio film bertaraf internasional semakin mendesak karena sejumlah rumah produksi, termasuk Netflix Indonesia, masih kesulitan mendapatkan studio indoor atau soundstage yang memenuhi standar.
Akibatnya, sebagian produksi terpaksa menggunakan fasilitas yang belum sesuai standar atau berpindah ke daerah lain.
“Teman-teman kami di Netflix, ketika mau berproduksi untuk kelas nasional saja, itu nyari studio indoor, soundstage yang one stop, bisa jadi berapa set gitu ya, itu aja kesulitan. Harus memakai yang ada, bukan yang standar. Baik secara size maupun kualitas. Itu baru Netflix yang Indonesia,” kata Viko saat ditemui Pandangan Jogja di DPRD DIY dalam pembahasan Raperda Perfilman, Rabu (1/7).
Menurut Viko, Indonesia masih memiliki keterbatasan studio film yang benar-benar memenuhi standar produksi layar lebar. Ia menyebut studio yang memenuhi standar baru ada di Batam, padahal Yogyakarta dinilai lebih siap dari sisi ekosistem perfilman.
“Sementara di Jakarta aja, studio cuma buat reality show, TV station, TV program lah yang kayak gitu. Itu masih bisa iklan. Tapi kalau ngomongin film yang proper, yang saya tahu baru ada di Batam, padahal secara ekosistem itu lebih siap Jogja. Dengan semua variasi, baik lokasi dan SDM-nya. Artinya kita lebih komplit dibanding tempat lain,” ujarnya.
Viko menjelaskan Yogyakarta memiliki hampir seluruh elemen pendukung industri film, mulai dari sumber daya manusia, penyedia peralatan produksi, hingga layanan pascaproduksi.
Menurutnya, yang masih dibutuhkan adalah studio film, komisi film, dan dukungan pemerintah melalui berbagai insentif agar seluruh proses produksi dapat dilakukan di Yogyakarta.
“Elemen-elemen SDM, SDA, semuanya ada. Rental alat ada, post pro ada, kreatif banyak. Intinya kita sudah 80 persen kita udah punya. Tinggal lokasi sama studio dan komisi film, dukungan dalam bentuk insentif kayak pengembalian pajak atau bantuan apa,” ujarnya.
Ia menambahkan keberadaan studio film di Yogyakarta akan membuat proses produksi lebih efisien. Selama ini, sejumlah produksi melakukan pengambilan gambar luar ruang di Yogyakarta, tetapi harus berpindah ke Batam untuk menyelesaikan adegan yang memerlukan studio.
