Konten dari Pengguna

Agama, Bahasa, dan Kekuasaan Simbolik di Nusantara Kolonial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Brigitta Vaness tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ernst Steller dalam buku "Kupu-Kupu Boven Digoel," dokumentasi pribadi Alicia Schrikker, 2018.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ernst Steller dalam buku "Kupu-Kupu Boven Digoel," dokumentasi pribadi Alicia Schrikker, 2018.

Sejarah Kolonialisme: Kisah Ernst Steller di Sangihe dengan Teori Gramsci dan Bourdieu

Sejarah penjajahan sering dibayangkan sebagai kekuasaan senjata dan benteng pertahanan. Pada kenyataannya, kekuasaan yang bertahan lama membutuhkan hal yang lebih dekat dengan ikatan moral masyarakat. Salah satunya, agama bisa menjadi senjata kolonialisme untuk mendapat penerimaan dari orang-orang yang dikuasai. Alicia Schrikker dalam Kupu-Kupu Boven Digoel menelusuri kolonialisme lewat secuil kisah-kisah orang biasa, sehingga kita bisa melihat bagaimana kekuasaan itu bekerja dalam hubungan sehari-hari. Esai ini bertanya bagaimana agama dan bahasa membantu pendatang Eropa memperoleh legitimasi politik dan kepercayaan masyarakat lokal. Proses itu dapat dibaca melalui konsep hegemoni Gramsci dan kekuasaan simbolik Bourdieu, dan kerja seorang misionaris, Ernst Steller di Sangihe menjadi ilustrasi yang tajam.

Antonio Gramsci memakai konsep hegemoni untuk menjelaskan bahwa dominasi berjalan lewat dua jalur, yaitu paksaan dan persetujuan. Persetujuan diproduksi di ruang masyarakat sipil seperti gereja, sekolah, dan organisasi sosial, tempat pandangan dunia kelompok penguasa ditanamkan sampai dapat diterima akal sehat. Gramsci juga menyoroti peran intelektual, yaitu orang-orang yang menjalankan fungsi sosial dan politik kelompok dominan di lapangan. Dalam analisisnya, rohaniwan termasuk intelektual tradisional yang otoritasnya terasa netral dan luhur.

Pierre Bourdieu melengkapi Gramsci dengan melihat mekanisme yang lebih mikro. Kekuasaan simbolik bekerja ketika hierarki dianggap wajar dan sah oleh pihak yang ada di posisi bawah, karena mereka tidak menyadarinya sebagai dominasi. Bourdieu menyebut proses ini kekerasan simbolik. Bahasa menjadi arena penting karena punya nilai di pasar sosial. Kefasihan dalam bahasa yang diakui otoritas adalah modal linguistik yang membuka akses pada status dan sumber daya. Selain itu, pendidikan dan disiplin sehari-hari membentuk habitus, yaitu kebiasaan dan cara menilai yang tertanam pada tubuh dan cara berpikir.

Gramsci membantu kita melihat lembaga dan aliansi sosial yang memproduksi persetujuan, sementara Bourdieu membantu kita melihat bagaimana nilai-nilai itu bekerja lewat bahasa dan kebiasaan.

Sumber: Barta1.com | Rumah Zending E.T. Steller di Sangihe

Ernst Traugott Steller adalah misionaris Jerman yang datang lewat jalur zendeling tukang, yaitu tenaga misi berlatar keterampilan kerja yang dikirim untuk mengisi kekosongan di daerah sulit. Ada tiga aspek kerjanya yang relevan.

Bahasa sebagai modal. Pekabaran Injil di Sangihe dan Talaud dilakukan dalam bahasa daerah, dengan Alkitab dan lagu gereja diterjemahkan ke dialek Manganitu yang dianggap paling halus di antara dialek Sangihe. Steller juga menyusun kamus Sangihe-Belanda bersama Aebersold. Dengan kerangka Bourdieu, pemilihan satu dialek sebagai bahasa gereja mengangkat nilai modal linguistik dialek itu dan penuturnya. Siapa pun yang fasih dalam bahasa gereja punya akses pada jemaat, sekolah, dan jabatan. Kamus dan catatan kebahasaan juga membuat masyarakat lebih terbaca oleh pihak luar. Bernard Cohn menyebut pengetahuan semacam ini sebagai pengetahuan kolonial, yang berguna untuk memahami dan memerintah.

Kebun Gunung sebagai pabrik pemimpin. Menurut ulasan sejarah zending di Sulawesi Utara, Steller membuka hutan di pegunungan atas Manganitu dan lahirlah perkebunan "Gunung." Perkebunan itu menghasilkan pendapatan tambahan, tetapi juga menjadi dasar seluruh karya zending karena menyemaikan tenaga pemimpin bagi gereja dan masyarakat luas, sesuai cita-cita pietis Steller untuk merombak seluruh pola hidup masyarakat Sangir. Dalam kacamata Gramsci, lembaga seperti ini memproduksi lapisan perantara yang menjalankan fungsi hegemoni dari dalam masyarakat sendiri. Dalam kacamata Bourdieu, kerja, disiplin, dan pendidikan di kebun itu menanamkan habitus baru. Persetujuan lahir dari manfaat nyata seperti pekerjaan, keterampilan, dan jenjang kepemimpinan, sehingga pandangan dunia baru terasa masuk akal bagi mereka yang menjalaninya.

Kedekatan sehari-hari. Pada tahun-tahun awal para misionaris hidup sangat sulit, terutama di Talaud, dan terpaksa mengikuti pola hidup penduduk, termasuk soal makanan dan menikahi perempuan setempat. Legitimasi juga dibangun lewat kedekatan sehari-hari, di samping otoritas dari atas. Hegemoni yang paling efektif terlihat ramah, karena wujudnya sesama penghuni kampung yang membawa kabar dan bantuan.

Perlu kita ingat bahwa peran masyarakat lokal bukanlah penerima pasif. Jean dan John Comaroff, yang juga memakai kerangka Gramsci untuk misi di Afrika Selatan, menunjukkan bahwa penerimaan agama baru selalu disertai penafsiran ulang oleh warga setempat. Di Sangihe, “Kantari” adalah contohnya. Nyanyian modern ini berakar dari perjumpaan dengan bangsa Spanyol dan Portugis, dan namanya berasal dari kata Spanyol untuk bernyanyi, namun kemudian tumbuh menjadi seni milik masyarakat Sangihe sendiri dan mengubah bentuk sasambo, tradisi lisan yang lebih tua.

Catatan kedua, zendeling tidak identik dengan negara kolonial. Misi, pemerintah, dan perusahaan dagang punya kepentingan yang berlainan, dan Steller sendiri tampak digerakkan oleh cita-cita pietis, tidak semata oleh ambisi politik. Karena itu, klaim bahwa agama dipakai sebagai alat politik perlu diuji per kasus. Di sinilah pendekatan mikrohistori Schrikker berguna, sebab ia memperlihatkan hubungan kuasa lewat kisah individu, bukan lewat skema besar yang seragam.

Gramsci menjelaskan bagaimana persetujuan diproduksi lewat lembaga dan lapisan perantara, sedangkan Bourdieu menjelaskan bagaimana bahasa dan kebiasaan membuat tatanan itu diterima akal sehat masyarakat. Kasus Steller di Sangihe, dengan penerjemahan ke dialek Manganitu, kamus, dan perkebunan Gunung sebagai tempat pembentukan pemimpin, memperlihatkan bagaimana kepercayaan dan legitimasi dapat tumbuh dari kerja yang tampak sosial dan religius, dengan konsekuensi politik yang panjang. Pada saat yang sama, kantari dan sasambo mengingatkan bahwa masyarakat lokal ikut menentukan bentuk akhir dari perjumpaan itu.