Ahli Ungkap Penyebab Gempa 5,9 M di Kepulauan Seribu Terasa hingga Sumatera

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gempa. Foto: leolintang/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gempa. Foto: leolintang/Shutterstock

Ahli gempa dan geofisika dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengungkap penyebab gempa berkekuatan 5,9 magnitudo yang mengguncang Kepulauan Seribu pada Sabtu (12/9). Menurutnya, gempa tersebut bukan disebabkan aktivitas sesar aktif di wilayah dangkal.

Daryono menjelaskan gempa yang terjadi pada pukul 04.23 WIB itu merupakan contoh klasik fenomena gempa bumi hiposenter dalam atau deep focus earthquake. Gempa jenis ini terjadi di kedalaman ratusan kilometer di bawah permukaan bumi.

Daryono mengatakan gempa tersebut dipicu oleh patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.

"Peristiwa gempa bumi yang terjadi pada Sabtu pagi, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB merupakan contoh klasik dari fenomena gempa bumi hiposenter dalam (deep focus earthquake)," jelas Daryono dalam unggahannya di X, Sabtu (12/9).

Ia menerangkan, sumber gempa berada pada zona Benioff, yakni wilayah tempat lempeng yang menunjam ke bawah lempeng lainnya. Dalam kasus gempa Kepulauan Seribu ini, batuan yang mengalami patahan berada pada kedalaman sekitar 358 kilometer berdasarkan analisis Daryono.

"Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa (Zona Benioff) hingga kedalaman 358 km. Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab," ungkapnya.

Dengan demikian, meski lokasi episenter gempa berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, sumber gempanya berada jauh di bawah permukaan. Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa pola guncangan gempa terasa cukup luas.

"Meskipun episenter (pusat gempa di permukaan) berada di wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran gempa justru dirasakan lebih awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi. Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan,” jelasnya.

Dr. Daryono, ahli kebencanaan Foto: IG/@daryono_edukator_kebencanaan

Getaran Meluas, tapi Tak Merusak

Kedalaman sumber gempa yang mencapai lebih dari 300 kilometer juga membuat getarannya dapat dirasakan di wilayah yang sangat luas. Namun, luasnya wilayah yang merasakan gempa tidak berarti berpotensi menyebabkan kerusakan besar.

Daryono menjelaskan, gempa deep focus membuat gelombang seismik mengalami pelemahan secara bertahap. Pada saat mencapai permukaan, sebagian energi gempa telah terdisipasi sehingga potensi kerusakan struktural menjadi rendah.

"Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas (dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan). Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural,” kata Daryono.

Selain itu, Daryono menjelaskan gempa dengan hiposenter sangat dalam seperti ini juga cenderung tidak diikuti banyak gempa susulan.

"Karena gempa terjadi pada batuan litoster samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama. Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan (aftershocks),” tuturnya.

Sebelumnya, BMKG mencatat gempa magnitudo 5,9 itu terasa hingga ke sejumlah wilayah. Bahkan, getarannya terasa hingga Bengkulu, Padang, dan Malang.

Adapun gempa yang terjadi pada pukul 04.23 WIB ini terjadi di laut 49 km barat laut Jakarta atau 6 kilometer tenggara Kepulauan Seribu.