AI: Dalang Dibalik Konten Viral?

Penulis dan mahasiswa yang senang mengamati fenomena sosial, budaya, dan teknologi yang berkembang di era digital.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rista Aristiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kenapa sih FYP TikTok gue isinya masak semua?”
“Lah, gue malah isinya sepak bola dari pagi sampai malam.”
Percakapan seperti itu mungkin sering kita dengar. Banyak orang menganggap kemunculan konten di media sosial hanyalah kebetulan. Padahal, di balik layar, ada sistem yang bekerja setiap detik untuk menentukan apa yang kita lihat, sukai, bahkan mungkin percayai. Sistem itu adalah Artificial Intelligence (AI).
Pernah nggak kamu mencari sebuah produk di internet, lalu beberapa menit kemudian iklannya muncul di Instagram, YouTube, bahkan di website yang sedang kamu buka?Fenomena ini bukan kebetulan. AI sedang bekerja mengumpulkan data, mempelajari kebiasaan pengguna, lalu menyajikan informasi yang dianggap paling menarik bagi masing-masing individu.
AI merupakan teknologi yang memungkinkan komputer belajar dari data dan mengenali pola perilaku manusia. Dalam dunia digital, AI tidak hanya digunakan untuk menampilkan rekomendasi konten, tetapi juga untuk membuat konten itu sendiri. Saat ini banyak kreator dan perusahaan menggunakan tools seperti ChatGPT untuk menulis naskah, Canva AI untuk membuat desain, Midjourney dan DALL-E untuk menghasilkan gambar, Runway untuk mengedit video, serta ElevenLabs untuk membuat suara berbasis AI yang terdengar alami.
Teknologi ini dimanfaatkan oleh banyak pihak. Kreator konten menggunakannya untuk mempercepat proses produksi. Perusahaan memanfaatkannya untuk memahami perilaku konsumen. Digital marketer menggunakannya untuk membuat iklan yang lebih tepat sasaran. Bahkan konsumen yang hanya sekadar membuka media sosial pun sebenarnya ikut terlibat dalam ekosistem AI karena setiap aktivitas digital mereka menjadi data yang dipelajari oleh sistem.
Di era ketika penggunaan media sosial terus meningkat, AI menjadi semakin penting. Setiap hari jutaan konten baru diunggah ke internet. Tanpa bantuan AI, platform digital akan kesulitan memilih konten mana yang relevan bagi setiap pengguna. Karena itulah AI digunakan untuk menyaring, mengurutkan, dan merekomendasikan informasi dalam jumlah yang sangat besar.
Masalahnya, proses penyaringan ini membuat AI punya pengaruh besar terhadap informasi yang kita konsumsi setiap hari.Konten yang sering kita tonton akan semakin sering muncul. Topik yang kita sukai akan terus direkomendasikan. Akibatnya, kita cenderung berada dalam “gelembung informasi” yang berisi pandangan serupa dengan apa yang sudah kita percayai sebelumnya.
Menurut saya, di sinilah letak kekuatan sekaligus risiko terbesar AI. Kita merasa bebas memilih informasi, padahal sebagian pilihan itu telah lebih dulu disusun oleh algoritma. AI memang tidak memaksa seseorang untuk menonton atau membaca sesuatu, tetapi AI memiliki kemampuan luar biasa untuk mengarahkan perhatian pengguna pada konten tertentu. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara seseorang memahami suatu isu, produk, bahkan gaya hidup.
Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa AI juga membawa banyak manfaat. Dalam dunia periklanan, AI memungkinkan perusahaan menampilkan iklan yang lebih relevan sehingga anggaran pemasaran menjadi lebih efisien. Kreator konten dapat menghasilkan ide lebih cepat dan fokus pada pengembangan kreativitas. Bisnis kecil yang sebelumnya memiliki keterbatasan sumber daya kini dapat memanfaatkan AI untuk bersaing dengan perusahaan yang lebih besar.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Saat ini semakin banyak konten yang dibuat secara otomatis tanpa proses verifikasi yang memadai. Informasi yang salah dapat tersebar dengan cepat. Gambar hasil AI dapat terlihat sangat meyakinkan meskipun tidak nyata. Video deepfake dan suara sintetis juga semakin sulit dibedakan dari konten asli. Jika digunakan secara tidak bertanggung jawab, AI berpotensi menjadi alat penyebaran misinformasi yang sangat efektif.
Karena itu, penggunaan AI harus disertai kesadaran dan tanggung jawab. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti pemikiran kritis manusia. Setiap informasi yang dihasilkan perlu diperiksa kembali kebenarannya. Kreator konten juga perlu menjaga orisinalitas karya dan tidak hanya menyalin hasil yang diberikan oleh mesin.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah AI mengendalikan informasi digital mungkin nggak punya jawaban yang benar-benar hitam-putih. AI memang tidak mengambil keputusan sepenuhnya atas nama manusia. Namun, AI memiliki peran besar dalam menentukan konten mana yang muncul, mana yang tenggelam, dan mana yang berpotensi menjadi viral. Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan hanya menciptakan konten yang menarik, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang membantu manusia, bukan sebaliknya.
Mungkin karena itu, ketika sebuah konten tiba-tiba muncul berkali-kali di layar ponsel kita, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “Mengapa konten ini viral?”, melainkan juga “Siapa yang membuat saya terus melihatnya?”
#AI #KontenViral #MediaSosial #Algoritma #InformasiDigital #LiterasiDigital #Teknologi #DigitalMarketing #KecerdasanBuatan #Opini
