AI: Game Changer atau Hidden Threat? Ini POV Islam

Founder Bintang Ilmu Center, Purwakarta Pengamat Isu Aktual Kebangsaan
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi teknologi masa depan. AI membantu pelajar memahami materi, tenaga medis menganalisis citra kesehatan, dan peneliti mengolah data. Namun, ketika AI semakin canggih, muncul pertanyaan: apakah manusia mampu mengendalikan penggunaannya dan memastikan teknologi ini membawa manfaat?
Kekhawatiran terhadap perkembangan AI turut dibahas Geoffrey Hinton, pelopor kecerdasan buatan yang menerima Nobel Fisika 2024 bersama John Hopfield. Pada 28 September 2026, Hinton menjadi salah satu dari 22 penulis makalah What if automating AI R&D triggers an intelligence explosion? Makalah tersebut mengkaji kemungkinan percepatan drastis perkembangan AI ketika sistem AI semakin mampu mengotomatisasi penelitian dan pengembangan AI itu sendiri. Skenario ini berpotensi membuat kemajuan teknologi berlangsung lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Namun, hal tersebut merupakan kemungkinan yang perlu dikaji dan diantisipasi, bukan kepastian.
AI: Game Changer atau Hidden Threat?
AI menawarkan peluang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kualitas hidup. Dalam kesehatan, teknologi ini membantu analisis citra medis dan penelitian obat. Di dunia pendidikan, AI dapat menjadi alat bantu belajar, sedangkan otomatisasi berpotensi meningkatkan efisiensi kerja.
Namun, kemampuan yang sama juga dapat disalahgunakan. AI generatif mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan video yang tampak meyakinkan. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk penipuan, manipulasi informasi, dan penyebaran konten palsu. AI juga dapat menghasilkan informasi keliru yang terdengar meyakinkan sehingga hasilnya perlu diverifikasi.
Risiko lain muncul ketika AI digunakan untuk membantu serangan siber atau diberi kewenangan terlalu luas tanpa pengawasan memadai. Persoalannya bukan sekadar kecanggihan mesin, melainkan tujuan penggunaan, pihak yang mengendalikan, dan siapa yang bertanggung jawab atas dampaknya.
AI tidak otomatis menjadi berkah hanya karena teknologinya canggih. Manfaat dan mudaratnya turut ditentukan oleh pemikiran, akidah, tujuan, serta tindakan manusia yang menggunakannya. Teknologi yang sama dapat membantu pendidikan dan kesehatan, tetapi juga digunakan untuk menipu atau memanipulasi orang lain. Manusialah yang menentukan arah pemanfaatannya dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Di Balik Teknologi, Ada Kepentingan
AI mempelajari pola dari data untuk menghasilkan prediksi atau keluaran tertentu. Namun, kemampuan mengolah data tidak menjamin kebenaran. Hasilnya dipengaruhi kualitas data, rancangan model, proses pengujian, dan cara penerapan. Data yang tidak representatif dapat menghasilkan bias, sedangkan pengujian terbatas berisiko membuat kelemahan sistem luput terdeteksi.
Pengembangan AI juga berlangsung dalam persaingan ekonomi global. Teknologi mutakhir membutuhkan modal besar, infrastruktur komputasi, data, dan tenaga ahli. Penguasaan sumber daya tersebut memberikan keunggulan bagi perusahaan dan negara yang memilikinya.
Persaingan dapat mendorong inovasi, tetapi tekanan untuk mempercepat peluncuran produk berpotensi mengesampingkan keselamatan jika tidak diimbangi pengujian memadai. Manfaat ekonomi AI pun belum tentu terdistribusi merata. Pemilik teknologi dapat memperoleh keuntungan, sementara masyarakat menghadapi risiko kebocoran data, manipulasi informasi, dan perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Karena itu, persoalan AI juga berkaitan dengan siapa yang menguasai teknologi, siapa yang menikmati manfaat ekonominya, dan siapa yang menanggung risikonya. Kepentingan komersial tidak otomatis membuat teknologi merugikan, tetapi perlu diimbangi transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang melindungi masyarakat.
Islam Bukan Anti-Teknologi
Dalam perspektif Islam, akal merupakan karunia Allah Swt. yang memungkinkan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, kemampuan menciptakan teknologi harus disertai tanggung jawab dan diarahkan pada kemaslahatan.
Allah SWT berfirman:
ููููุง ุชููููู ู ูุง ููููุณู ูููู ุจููู ุนูููู ู
โDan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.โ (QS Al-Israโ: 36).
Ayat ini mengajarkan pentingnya pengetahuan dan kehati-hatian. Hasil AI tidak boleh dianggap sebagai kebenaran mutlak. Pengguna perlu memeriksa sumber dan memverifikasi informasi, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, hukum, dan kepentingan publik.
Dalam pemikiran Islam, dikenal pembedaan antara hadharah dan madaniyah. Hadharah berkaitan dengan pandangan hidup yang berlandaskan akidah atau ideologi tertentu, sedangkan madaniyah merujuk pada produk material hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan industri. Teknologi sebagai produk material dapat dimanfaatkan selama penggunaannya tidak bertentangan dengan syariat. Sementara itu, pandangan hidup, tujuan, dan perilaku yang menyertai penggunaannya harus dinilai berdasarkan akidah Islam.
Dengan kerangka tersebut, AI tidak perlu ditolak hanya karena dikembangkan di luar dunia Islam. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, kesehatan, penelitian, dan pelayanan masyarakat. Namun, penggunaannya untuk penipuan, fitnah, manipulasi, atau tindakan yang membahayakan orang lain tidak dapat dibenarkan.
Akidah menjadi landasan berpikir, sedangkan syariat menjadi pedoman bertindak. Bukan asal-usul teknologi yang menjadi satu-satunya ukuran, melainkan juga pemikiran yang mengarahkannya, tujuan penggunaannya, dan kesesuaiannya dengan syariat.
Allah SWT berfirman:
ุฅููููู ุฌูุงุนููู ููู ุงููุฃูุฑูุถู ุฎููููููุฉู
โSesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.โ (QS Al-Baqarah: 30).
Kedudukan manusia sebagai khalifah menegaskan amanah untuk mengelola kehidupan. Kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari kecanggihan dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari tujuan, dampak, serta pertanggungjawaban penggunaannya.
Dari POV Islam ke Aksi Nyata
Prinsip Islam perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Pertama, membangun literasi AI yang bertanggung jawab. Anak muda perlu menggunakan AI secara kritis, bukan sekadar mengikuti tren. Informasi harus diverifikasi, data pribadi dijaga, dan AI tidak dijadikan sarana penipuan atau jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab berpikir.
Kedua, memastikan tanggung jawab pengembang. Sistem AI perlu diuji dari sisi akurasi, bias, keamanan, dan perlindungan data sesuai tingkat risikonya. Untuk keputusan berisiko tinggi, harus tersedia pengawasan manusia yang kompeten serta mekanisme pengaduan bagi pihak yang dirugikan.
Ketiga, memperkuat peran negara. Pemerintah perlu menetapkan standar penggunaan AI berbasis risiko, melindungi data pribadi, mengawasi penerapannya dalam layanan publik, dan menindak penyalahgunaan. Negara juga perlu mendorong penelitian agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi mampu menguasai teknologi.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
ูููููููู ู ุฑูุงุนู ูููููููููู ู ู ูุณูุฆูููู ุนููู ุฑูุนููููุชููู
โSetiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.โ
Hadis ini menegaskan bahwa kewenangan harus disertai amanah. Negara bukan hanya bertugas mendorong inovasi, tetapi juga melindungi masyarakat dari dampak yang merugikan. Dalam perspektif Islam, kebijakan teknologi harus mengutamakan kemaslahatan, bukan semata-mata mengikuti tuntutan pasar atau persaingan geopolitik.
Pada akhirnya, AI adalah game changer yang menghadirkan peluang sekaligus risiko. Teknologi ini dapat membantu manusia menyelesaikan persoalan, tetapi juga memperbesar kerugian ketika digunakan tanpa pengetahuan dan tanggung jawab.
Teknologi boleh makin canggih, tetapi arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia. Dalam perspektif Islam, akidah menjadi landasan berpikir, syariat menjadi pedoman bertindak, dan amanah sebagai khalifah menuntut manusia mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan. Kemajuan sejati bukan hanya tentang apa yang mampu diciptakan manusia, melainkan juga bagaimana teknologi digunakan secara benar dan dipertanggungjawabkan di hadapan sesama manusia maupun Allah SWT.
Wallahu a'lam bi ash-shawwab.
