Konten dari Pengguna

AI, Tubuh Sebagai Kodrat Fundamental, dan Batas-batas Etis Kemanusiaan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Endang Roh Suciati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi AI berdasar AI Gemini Generated
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi AI berdasar AI Gemini Generated

Pada 25 Mei 2026, Paus Leo XIV menerbitkan surat edaran pastoral dari Paus (enskilik) berjudul Magnifica Humanitas atau Kemanusiaan yang Agung. Menurut situs Vatican News dalam dokumen itu Paus Leo menegaskan kemanusiaan yang diciptakan Tuhan dengan segala keagungannya saat ini berada pada persimpangan jalan yang kritis. Manusia dihadapkan pada pilihan apakah akan membangun sebuah "Menara Babel" baru berlandaskan Kecerdasan Buatan (AI), atau menciptakan peradaban tempat Tuhan dan manusia hidup bersama secara bermartabat?

Paus Leo XIV menyoroti salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menguatnya dominasi AI di dalam berbagai ranah kehidupan manusia. Salah satu seruan utama Paus Leo XIV adalah perlunya pelucutan AI. Menurutnya perlu pengaturan AI secara ketat sebab AI bisa memicu disinformasi bahkan menormalisasi konflik. Paus Leo XIV mendesak pemerintah di berbagai belahan dunia untuk memposisikan AI dalam konteks kebaikan bersama dan bukan pada konteks kekuasaan dan keuntungan finansial semata. Melucuti dominasi AI bukan berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan mencegah teknologi mereduksi martabat umat manusia.

Kehadiran AI memang tidak lagi sekadar memengaruhi hubungan antar manusia di dalam masyarakat, namun sebenarnya AI telah mempengaruhi kesadaran dan keberadaan diri manusia. Sebagai mesin pemroses data dengan kecepatan tinggi, AI menyajikan informasi yang sering kali dianggap sebagai kebenaran sesungguhnya. Alhasil manusia kerap kali menyesuaikan diri mereka bahkan tunduk pada arahan dan keputusan AI sebagai mesin algoritma.

Tak terhindarkan maraknya penggunaan AI dalam sistem ekonomi, pemerintahan, pendidikan, politik nasional dan internasional dewasa ini bisa menjadikan AI sebagai alat dominasi. Di sinilah ancaman terhadap menurunnya martabat manusia merebak. Para pemegang kuasa bisa menggunakan AI untuk menggeser dan menggusur manusia. Di sinilah perlunya batas-batas etis kemanusiaan penggunaan AI.

Tubuh Adalah Ciri Fundamental Manusia

Untuk menjawab mengapa AI tidak boleh menggantikan posisi manusia, kita perlu melihat struktur ontologis manusia sebagai makhluk hidup. Manusia adalah makhluk yang memiliki sel-sel yang bisa bertumbuh dan berkembang untuk mencapai kesempurnaan. Thomas Hidya Tjaya seorang dosen pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dalam bukunya "Merleau-Ponty dan Kebertubuhan Manusia", menjelaskan setiap entitas di dunia memiliki cara menjadi being (ada) dan pengada yang khas. Sebagai sebuah being manusia memiliki struktur ontologis mendasar yang membedakannya secara mutlak dengan obyek lain atau mesin.

Para filsuf Barat selama berabad-abad berpendapat bahwa eksistensi manusia dibentuk oleh tubuh atau corporeality. Tubuh bagi manusia tak hanya sekadar cangkang atau kerangka tempat tinggal bagi otak, namun tubuh adalah medium utama untuk hadir, mencerap, dan merasakan benda-benda di luar diri manusia. Tubuh melalui jutaan syaraf yang ada di dalamnya bisa merasakan sakit, sensasi kegembiraan, kesedihan, empati dan ribuan rasa lainnya ketika berinteraksi dengan dunia.

Di sinilah letak batas antara manusia dengan AI. Kecerdasan buatan dapat menirukan struktur bahasa, menghasilkan data, dan bisa menyimulasikan empati dan perasaan melalui teks dalam sekejap mata. Namun sebenarnya AI tidak bisa merasakan sendiri penderitaan atau sensasi kesenangan yang dialami oleh tubuh. Karena tidak bertubuh, AI tidak memiliki pengalaman hidup (lived experience) yang menjadi akar dari nurani, rasa keadilan, dan tanggung jawab moral.

Tatkala kita menyerahkan berbagai keputusan penting kehidupan—seperti hukum, ekonomi, cara hidup, perang, hingga distribusi kesejahteraan—kepada sistem AI mandiri, kita sedang mengabaikan aspek kebertubuhan manusia. Algoritma yang tidak merasakan penderitaan tak akan pernah memahami makna keadilan maupun empati.

Seruan Paus Leo XIV untuk melucuti logika dominasi AI pada hakikatnya adalah seruan untuk mengembalikan manusia pada kodrat kebertubuhannya. Salah satu aspek mendasar adalah penggunaan AI harus merujuk pada batas-batas etis kemanusiaan. Penggunaan etis harus merujuk pada nilai-nilai kemanusian. Manusia yang bisa berpikir mandiri tanpa bantuan AI harus mengedepankan logika, perasaan, dan empati yang mereka miliki. Manusia sebagai makluk yang secara kodrati memiliki tubuh lengkap tidak boleh menyerahkan sepenuhnya keputusan berdasar pertimbangan-pertimbangan dari AI, benda yang tidak memiliki tubuh fisik.

Jikapun AI memiliki tubuh dalam bentuk robot humanoid, maka sebenarnya bentuk fisik itu hanyalah simulasi. Sedangkan bagi manusia seperti disampaikan oleh filsuf Merleu-Ponty, tubuh bukanlah hanya alat yang melekat pada manusia sehingga dapat digunakan untuk keperluan apa pun, namun tubuh juga adalah diri manusia. Dengan demikian wujud fisik atau tubuh adalah kodrat asali manusia.

Seorang ahli komputer Alessandro Colarossi di dalam artikel yang ditulisnya bertajuk Berfokus pada Otak Mengabaikan Tubuh menyatakan untuk memahami kesadaran manusia maka perlu memusatkan pada tubuh hidup manusia dan hubungannya dengan dunia. Colarossi memaparkan manusia melihat obyek melalui badannya saat melalukan interaksi dengan lingkungannya. Sementara itu AI tak bisa memiliki interaksi yang berarti dengan dunia karena tidak memiliki wujud fisik tubuh. AI adalah otak, tanpa tubuh hidup.

Memang semakin hari AI kian menunjukan kecanggihan dalam menghasilkan pengetahuan . AI mampu merespon pertanyaan manusia dengan cepat melalui informasi yang dihasilkan dari milyaran data yang tersebar pada jaringan internet. Bayangkan manusia memerlukan waktu lebih dari dua tahun dalam perkembangan hidupnya di masa bayi hanya untuk bisa mengucap satu atau dua kata. Namun sebenarnya disinilah kelebihan manusia. Manusia memiliki proses belajar secara selektif sehingga pengetahuan yang didapatnya adalah hasil refleksi, bukan hasil menggenerasi data yang sangat besar dengan sistem algoritma.

Dampak Ketergantungan Pada AI Bagi Manusia

Penulis Colarossi mengingatkan melalui tubuhnya manusia memiliki elemen kunci yaitu persepsi atau pemahaman tentang kondisi di dalam diri dan di luar dirinya. Manusia menerima dan menerjemahkan apa yang ada di luar dirinya melalui tubuh dan kesadarannya. Sementara kecerdasan yang dimiliki oleh AI berasal dari rangsangan melalui pemograman komputer. Pada titik terbaiknya AI bisa meniru penampilan perilaku manusia, namun AI tidak bisa mereplikasi pengalaman yang dialami tubuh manusia yang hidup.

Lalu bagaimanakah dampak fenomena dewasa ketika manusia menjadi mengandalkan kepiawaian AI. Dibanding pergi ke perpustakaan atau membaca buku secara lengkap misalnya, manusia memilih menyusuri dunia maya berjam-jam dari balik layar. Ketimbang membaca sumber-sumber pengetahuan dari sumber aslinya, manusia lebih memilih menanyakan saja kepada AI karena akan mendapat jawaban secara cepat. Kebiasaan semacam ini bisa mendorong penggunaan tubuh secara tidak maksimal. Memang kebiasaan ini bisa memudahkan manusia, namun menimbulkan dampak negatif.

Ketergantungan berlebihan pada AI bisa menyebabkan aktifitas tubuh yang tidak maksimal. Bayangkan bila kita memiliki otot-otot kaki yang kita tidak gunakan, maka otot-otot itu akan mengalami penurunan fungsi. Demikian pulanya indra yang lain seperti otak dan otot-otot motori kita. Jika melihat fenomena saat ini, tekanan dan dorongan agar manusia menggunakan AI bisa melemahkan kodrat asali manusia sebagai makhluk hidup dengan tubuh dan otak.

Maka mendalami kembali ensiklik Paus Leo XIV tentang Kemanusiaan yang penuh keagungan, manusia harus mengaktifkan kembali tubuhnya. Manusia tidak boleh terlindas dan tergusur oleh Menara Babel baru dalam dominasi kuasa AI dan sekelompok kuasa manusia tertentu. Teknologi sejatinya diciptakan untuk mengabdi pada kebaikan bersama, bukan mengambil alih peran manusia. Menjaga martabat kebertubuhan manusia berarti memastikan kendali manusia atas kehidupan dengan merujuk pada batas etis kemanusiaan seperti: kebaikan, keadilan, kejujuran, empati, serta nilai-nilai moral lainnya. Melalui batas-batas etis inilah manusia akan hidup dengan martabat dan harkat kemanusian universal.

Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pedesaan, IPB University Bogor