Konten dari Pengguna

Alasan Psikologis di Balik Apatisme Politik Generasi Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Najihan Mumtaza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Uday Mittal on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Uday Mittal on Unsplash

Di mata Generasi Z (Gen Z) hari ini, tidak ada bentuk pengkhianatan yang lebih memuakkan daripada melihat seorang yang dulunya sangat vokal mengkritik penguasa, tapi tiba-tiba tersenyum ria dengan jaket partai politiknya. Bagi generasi sebelumnya, pergerakan semacam itu mungkin dipuji sebagai keberhasilan karier. Namun bagi generasi muda, mereka seperti orang hina. Politik praktis kini telah terdegradasi menjadi sebuah aib. Medan kotor di mana moral dan integritas seakan dilucuti habis-habisan. Menjadi korban pertama dari kebiadaban.

Seakan kita semua sadar, ketika sudah masuk ke dunia politik, maka tunggu saja tanggal jatuhnya. Jika Anda idealis, maka bersiaplah dijatuhkan. Jika Anda realistis, maka bersiaplah menjadi kaya dan sejahtera.

Rasa muak ini merembet cepat hingga ke akar rumput. Jangan heran banyak dari generasi muda yang kehilangan minat untuk terjun langsung ke dalam politik formal. Panggung kecil sekalipun mereka enggan. Di sisi lain, generasi tua juga sering kali buru-buru menghakimi mereka sebagai generasi strawberry. Lembek. Apatis. Hanya peduli pada diri sendiri. Padahal, jika dilihat menggunakan kacamata psikologi, sikap mereka bukanlah bentuk kelemahan intelektual, melainkan murni mekanisme bertahan hidup dari sebuah generasi yang sedang kelelahan.

Kelelahan Kognitif dan Overwhelmed

Keseharian kita di depan layar gawai, apalagi bagi mereka yang sibuk scrolling, secara tidak sadar memaksa sistem kognitif kita untuk terus berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Jika berita itu berlawanan dengan nilai moral kita, otak cenderung menduga kenapa hal itu masih dibiarkan.

Sebagai contoh, berita tentang keracunan massal dari program makan bergizi pemerintah. Kita melihat itu sebagai bencana dan masalah yang menantang nilai moral kita. Secara tidak sadar otak akan berspekulasi dan menebak alasan di balik program yang masih berjalan padahal kasus keracunan sudah menembus ribuan korban. Hal ini terus menumpuk hingga berefek pada rasa lelah kognitif. Dalam psikologi, hal ini disebut overstimulasi, dan akhirnya mengaktifkan mekanisme pertahanan (defense mechanism) kita.

Mudahnya, otak kita berpikir dan memprediksi terlalu banyak, sampai kelelahan, dan mulai menghindar dari rasa lelah tersebut. Kondisi ini membuat kita kesulitan berpikir jernih. Hal ini juga sejalan dengan penelitian tentang sistem prediksi otak yang selalu berjalan bahkan tanpa kita sadari. Jika dihitung, otak kita memprediksi hingga jutaan siklus per detik, dan 400 milidetik lebih awal untuk menyiapkan reaksi fisik.

Kebutuhan Dasar Psikologis yang Tak Terpenuhi

Sadar atau tidak, mahasiswa, sebuah kelompok masyarakat yang paling vokal menyuarakan suara rakyat, belakangan ini perlahan kehilangan taringnya. Tak banyak mahasiswa sekarang yang berani bersuara di ruang publik. Bahkan, di lingkup yang lebih kecil, BEM atau organisasi mahasiswa lain belakangan ini kesulitan mencari ketua dengan kapabilitas yang setara atau bahkan lebih dari ketua sebelumnya.

Untuk mencari benih pemimpin yang kuat, dibutuhkan setidaknya kompetisi. Dibutuhkan paling tidak dua-tiga calon pemimpin yang saling bersaing dalam berinovasi dan bersuara di masing-masing organisasi. Namun, saat ini semua itu seakan tidak terealisasikan. Mencari persaingan ketat untuk menjadi ketua BEM sulit ditemukan. Bahkan untuk mencari calon ketua berikutnya, krisis sumber daya.

Uniknya, fenomena ini berjalan beriringan dengan tren bekerja part-time atau paruh waktu di kalangan mahasiswa. Mahasiswa cenderung berfokus pada memenuhi kebutuhan dasarnya untuk dapat melanjutkan berkuliah dengan dana yang terbatas dan tekanan kerja yang makin ketat.

Hal ini sejalan dengan teori Maslow dalam psikologi humanistik. Abraham Maslow, pada 1943, mengemukakan teori kebutuhan dasar manusia yang mencakup kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan paling puncak adalah aktualisasi diri. Mencari pengakuan politis, menjadi ketua sana-sini, hingga mencari peluang masuk ke kementerian, adalah tangga keempat dan kelima.

Sedangkan mencari uang, kebutuhan dasar untuk bisa berkuliah, mencari pekerjaan, kestabilan ekonomi, kesejahteraan, adalah tangga kedua dan ketiga. Jelas, individu akan lebih fokus untuk membuat dirinya aman dulu, untuk setidaknya hidup selama satu semester, hingga memutuskan untuk melangkah ke tangga yang lebih tinggi.

Ditambah, tekanan ekonomi dan teknologi menambah parah kondisi ini. Pekerjaan mulai tergantikan oleh AI, mata uang melemah, populasi manusia meningkat. Di sisi lain, tekanan untuk segera menikah, menafkahi keluarga, orang tua, adik, bahkan saudara. Tak heran, tekanan ini membuat generasi muda menjadi lebih apatis. Bahkan kebutuhan diri sendiri pun kesulitan, bagaimana mereka punya waktu untuk memikirkan orang lain?

Melihat dua sisi ini, setidaknya membuka wawasan kita untuk tidak serta-merta menyalahkan generasi muda hanya dengan sebelah mata. Mata uang yang melemah, beban tuntutan dari keluarga, dan masa depan yang dipertaruhkan, memaksa generasi muda untuk menjadi pragmatis. Sangat tidak adil menuntut generasi ini meneriakkan perbaikan sistem negara, sementara untuk menyelamatkan masa depan sendiri saja mereka masih harus berdarah-darah.

Menjadi apatis terhadap politik praktis bukanlah bentuk kemalasan, ketidakpedulian, atau kebodohan, melainkan murni mode bertahan hidup (survival mode) yang paling rasional bagi mereka. Selama ekosistem politik hanya menawarkan kelelahan kognitif tanpa menjamin kesejahteraan dasar, fokus pada kemandirian ekonomi pada individu adalah manifestasi politik yang sesungguhnya.

Setidaknya, sebelum kita bisa memperbaiki sistem negara yang rusak, kita harus memastikan diri untuk tidak hancur terlebih dulu oleh sistem tersebut. Teruslah bekerja, beri makan keluargamu, dan jadilah manusia yang berakal. Karena sejatinya, politik membutuhkan seseorang yang pintar dan memiliki moral.