Konten dari Pengguna

Amerika Serikat Semakin Produktif, Warganya Makin Kurang Tidur

Faiz Al Ahsan D Zikri

Faiz Al Ahsan D Zikri

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya. Menulis tentang politik global, isu sosial, dan fenomena masyarakat modern. Percaya bahwa hal kompleks bisa dijelaskan dengan sederhana.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faiz Al Ahsan D Zikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana kereta bawah tanah di New York, Amerika Serikat. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kereta bawah tanah di New York, Amerika Serikat. Foto: Unsplash

Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu negara dengan budaya kerja paling kompetitif di dunia. Kesibukan sering dianggap sebagai tanda ambisi, sementara kurang tidur kerap dipandang sebagai konsekuensi yang wajar dari produktivitas tinggi.

Namun di balik budaya tersebut, Amerika Serikat justru menghadapi krisis tidur yang semakin serius. Survei National Sleep Foundation pada 2025 menemukan bahwa enam dari sepuluh orang dewasa Amerika tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Sementara itu, hampir empat dari sepuluh orang mengalami kesulitan tidur setidaknya beberapa kali dalam seminggu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan telah menyebut kurang tidur sebagai persoalan kesehatan publik. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga produktivitas ekonomi. Lembaga riset RAND memperkirakan bahwa kurang tidur menyebabkan kerugian ekonomi hingga ratusan miliar dolar setiap tahun di Amerika Serikat.

Fenomena ini menunjukkan ironi besar dalam budaya kerja Amerika Serikat. Negara yang sangat menekankan produktivitas justru menghadapi masalah serius akibat masyarakatnya tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.

Tidur Lebih Sedikit Dibanding Banyak Negara Maju

Jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, rata-rata waktu tidur masyarakat Amerika Serikat tergolong relatif rendah. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa warga Amerika tidur lebih sedikit dibandingkan masyarakat di banyak negara Eropa.

Studi mengenai pola tidur global pada 2025 menunjukkan bahwa rata-rata orang dewasa di Prancis tidur hampir delapan jam per malam. Di Kanada dan Inggris, durasi tidur masyarakat juga berada di atas rata-rata Amerika Serikat. Sementara itu, warga Amerika rata-rata hanya tidur sekitar tujuh jam setiap malam.

Perbedaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari budaya kerja dan pola hidup yang berkembang di masing-masing negara. Di sejumlah negara Eropa, waktu istirahat, cuti panjang, dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung dipandang sebagai bagian penting dari kualitas hidup.

Sebaliknya, budaya kerja di Amerika Serikat cenderung menempatkan produktivitas dan kesibukan sebagai ukuran keberhasilan. Dalam banyak situasi, kesibukan bahkan sering diperlakukan sebagai simbol kesuksesan dan dedikasi terhadap pekerjaan.

Akibatnya, tidur sering kali ditempatkan sebagai kebutuhan yang bisa dikurangi demi memenuhi tuntutan aktivitas sehari-hari. Dalam jangka panjang, pola tersebut membuat kurang tidur tidak lagi menjadi persoalan individu semata, tetapi berkembang menjadi bagian dari pola sosial yang lebih luas.

Ketika Sibuk Menjadi Simbol Kesuksesan

Salah satu faktor yang membuat krisis tidur di Amerika Serikat sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari adalah budaya yang memandang kesibukan sebagai sesuatu yang positif. Dalam banyak lingkungan kerja, seseorang yang terus bekerja, memiliki jadwal padat, dan tetap aktif meski kurang tidur sering dianggap lebih ambisius dan produktif.

Budaya tersebut membuat istirahat kerap dipandang sebagai sesuatu yang kurang penting dibandingkan pekerjaan. Tidak sedikit pekerja yang merasa bersalah ketika mengambil cuti atau tidur lebih lama karena khawatir dianggap tidak cukup serius terhadap karier mereka.

Fenomena ini juga diperkuat oleh perkembangan teknologi yang membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Pesan pekerjaan dapat masuk kapan saja, rapat daring berlangsung di luar jam kantor, dan banyak orang tetap bekerja bahkan setelah pulang ke rumah.

Dalam situasi seperti itu, waktu tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan. Banyak orang memilih tidur lebih larut demi menyelesaikan pekerjaan, mengejar target, atau sekadar mendapatkan waktu luang setelah menjalani aktivitas yang padat sepanjang hari.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur justru dapat menurunkan konsentrasi, produktivitas, dan kemampuan mengambil keputusan. Dengan kata lain, budaya yang terus mendorong masyarakat untuk bekerja tanpa cukup istirahat pada akhirnya dapat merugikan produktivitas itu sendiri.

Dampak Krisis Tidur yang Semakin Terlihat

Kurang tidur tidak hanya membuat seseorang merasa lelah pada keesokan harinya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan fisik maupun mental yang lebih serius.

Pusat Data Kesehatan Nasional Amerika Serikat mencatat bahwa kurang tidur memiliki hubungan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe dua, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Dampaknya juga terlihat pada aktivitas sehari-hari. Kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat respons tubuh, dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas. Di Amerika Serikat, ribuan kecelakaan setiap tahun dikaitkan dengan pengemudi yang mengalami kelelahan atau mengantuk.

Selain berdampak pada kesehatan individu, krisis tidur juga memengaruhi sektor ekonomi. Sejumlah penelitian memperkirakan bahwa menurunnya produktivitas akibat kurang tidur menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar setiap tahun di Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran mengenai pentingnya tidur memang mulai meningkat. Sejumlah perusahaan mulai memasukkan kesehatan tidur ke dalam program kesejahteraan karyawan, sementara beberapa sekolah menyesuaikan jam masuk berdasarkan penelitian tentang kebutuhan tidur remaja.

Meski demikian, perubahan budaya berjalan jauh lebih lambat dibandingkan meningkatnya kesadaran publik. Selama kurang tidur masih dianggap bagian normal dari gaya hidup produktif, krisis tidur di Amerika Serikat kemungkinan akan terus menjadi persoalan sosial yang sulit diselesaikan sepenuhnya.