Anak Kita Tidak Sedang Istirahat, Mereka Sedang Dicuri oleh Media Sosial

Saya adalah seorang mahasiswa program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rudiarman Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pencuri baru di rumah kita. Ia tidak masuk lewat jendela, tidak membuat suara, dan tidak meninggalkan jejak. Ia datang melalui layar kecil di tangan anak-anak kita. Setiap hari, setelah pulang sekolah, banyak anak meletakkan tas, membuka ponsel, lalu berkata, “Sebentar saja.”
Namun dari “sebentar” itulah satu jam hilang, tugas terbengkalai, buku tak tersentuh, dan mata yang seharusnya membaca justru terkunci pada layar. Orang tua sering merasa aman karena anak terlihat diam di rumah. Padahal, dalam diam itu, waktu belajar mereka bisa sedang dicuri pelan-pelan oleh media sosial.
Masalahnya, banyak orang tua belum melihat ini sebagai bahaya. Selama anak diam, tidak keluar rumah, dan tidak membuat keributan, orang tua merasa aman. Padahal, anak yang diam dengan ponsel belum tentu sedang baik-baik saja. Bisa jadi ia sedang kehilangan waktu, kehilangan fokus, kehilangan kebiasaan membaca, bahkan kehilangan daya juang untuk menyelesaikan sesuatu yang membutuhkan proses panjang.
Media sosial hari ini bukan sekadar tempat hiburan. Ia adalah mesin yang dirancang untuk menahan perhatian selama mungkin. Video pendek, notifikasi, tombol suka, komentar, dan algoritma rekomendasi bekerja seperti pancing kecil yang terus menarik anak untuk bertahan di layar.
Anak merasa sedang beristirahat, padahal pikirannya terus dipaksa melompat dari satu konten ke konten lain. Akibatnya, otak terbiasa mencari rangsangan cepat dan mudah bosan ketika harus membaca buku, memahami pelajaran, mengerjakan soal, atau menulis tugas sekolah.
Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. APJII mencatat bahwa pengguna internet Indonesia pada 2024 telah mencapai 221.563.479 jiwa, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,5 persen dari total populasi. Artinya, internet sudah menjadi ruang hidup harian masyarakat Indonesia, termasuk anak-anak dan remaja usia sekolah.
Sementara itu, DataReportal melaporkan bahwa pada Januari 2025 terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, setara dengan 50,2 persen dari total populasi nasional. Angka ini menunjukkan bahwa anak-anak kita sedang tumbuh di tengah dunia yang sangat terkoneksi, tetapi belum tentu semakin terarah.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya lamanya anak memegang ponsel, melainkan berubahnya cara mereka memperlakukan waktu. Dulu, waktu luang bisa dipakai untuk membaca, bermain di luar rumah, membantu orang tua, mengulang pelajaran, atau berbicara dengan keluarga.
Sekarang, banyak waktu anak habis untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas. Mereka terlihat sibuk, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Mereka menerima banyak informasi, tetapi tidak sempat mencerna. Mereka tahu banyak tren, tetapi sering kesulitan menjelaskan satu materi pelajaran dengan runtut.
Inilah bentuk baru dari ketidakproduktifan. Anak tidak selalu tampak malas. Ia bisa terlihat aktif, cepat merespons pesan, mengikuti isu viral, bahkan tahu banyak hal dari internet.
Namun, ketika diminta membaca teks panjang, ia cepat menyerah. Ketika diminta menulis pendapat, pikirannya buntu. Ketika diminta belajar satu jam penuh, tangannya gelisah ingin membuka ponsel. Perlahan-lahan, media sosial tidak hanya mencuri waktu, tetapi juga mencuri kemampuan anak untuk bertahan dalam proses.
Orang tua perlu sadar bahwa produktivitas anak tidak hilang secara tiba-tiba. Ia terkikis sedikit demi sedikit. Hari ini, anak menunda tugas lima belas menit. Besok ia belajar sambil membuka TikTok. Lusa ia tidur larut karena terus menonton video pendek. Seminggu kemudian ia sulit bangun pagi. Sebulan kemudian nilainya menurun. Lalu orang tua bertanya, “Mengapa anak saya sekarang malas belajar?” Padahal, jawabannya mungkin sudah lama berada di genggaman tangannya.
American Academy of Pediatrics menegaskan bahwa penggunaan media perlu dikelola secara seimbang melalui rencana media keluarga agar kehidupan daring anak tidak mengalahkan tidur, aktivitas fisik, hubungan keluarga, dan keberhasilan sekolah. Dalam publikasi Pediatrics, AAP juga menjelaskan bahwa penggunaan media dapat mengganggu tidur karena menunda waktu tidur dan paparan cahaya layar dapat memengaruhi ritme tubuh.
Selain itu, perilaku bermedia berkaitan dengan aktivitas fisik yang berkurang, regulasi emosi, keberhasilan sekolah, dan kesehatan mental anak serta remaja. Dengan kata lain, persoalan ini bukan sekadar “anak terlalu sering main HP”, melainkan juga berkaitan dengan kualitas hidup, kebiasaan belajar, dan masa depan pendidikan mereka.
UNICEF juga mengingatkan bahwa kehidupan digital anak-anak perlu dipahami secara serius karena teknologi dapat memengaruhi keterampilan digital, kesehatan mental, dan ketimpangan pengalaman belajar anak. Artinya, solusi yang dibutuhkan tidak hanya melarang anak menggunakan internet, tetapi juga mendidik mereka agar mampu menggunakan teknologi secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab.
Namun, sebelum bicara tentang literasi digital, orang tua harus berani mengambil langkah paling dasar: mengawasi. Tidak memata-matai secara kasar, tetapi hadir sebagai pendamping. Anak usia sekolah belum sepenuhnya mampu mengatur dorongan, mengukur risiko, dan membedakan mana hiburan sehat dan mana konten yang merusak fokus. Mereka membutuhkan batas. Mereka membutuhkan arahan. Mereka membutuhkan orang dewasa yang berani berkata, “Cukup, sekarang waktunya belajar.”
Kekeliruan banyak orang tua adalah menyerahkan kendali kepada anak terlalu cepat. Anak diberi ponsel pribadi, kuota penuh, akses bebas, tetapi belum diberi kedisiplinan digital. Ketika anak mulai kecanduan, barulah orang tua panik. Padahal, ponsel tanpa aturan di tangan anak sama seperti membiarkan pintu rumah terbuka sepanjang malam. Kita tidak tahu siapa dan apa yang masuk ke dalam pikiran mereka.
Orang tua tidak perlu anti-media sosial. Dunia anak hari ini memang berbeda. Mereka belajar, berkomunikasi, dan berjejaring melalui teknologi. Namun, ada perbedaan besar antara menggunakan media sosial dan dikendalikan oleh media sosial. Anak yang menggunakan media sosial secara sehat tahu kapan berhenti. Anak yang dikendalikan media sosial marah ketika ponselnya diminta, gelisah ketika tidak ada internet, dan kehilangan fokus ketika harus belajar tanpa layar.
Tanda-tanda bahaya itu sebenarnya mudah dikenali. Anak mulai sulit lepas dari ponsel. Ia menunda tugas sekolah. Tidurnya semakin larut. Ia mudah tersinggung ketika ditegur soal HP. Ia tidak tahan membaca lama. Ia lebih hafal konten viral daripada jadwal ulangan. Ia membawa ponsel ke meja makan, ke kamar mandi, bahkan ke tempat tidur. Jika tanda-tanda ini sudah muncul, orang tua tidak boleh lagi berkata, “Nanti juga berubah sendiri.” Tidak. Kebiasaan yang dibiarkan akan berubah menjadi karakter.
Saat ini, banyak negara mulai memberi perhatian serius pada penggunaan media sosial oleh anak. Reuters melaporkan bahwa sejumlah negara—termasuk Australia dan beberapa negara Eropa—bergerak membatasi akses media sosial bagi anak karena meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan mereka di ruang digital.
Bahkan, Indonesia juga mulai mengambil langkah kebijakan terkait pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia tertentu untuk melindungi mereka dari ancaman digital, termasuk konten berbahaya dan kecanduan. Jika negara saja mulai merasa perlu mengatur, mengapa rumah justru masih membiarkan anak sendirian menghadapi algoritma?
Maka, orang tua perlu bertindak mulai hari ini. Bukan besok. Bukan setelah nilai rapor turun. Bukan setelah anak benar-benar kecanduan. Mulailah dengan membuat aturan sederhana di rumah. Tidak ada ponsel saat belajar. Tidak ada ponsel saat makan bersama. Tidak ada ponsel satu jam sebelum tidur. Ponsel tidak dibawa ke kamar pada malam hari. Media sosial hanya boleh digunakan setelah tugas utama selesai.
Aturan ini harus jelas, konsisten, dan disepakati. Jangan hanya marah ketika anak terlihat terlalu lama memegang HP, tetapi tidak pernah membuat batas yang konkret. Anak membutuhkan kalimat yang tegas, bukan omelan yang datang sesekali.
Kalimat seperti “Jangan main HP terus” terlalu lemah. Gantilah dengan, “Mulai malam ini, HP diletakkan di ruang keluarga pukul sembilan. Setelah itu waktunya istirahat.” Ketegasan seperti ini mungkin membuat anak protes pada awalnya, tetapi justru di situlah fungsi orang tua bekerja.
Selain membatasi, orang tua juga harus mengganti. Anak tidak cukup hanya dilarang bermain media sosial. Mereka perlu diarahkan kepada kegiatan yang membuat hidupnya bergerak: membaca buku, olahraga, membantu pekerjaan rumah, berdiskusi, mengikuti les, menulis jurnal, bermain musik, berkebun, menggambar, atau melakukan kegiatan keagamaan dan sosial. Jika ruang kosong tidak diisi dengan kebiasaan baik, ia akan kembali diisi oleh layar.
Yang tidak kalah penting, orang tua harus menjadi contoh. Anak akan sulit percaya pada nasihat orang tua yang melarang penggunaan ponsel, tetapi orang tuanya sendiri terus menggulir layar saat makan, saat berbicara, atau saat berkumpul keluarga. Rumah tidak akan memiliki budaya belajar jika semua orang di dalamnya tunduk pada layar masing-masing. Anak belajar dari apa yang ia lihat setiap hari, bukan hanya dari apa yang ia dengar.
Pada akhirnya, persoalan media sosial bukan hanya tentang teknologi. Ini tentang masa depan anak. Tentang kemampuan mereka untuk fokus. Tentang kesanggupan mereka menyelesaikan tugas. Tentang kebiasaan berpikir mendalam. Tentang disiplin. Tentang karakter. Jangan sampai anak kita tumbuh menjadi generasi yang cepat tahu, tetapi dangkal memahami; cepat bereaksi, tetapi lambat berpikir; ramai di dunia maya, tetapi kosong dalam karya nyata.
Orang tua perlu mengingat satu hal: media sosial tidak selalu merusak anak secara langsung. Ia sering bekerja secara halus. Ia mengambil lima menit, lalu sepuluh menit, lalu satu jam. Ia membuat anak menunda, lalu terbiasa menunda. Ia membuat anak bosan membaca, lalu malas belajar. Ia membuat anak merasa sibuk, padahal tidak produktif. Dan ketika semua itu disadari, sering kali waktunya sudah terlalu banyak terbuang.
Maka, malam ini, sebelum anak kembali tenggelam dalam layar, hampirilah mereka. Jangan hanya bertanya, “Sudah makan?” atau “Sudah mengerjakan PR?” Tanyakan juga, “Berapa lama kamu sudah menggunakan media sosial hari ini?” Lihat aplikasi yang paling sering mereka buka. Periksa pola tidurnya. Dengarkan ceritanya. Buat aturan bersama. Dampingi mereka.
Karena anak-anak kita tidak sedang kekurangan potensi. Mereka sedang hidup di tengah dunia yang sangat pintar mencuri perhatian. Jika orang tua tidak hadir sebagai penjaga, layar kecil itu bisa menjadi pencuri besar: mencuri waktu belajar, mencuri fokus, mencuri produktivitas, dan pelan-pelan mencuri masa depan.
