Andra Soni Minta Bupati-Wali Kota Banten Waspadai Potensi Kebakaran di TPA

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Banten Andra Soni, saat memberikan keterangan terkait kondisi terkini kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Banten Andra Soni, saat memberikan keterangan terkait kondisi terkini kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Gubernur Banten Andra Soni meminta seluruh bupati dan wali kota di Provinsi Banten mewaspadai potensi kebakaran tempat pemrosesan akhir (TPA) di wilayah masing-masing.

Imbauan itu disampaikan menyusul kebakaran yang masih terjadi di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Kebakaran tersebut diketahui telah memasuki hari ketiga pada Kamis (2/7).

Andra mengatakan, pemerintah daerah perlu memastikan kondisi TPA terus dipantau, terutama di tengah cuaca panas yang meningkatkan risiko kebakaran.

"Saya mengingatkan kepada bupati wali kota se-Provinsi Banten untuk meninjau memastikan TPA-TPA mereka, TPA-TPA yang ada di lokasi untuk dimonitor. Karena cuacanya panas sekali," kata Andra kepada wartawan di TPA Jatiwaringin.

Kondisi terkini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Ia mengatakan, saat ini penanganan kebakaran dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah. Sejumlah instansi, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, BPBD, hingga BNPB, dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.

"Saat ini semua sedang berupaya untuk menangani kebakaran TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang. Di mana dari KLHK pusat juga hadir hari ini, kemudian bantuan dari BPBD apa dari badan penanggulangan bencana, helikopter nanti jam dua lagi," ujarnya.

Menurut Andra, proses pemadaman menghadapi tantangan karena cuaca panas dan adanya gas yang terkandung di dalam timbunan sampah. Karena itu, ia mengimbau masyarakat tidak mendekati lokasi kebakaran.

Kondisi terkini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

"Dan ini situasi semakin buruk karena cuaca, dan kemudian kan di dalam tumpukan sampah yang sudah berpuluh-puluh tahun ini juga mengandung gas yang bisa menjadi sumber kebakaran dan diminta kepada masyarakat untuk menjauhi lokasi ini, teman-teman wartawan juga secukupnya kalau sudah selesai bisa meninggalkan lokasi ini karena ini ada potensi apa namanya apinya belum bisa terkendali," kata dia.

Andra mengatakan, kebakaran seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan yang diterimanya, musim kemarau tahun ini menjadi salah satu yang paling panjang dalam beberapa dekade terakhir sehingga meningkatkan risiko kebakaran.

Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api saat asap mengepul dari sampah yang terbakar di lokasi TPA Jatiwaringin di Tangerang, Provinsi Banten, Indonesia, 1 Juli 2026. Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

"Tapi disampaikan oleh KLHK tadi Kementerian LHK bahwa situasi ini pernah terjadi seperti ini. Dan memang dilaporkan oleh Bapak Bupati bahwa tiga puluh tahun terakhir ini apa namanya musim panas yang sangat terik dan agak panjang," ujarnya.

Ia berharap kebakaran dapat segera teratasi dalam satu hingga dua hari ke depan.

"Harapan kita mungkin dalam satu dua hari ini bisa teratasi ya, dan walaupun kita sadar bahwa hari sekarang ini adalah mulai musim panas tapi tentu kita berharap juga mukjizat dari Yang Maha Kuasa untuk ada hujan supaya bisa lebih cepat," tutup Andra.

Helikopter MI-8AMT milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membawa air untuk memadamkan kebakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, memasuki hari ketiga kebakaran, luas area yang terbakar masih seluas 7 hektar.

"Luasan yang terbakar ada 7 hektar, dan kita masih terus upayakan pemadaman melalui sejumlah metode, baik jalur dwrat dan udara menggunakan helikopter water bombing selama masa status tanggap darurat," kata Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan.

Sementara itu, proses pemadaman menggunakan metode Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) belum bisa dilakukan. Hal ini berdasarkan hasil koordinasi BNPB dengan Balai Besar Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah II.

"Untuk TMC belum bisa karena dari BMKG awan di wilayah Kabupaten Tanggarang ini dalam satu minggu ini tidak ada," ujarnya.