Apa Sih Pendidikan?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mumpung Hari Pendidikan Nasional. Ada yang bertanya, apa sih pendidikan? Jawabnya, pendidikan bukan tentang membuat anak pintar atau cerdas. Tapi sejatinya pendidikan tentang proses membentuk “manusia yang utuh”. Manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang memadai sesuai dinamika peradaban. Manusia yang belajar dengan menyenangkan dan memiliki kesadaran untuk terus bertumbuh.
Kita sering menyempitkan pendidikan jadi identik dengan nilai tinggi, banyak prestasi. Padahal sejatinya, pendidikan adalah “menumbuhkan manusia” itu sendiri. Manusia yang utuh itu bukan hanya cerdas. Tapi juga kuat mentalnya, hidup jiwanya, peka sosialnya, dan kokoh spiritualnya. Dan menariknya, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu tidak dimulai di sekolah atau kampus tapi di keluarga. Keluarga adalah pendidik pertama dan utama setiap orang.
Sebelum anak mengenal huruf, ia sudah “membaca” rumahnya sendiri. Gimana cara ayah dan ibunya merespon diri sang anak, cara ibunya bicara, dan cara ayahnya bersikap. Cara menghadapi masalah, cara menyelesaikan konflik hingga cara komunikasi yang beradab. Semuanya dimulai dari rumah, dan di situlah pendidikan dimulai.
Maka fondasi pertama pendidikan seharusnya dibangun dan dimulai di rumah. Bukan dari hafal huruf, angka, warna atau bisa menjawab setiap pertanyaan. Tapi dimulai dari rasa aman, rasa menghormati dan menghargai yang dikembangkan di rumah.
Anehnya, banyak orang tua merasa sudah memberi rasa aman karena anaknya tercukupi, anaknya terlindungi. Padahal rasa aman tidak hanya fisik, tapi juga psikologis. Rasa aman itu hadir saat anak tidak direndahkan, tidak dipermalukan, dan tidak dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Karena saat itu terjadi, yang rusak bukan hanya perasaan. Tapi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak mulai berpikir: “aku tidak cukup”, “aku banyak kurangnya”, “aku harus sempurna agar diterima” dan “aku lebih baik diam daripada salah”. Anak-anak yang “terpenjara” secara perasaan dan eksistensinya.
Dan ketika itu terjadi, anak tidak lagi belajar untuk berkembang. Tapi belajar untuk bertahan. Sebaliknya, ketika anak merasa aman, ia akan berani mencoba. Tidak takut salah dan mau belajar sambil mencoba. Karena si anak tahu “aku tetap berharga, bahkan saat aku belum bisa sekalipun”. Memberi rasa aman dan nyaman pada anak, itulah pendidikan yang dimulai dari hati nurani.
Dari keluarga, anak juga belajar hal paling kuat bukan dari nasihat. Tapi dari keteladangan, bukan dari omongan. Sedikit-sedikit dilarang, sedikit-sedikit tidak boleh. Bila anak terlalu dilindungi atau sedikit-sedikit tidak boleh, lalu di mana anak-anak itu belajar mengenal jati dirinya sendiri. Mari bertanya sekarang, di mana pendidikan yang menempatkan anak mengenal dirinya, bukan mengenal kurikulum yang harus dijalankannya.
Pendidikan memang dimulai dari rumah. Ketika anak melihat bagaimana ayah mengelola emosi, bagaimana ibu mengambil keputusan, dan bagaimana orang tua memperlakukan orang lain. Dari situlah terbentuk sesuatu yang mahal yaitu “integritas”. Sebab, integritas tidak lahir dari ceramah panjang. Tapi dari hal sederhana yang diulang setiap hari. Sesuatu yang dibiasakan untuk jujur, punya empati dan kasih sayang, serta tanggung jawab dan amanah. Dan lagi-lagi, semua itu dimulai dari rumah.
Ayah bunda harus tahu. Bila kita ingin anak jadi pemimpin, punya mental kuat, berani dan percaya diri, tidak merendahkan orang lain, peduli, amanah, termasuk dekat dengan Allah. Maka pertanyaannya sederhana. Jangan bertanya “sekolahnya di mana?” tapi "rumahnya seperti apa?”. Salam literasi!
