ASN Itu Seperti Lilin
Tulisan dari Rahmat Aming Lasim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Menjadi pegawai negeri itu kadang seperti lilin,” ucap almarhum Bapak pada suatu malam, puluhan tahun lalu. Saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Biasanya, sebelum tidur, Bapak mendongengkan kisah fabel atau legenda. Yang paling saya ingat tentu cerita Si Kancil dan Buaya.
Namun, malam itu berbeda. Bapak tidak bercerita tentang Kancil atau Buaya. Ia berbicara tentang kehidupan, pekerjaan, dan masa depan.
“Terserah cita-citamu ingin jadi apa,” katanya pelan. “Kalau menjadi pegawai negeri, memang gaji bulanannya terjamin. Tapi jangan berharap menjadi orang kaya hanya dari gaji.”
Saya yang masih kecil tentu belum mengerti.
“Pegawai negeri itu mengabdi untuk negara, untuk masyarakat. Kadang kamu tidak terlihat oleh orang lain, bahkan oleh atasanmu sendiri. Kadang kamu hanya menjadi orang yang bertepuk tangan untuk keberhasilan orang lain.”
Bapak terdiam sejenak. “Kalau kamu istimewa, mungkin akan dilirik atasan. Kalau tidak, jangan berkecil hati. Dunia tidak selalu fair. Kamu bekerja saja sesuai tugas dan kewajibanmu. Jangan lupa berdoa dan berupaya.”
Malam itu saya tidur seperti biasa. Saya tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, nasihat sederhana itu akan menjadi semacam kompas dalam perjalanan hidup saya.
Kini, setelah menjadi bagian dari birokrasi, saya memahami mengapa Bapak mengibaratkan pegawai negeri seperti lilin.
Lilin memberikan cahaya dengan cara membakar dirinya sendiri. Ia tidak selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan ketika ruangan sudah terang, orang sering lupa bahwa ada lilin yang menyala di sudut ruangan.
Begitulah mungkin kehidupan sebagian ASN. Ada pegawai yang namanya tidak pernah masuk berita, tidak pernah dipanggil ke panggung, tidak pernah menerima penghargaan, dan fotonya tidak pernah terpampang di media sosial kantor.
Tetapi setiap pagi ia datang tepat waktu, memeriksa berkas, menjawab pertanyaan masyarakat, menyelesaikan surat, menginput data, dan melayani orang yang bahkan mungkin tidak tahu siapa namanya.
Besoknya ia datang lagi. Melakukan hal yang sama. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada penghargaan. Tetapi pekerjaan harus selesai.
Sebab di balik satu dokumen yang selesai, mungkin ada anak yang bisa melanjutkan sekolah. Di balik pelayanan yang cepat, mungkin ada pasien yang tidak perlu menunggu lebih lama. Di balik informasi yang benar, mungkin ada seseorang yang akhirnya memperoleh haknya. Di balik keputusan yang hati-hati, mungkin ada kehidupan yang berubah.
Karena itu, pelayanan publik tidak pernah sekadar urusan administrasi. Ada manusia di balik setiap urusan.
Sebagai ASN, tentu kita bekerja dalam koridor aturan. Ada kode etik dan kode perilaku, sumpah dan janji, nilai dasar BerAKHLAK, serta berbagai regulasi, termasuk UU Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN dan PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS.
Semua itu mengajarkan bahwa ASN harus disiplin, bertanggung jawab, berintegritas, dan taat pada aturan. Menjadi ASN bukan berarti kehilangan ruang untuk berpikir, berinovasi, berprestasi, dan memberikan yang terbaik.
Justru di situlah tantangannya: taat pada aturan tanpa kehilangan akal sehat, patuh pada prosedur tanpa kehilangan empati, dan menjaga disiplin tanpa kehilangan keberanian untuk berinovasi.
Sebab ASN bukan sekadar orang yang menerima gaji dari negara. ASN adalah orang yang dipercaya mengelola sebagian urusan negara. Dan kepercayaan itu mahal.
“Kadang tugas kita adalah membuat orang lain bersinar,” ujar Bapak, menambahkan.
Semakin lama bekerja, semakin saya memahami maknanya. Tidak semua orang harus berada di depan. Tidak semua harus menjadi kepala. Tidak semua harus mendapatkan penghargaan.
Birokrasi seperti sebuah orkestra. Ada yang memainkan biola, piano, drum, dan alat musik lainnya. Masing-masing berbeda, tetapi musik yang indah lahir karena semuanya memainkan perannya.
Begitu pula birokrasi. Ada yang bekerja di belakang meja, di lapangan, menerima masyarakat, membuat kebijakan, menerjemahkan, mengurus administrasi, atau memastikan sistem tetap berjalan ketika orang lain sudah pulang. Tidak semuanya terlihat. Tetapi semuanya penting.
Negara tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya dikenal. Negara juga dibangun oleh jutaan orang yang bekerja dalam diam. Mereka mungkin tidak terkenal, tetapi mereka hadir setiap hari.
Bertahun-tahun setelah percakapan malam itu, saya akhirnya memahami: Bapak sebenarnya tidak sedang mengajarkan tentang pekerjaan. Ia sedang mengajarkan tentang kehidupan.
Bahwa tidak semua kebaikan segera mendapat balasan. Tidak semua kerja keras langsung terlihat. Dunia tidak selalu adil. Ketidakadilan bukan alasan untuk berhenti melakukan yang benar.
“Kamu bekerja saja sesuai tugas dan kewajibanmu.”
Kini kalimat itu terdengar berbeda. Bukan sekadar ajakan untuk patuh, melainkan pesan agar saya tidak kehilangan integritas ketika tidak ada yang melihat.
Tetap bekerja meski tidak dipuji. Tetap melayani meski tidak dikenal. Tetap jujur meski ada kesempatan untuk mengambil jalan pintas. Tetap berusaha meski hasil belum datang. Dan tetap berdoa ketika ikhtiar manusia memiliki batas.
Saya kembali teringat pada lilin. Lilin tidak bertanya siapa yang menikmati cahayanya. Ia tidak memilih siapa yang akan diterangi. Ia tidak menunggu ucapan terima kasih. Ia hanya menyala. Memberikan cahaya.
Mungkin seperti itulah semangat pengabdian yang ingin diwariskan Bapak kepada saya. Bukan tentang menjadi pegawai paling terkenal, mengejar jabatan setinggi-tingginya, atau selalu mendapatkan pujian. Tetapi tentang memastikan bahwa ketika kita meninggalkan sebuah ruangan, keadaan menjadi sedikit lebih baik daripada ketika kita datang.
Menjadi lilin bukan berarti ASN harus membakar dirinya sampai habis. Lilin pun membutuhkan tempat yang aman untuk menyala. ASN adalah manusia yang juga membutuhkan penghargaan, ruang untuk berkembang, kesempatan berprestasi, dan lingkungan kerja yang sehat agar ia bisa terus menerangi.
Pada akhirnya, ukuran seorang ASN bukan seberapa sering namanya disebut atau seberapa tinggi jabatannya. Melainkan seberapa banyak orang yang hidupnya menjadi sedikit lebih mudah karena kehadirannya.
Itulah arti sesungguhnya menjadi abdi negara: bekerja bukan agar selalu dilihat, tetapi tetap bekerja meskipun tidak dilihat. Sebab lilin tidak sibuk mencari pujian. Ia hanya memastikan satu hal: ruangan tidak gelap karena ia ada.

