Konten dari Pengguna

ASN Menulis 2026 : Satu ASN Multi Aplikasi. Digitalisasi Menambah Beban Kerja

Pande Baik

Pande Baik

PNS | Blogger | 185 cm

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pande Baik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hal yang mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, tetapi jujur saja cukup melelahkan bagi seorang ASN yang menjalaninya nyaris setiap hari.

Login ke aplikasi.

Dulu pekerjaan seorang ASN identik dengan map, lembar disposisi, fotokopi, stempel, tanda tangan, dan berkas yang berpindah dari satu meja ke meja lainnya.

Sekarang zamannya sudah berubah. Kertas mulai dikurangi. Dokumen disimpan secara elektronik. Surat dibuat secara digital. Tanda tangan sudah menggunakan TTE. Data kepegawaian bisa diperbarui secara daring. Perencanaan, pengadaan, pelaksanaan pekerjaan sampai dengan realisasi anggaran, semua ada.

Secara konsep, tentu saja ini harusnya menjadi kabar baik. Penyelesaian pekerjaan bisa jadi lebih cepat, lebih mudah, lebih transparan dan juga lebih rapi.

Tapi faktanya ? Kadang justru terasa sebaliknya.

BKN sendiri sudah mendorong integrasi data ASN melalui SIASN, sebuah sistem nasional yang dirancang untuk mengintegrasikan data baik ASN pusat maupun daerah. MyASN juga menyediakan fasilitas bagi ASN untuk melakukan pemutakhiran data pribadi dan riwayat kepegawaian secara mandiri.

Masalahnya muncul ketika semangat digitalisasi itu diterjemahkan menjadi semakin banyak aplikasi yang harus dibuka oleh orang yang sama.

Satu ASN bisa saja berurusan dengan SIMPEG untuk data kepegawaian, atau MyASN hasil pengembangan pemerintah pusat untuk pemutakhiran data lainnya, termasuk aplikasi SIPETIR. Belum lagi IPASN untuk indeks profesionalitas, SIPD untuk penganggaran, aplikasi TTE untuk tanda tangan elektronik, LPSE atau SPSE untuk pengadaan, e-Katalog untuk belanja pemerintah, sampai berbagai aplikasi pengadaan langsung lainnya.

Belum selesai di situ. Ada aplikasi presensi, aplikasi kinerja, e-surat, arsip, pelaporan serapan anggaran atau pengajuan cuti. Dan entah apa lagi yang nanti menyusul. Satu orang. Banyak aplikasi. Banyak akun. Banyak password. Banyak menu. Banyak kewajiban update. Tetapi dari sisi pengguna di lapangan, digitalisasi kadang terasa seperti memindahkan beban kerja dari atas meja ke layar komputer dan telepon genggam. Bukan lagi mengisi formulir kertas, beralih dengan mengisi formulir digital. Bukan lagi membawa berkas dari satu ruangan ke ruangan lain, kini mengunggah berkas dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Dan yang paling bikin lelah adalah ketika data yang sama harus dimasukkan lagi di tempat berbeda. Duh...

Bukankah seharusnya tidak begitu ?

Ketika seorang ASN sudah memasukkan NIP, nama, tanggal lahir, pangkat, jabatan ke dalam satu sistem, mengapa informasi yang sama masih harus diketik ulang di sistem lainnya ? Idealnya, sekali data dimasukkan, data tersebut bisa dimanfaatkan oleh sistem lain yang memang membutuhkan. Input sekali. Dipakai berkali-kali. Sederhana sebenarnya.

Saya sendiri tidak alergi dengan teknologi. Malah sebaliknya.

Kalau boleh dibilang, sejak dulu saya termasuk orang yang cukup menikmati perubahan teknologi. Dari komputer, internet, blog, media sosial sampai berbagai perangkat digital, semuanya pernah menjadi bagian dari keseharian.

Tetapi ada satu hal yang perlu dibedakan. Mampu menggunakan teknologi tidak berarti harus menikmati kerumitan teknologi.

Sebab bagi ASN yang sudah berusia kepala lima, atau setidaknya mulai mendekati masa pensiun, persoalannya tidak selalu soal tidak mampu menggunakan teknologi. Kadang yang muncul justru kejenuhan digital.

Saya pribadi sebagai seorang ASN yang kebetulan pula ditunjuk sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen, setelah seharian menyelesaikan pekerjaan utama, masih harus mengingat aplikasi apa yang perlu dibuka.

Username yang mana ? Password yang mana ? OTP masuk ke nomor yang mana ? Menu pemutakhiran datanya ada di sebelah mana ? Belum lagi aplikasi pengadaan dan segala turunannya yang menjadi bagian dari kewajiban para PPK di muka bumi ini. Lama-lama yang terasa bukan lagi kemudahan, tapi kelelahan administratif dalam bentuk digital.

Ironisnya lagi, ASN tetap dituntut memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pekerjaan utama harus selesai. Surat harus dibuat. Laporan harus diselesaikan. Pelayanan publik tidak boleh berhenti. Target tetap berjalan.

Sementara di sela-sela semua itu, ada saja notifikasi baru yang meminta kita membuka aplikasi tertentu dan melakukan pemutakhiran data. Padahal teknologi seharusnya membantu ASN bekerja. Bukan membuat ASN sibuk mengurus teknologinya.

Namun pemerintah juga perlu melihat bagaimana pengalaman pengguna di lapangan. Termasuk mereka yang sudah puluhan tahun bekerja dan sekarang mulai memasuki penghujung masa pengabdian.

Mereka bukan tidak mau belajar. Mereka hanya mungkin sudah cukup lelah dengan banyaknya hal yang harus dipelajari, sementara pekerjaan utamanya sendiri tidak pernah berkurang. Karena pada akhirnya, tujuan digitalisasi bukan membuat ASN semakin lama menatap layar.

Tujuan digitalisasi adalah memberikan lebih banyak waktu bagi ASN untuk bekerja. Kalau satu ASN harus membuka belasan aplikasi hanya untuk menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan melalui satu proses terintegrasi, mungkin yang sedang kita lakukan bukan menyederhanakan birokrasi. Kita hanya sedang memindahkan kerumitan birokrasi ke dalam bentuk digital.

Dan kalau memang begitu, barangkali yang perlu diperbaiki bukan lagi kemampuan ASN menggunakan aplikasi. Tapi cara kita merancang aplikasinya. Sebab teknologi yang baik seharusnya membuat pekerjaan terasa lebih ringan. Bukan sekadar membuat kita semakin pintar mencari password.

ASN Menulis 2026 : Satu ASN, Multi Aplikasi. Ketika Digitalisasi Justru Menambah Beban Kerja

*Tulisan ini merupakan salah satu opini kegelisahan seorang Pegawai Negeri Sipil yang Biasa Saja dari Kota Denpasar dan ikut berpartisipasi dalam agenda ASN Menulis 2026, Semoga bisa menjadi cermin bagi semuanya.