ASN: Tak Semua Kerja Terlihat, Tak Semua Pengabdian Terdengar

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, kita mendengar kembali stigma tentang Aparatur Sipil Negara (ASN): bekerja hanya menghabiskan anggaran, datang ke kantor, ngopi, lalu pulang. Kalimat seperti itu mungkin terdengar ringan ketika disampaikan dalam sebuah forum. Namun, bagi jutaan ASN yang setiap hari menjalankan tugasnya, stigma tersebut tentu tidak sesederhana bunyinya.
Bukan karena ASN tidak boleh dikritik. Justru kritik diperlukan agar birokrasi terus berbenah. Pelayanan publik yang lambat harus diperbaiki, birokrasi yang tidak efisien harus dievaluasi, dan ASN yang tidak bekerja sebagaimana mestinya tentu harus mendapatkan pembinaan, bahkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Tetapi menyederhanakan ASN sebagai sekadar beban anggaran juga tidak sepenuhnya adil. Sebab, di balik kata “ASN” terdapat manusia dengan profesi, tugas, tanggung jawab, dan pengabdian yang beragam sesuai bidang dan masyarakat yang dilayani.
Tak ayal, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Rini Widyantini pada 18 Juli 2026 lalu menyemangati para ASN dengan pesan: “Tetaplah menjadi cahaya. Tetaplah melayani, bahkan ketika tidak semua orang melihat.”
Tidak Semua Kerja Terlihat
Ada loh, ASN yang berangkat ketika sebagian masyarakat masih terlelap dan pulang ketika hari mulai gelap. Ada loh, ASN yang mengajar di pelosok pedalaman hingga menyeberangi sungai. Ada loh, ASN yang melakukan penelitian di keheningan laboratorium hingga ke lapangan yang penuh kemacetan. Ada loh, ASN yang tak hanya mengelola administrasi negara, namun harus menyusun kebijakan.
Ada loh, ASN yang menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat hingga harus berjaga bergantian 24 jam. Ada loh, ASN yang memastikan berbagai layanan publik tetap berjalan ketika kantor secara resmi sedang libur agar semua berjalan sesuai tatanan. Ada loh, ASN yang bekerja di balik meja, namun laptopnya tetap dibuka walau sudah sampai rumah. Pesan pekerjaan tetap masuk. Rapat daring tetap berlangsung. Laporan harus diselesaikan. Persiapan kegiatan harus dilakukan.
Bukan karena mereka ingin terlihat sibuk, tetapi karena pekerjaan dan tanggung jawab tidak selalu mengenal jam kantor.
Kerja seperti ini memang tidak selalu terlihat. Masyarakat lebih mudah melihat gedung kantor daripada orang-orang yang bekerja di dalamnya. Lebih mudah melihat hasil sebuah kebijakan daripada proses panjang yang melahirkannya. Lebih mudah merasakan sebuah layanan daripada mengetahui siapa saja yang bekerja agar layanan tersebut tersedia.
Menjadi ASN Tidak Sekadar Mendapat Pekerjaan
Menjadi ASN juga bukan perkara sederhana. Ada proses seleksi yang harus dilalui dengan persaingan yang ketat. Setelah diterima, ada sumpah dan janji yang diucapkan, ada kode etik, aturan, tanggung jawab, serta kewajiban untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Karena itu, menjadi ASN semestinya tidak dipandang hanya sebagai cara mendapatkan pekerjaan yang aman. Di dalamnya ada pilihan untuk mengambil bagian dalam pelayanan negara.
Profesi pelayanan pada dasarnya memiliki kemuliaannya sendiri. Dokter merawat pasien. Perawat mendampingi orang sakit. Guru mendidik generasi. Peneliti mencari pengetahuan dan solusi. Petugas pelayanan administrasi membantu masyarakat mendapatkan haknya. Berbagai profesi tersebut mungkin berbeda ruang kerja dan tugasnya, tetapi memiliki satu persamaan: pekerjaan mereka dibutuhkan oleh orang lain.
Demikian pula ASN. Ketika bekerja dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya mereka sedang menjadi bagian dari hadirnya negara dalam kehidupan masyarakat.
ASN Juga Tidak Sempurna
Namun, mengatakan bahwa ASN bekerja keras bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan bahwa masih ada ASN yang kinerjanya belum baik. Ada pelayanan yang masih lambat, perilaku yang belum profesional, bahkan integritas yang perlu diperbaiki.
Semua itu harus diakui.
ASN tidak membutuhkan pembelaan yang membabi buta. Yang dibutuhkan adalah budaya kerja yang semakin profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi kepada masyarakat.
Di sinilah nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi penting. Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif seharusnya bukan sekadar rangkaian kata yang terpampang di dinding kantor. Ia harus menjadi perilaku yang terlihat dalam pekerjaan sehari-hari.
Sebab, integritas seorang ASN tidak diuji ketika banyak orang sedang melihat. Integritas justru terlihat ketika tidak ada yang memperhatikan: apakah ia tetap bekerja dengan benar, apakah ia tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang, dan apakah ia tetap mengutamakan kepentingan masyarakat ketika kepentingan pribadi mungkin lebih menguntungkan.
Melihat ASN sebagai Manusia
Mungkin sudah saatnya kita melihat ASN tidak hanya sebagai angka dalam belanja negara, tetapi juga sebagai manusia yang bekerja di dalam sistem negara.
Di balik seorang guru ASN, ada keluarga yang menunggu di rumah. Di balik seorang tenaga kesehatan, ada kelelahan setelah seharian melayani pasien. Di balik seorang peneliti, ada waktu panjang di laboratorium dan data yang harus dianalisis. Di balik seorang administrator, ada dokumen dan layanan masyarakat yang harus dipastikan selesai.
Mereka bukan manusia sempurna. Tetapi mereka juga bukan sekadar angka dalam tabel anggaran. Di antara dua kenyataan itulah ASN seharusnya ditempatkan: terus dikritik ketika salah, tetapi tetap dihargai ketika bekerja dengan benar.
ASN tidak meminta untuk selalu dipuji. Mereka hanya berharap kerja pengabdiannya tidak disederhanakan menjadi sekadar “digaji negara”.
Negara memang harus terus memperbaiki birokrasi. ASN pun harus terus berbenah. Kritik publik tetap penting karena kritik yang sehat dapat menjadi cermin untuk memperbaiki diri. Namun, mungkin kita juga perlu memberikan ruang bagi cerita tentang ASN yang bekerja dalam diam. Mereka yang berangkat ketika hari masih gelap, pulang ketika hari mulai gelap, dan bahkan tetap bekerja ketika sebagian orang sedang menikmati hari liburnya.
Tidak semua kerja terlihat. Tidak semua pengabdian terdengar. Tetapi selama ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan, akan selalu ada orang-orang yang memilih untuk berada di sana. Mereka adalah ASN. Bukan sekadar orang yang bekerja untuk negara, tetapi bagian dari negara yang hadir untuk melayani manusia. Itu.
