Badan Geologi Ungkap Bahaya Erupsi Anak Krakatau: Material Pijar-Gas Vulkanik

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026).  Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap sejumlah bahaya yang perlu diwaspadai dari aktivitas Gunung Anak Krakatau yang meningkat. Mulai dari lontaran material pijar dan batuan vulkanik hingga gas vulkanik berkonsentrasi tinggi.

Meski demikian, Badan Geologi memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami seperti yang terjadi pada 2018 lalu.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan bahaya utama yang perlu diwaspadai berada di sekitar pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar dan juga batuan vulkanik, serta abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau," kata Lana dalam konferensi pers Badan Geologi Kementerian ESDM secara daring, Minggu (6/9).

"Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang. Potensi berfluktuasi dan meningkat ini karena gempa frekuensi rendah dan juga hybrid, dominan serta tremor yang signifikan," lanjutnya.

Jenis kegempaan tersebut menunjukkan adanya pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api. Namun, Badan Geologi belum dapat memastikan waktu, skala, maupun bentuk erupsi berikutnya.

"Meskipun demikian, waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat," ujar Lana.

Badan Geologi pun terus mengevaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau berdasarkan seluruh parameter pemantauan, termasuk aktivitas kegempaan, deformasi, emisi gas, citra satelit, serta informasi lapangan.

Di tengah peningkatan aktivitas tersebut, Lana menegaskan tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.

Ia menjelaskan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 terjadi terutama akibat keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata karena kolom erupsi.

Kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini juga telah berbeda dibandingkan sebelum peristiwa tersebut.

"Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018, kemudian juga mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya. Nah, berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya ini relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya," ujar Lana.

Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 2018 juga masih relatif kecil. Hasil evaluasi terhadap pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau juga tidak menunjukkan potensi keruntuhan yang dapat memicu tsunami. Pemantauan terhadap aktivitas dan perubahan morfologi tetap dilakukan secara intensif.

Saat ini, Badan Geologi menetapkan rekomendasi agar masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Warga yang terdampak hujan abu diwajibkan menggunakan masker.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri meningkat sejak Jumat (2/7), ketika statusnya dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Kenaikan status tersebut didasarkan pada peningkatan aktivitas vulkanik dan suplai magma di dalam tubuh gunung.