Baju Sekarang Bukan Lagi Sekadar Baju

Pengajar art ,craft dan fashion. Pendiri Satudivisi Creative House dan Bluwerks Upcycle Studio.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari M Lidinia Husni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, banyak orang membeli pakaian sekadar untuk kebutuhan atau mengikuti tren. Namun hari ini, perlahan cara pandang itu mulai berubah. Terutama di kalangan anak muda, pakaian tidak lagi hanya dilihat sebagai sesuatu yang dipakai di tubuh, tetapi juga sebagai bentuk nilai, identitas, bahkan sikap terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya gerakan yang muncul di masyarakat. Mulai dari kegiatan tukar baju (clothes swap), tren thrifting, hingga gerakan berkain yang mengajak generasi muda kembali mengenal budaya lokal. Semua ini menunjukkan bahwa fashion kini bergerak ke arah yang lebih sadar dan lebih personal.
Anak muda sekarang mulai ingin memberi dampak. Mereka tidak hanya bertanya “Bajunya bagus atau tidak?”, tetapi juga mulai mempertanyakan: “Siapa yang membuatnya?”, “Apakah prosesnya merusak lingkungan?”, atau “Apakah produk ini punya cerita dan nilai?”
Tren thrifting misalnya, tidak lagi sekadar mencari barang murah. Banyak orang mulai menikmati proses menemukan pakaian unik dengan sejarah dan karakter tersendiri. Ada kepuasan ketika memakai barang yang tidak pasaran dan memiliki cerita perjalanan sebelumnya. Di sisi lain, thrifting juga dianggap sebagai salah satu cara sederhana untuk mengurangi limbah fashion dan budaya konsumsi berlebihan.
Gerakan tukar baju juga mulai banyak bermunculan di berbagai komunitas. Konsepnya sederhana: daripada membeli baru terus-menerus, pakaian lama yang masih layak bisa dipertukarkan dengan orang lain. Selain lebih ramah lingkungan, kegiatan seperti ini juga menghadirkan rasa kebersamaan dan kesadaran bahwa fashion sebenarnya bisa lebih berkelanjutan.
Hal menarik lainnya adalah munculnya kembali minat terhadap kain tradisional dan budaya lokal. Gerakan berkain yang dulu sering dianggap kuno kini mulai diterima generasi muda sebagai bentuk kebanggaan identitas. Banyak anak muda memakai kain dengan cara yang lebih modern dan fleksibel dalam kegiatan sehari-hari. Mereka mulai menyadari bahwa kain bukan hanya warisan budaya, melainkan juga bagian dari cerita tentang asal-usul dan jati diri.
Di tengah cepatnya tren fashion berganti melalui media sosial, sebagian orang mulai merasa lelah dengan budaya konsumsi yang terlalu cepat. Lemari penuh, tetapi tetap merasa tidak punya baju. Belanja terus-menerus, tetapi kepuasannya hanya sebentar. Dari situ muncul keinginan untuk kembali membeli sesuatu yang lebih bermakna, lebih tahan lama, dan lebih memiliki koneksi emosional.
Karena itu, produk handmade, upcycle, dan karya lokal perlahan mulai mendapat tempat di hati masyarakat tertentu. Ketidaksempurnaan justru dianggap memiliki karakter. Jahitan tangan, tambalan kain, warna alami, atau bentuk yang tidak sepenuhnya seragam menjadi sesuatu yang terasa lebih manusiawi dibanding produk massal yang serba sama.
Mungkin inilah tanda bahwa dunia fashion sedang bergerak ke arah yang berbeda. Bukan lagi hanya soal mengikuti tren tercepat, melainkan juga tentang bagaimana sebuah pakaian bisa membawa cerita, nilai, dan kesadaran baru bagi orang yang memakainya.
Sebab pada akhirnya, baju sekarang bukan lagi sekadar baju. Ia bisa menjadi cara seseorang menyampaikan siapa dirinya, apa yang ia percaya, dan dampak seperti apa yang ingin ia tinggalkan.
