Bakti Pendidikan Djarum Foundation Gelar Festival Berpikir Komputasional 2026

Bakti Pendidikan Djarum Foundation menggelar kegiatan Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Acara itu bertujuan menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dengan pendidikan yang semakin tinggi dan merata pada 2045. Utamanya meningkatkan daya saing nasional di bidang membaca, matematika, dan sains.
Festival Berpikir Komputasional 2026 dilaksanakan di GOR Djarum Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Minggu (20/9). Sejumlah siswa-siswi jenjang SD/MI dari 22 sekolah di Kabupaten Kudus yang sudah menerima pelatihan Festival Berpikir Komputasional ikut serta dalam acara ini.
Hadir pada acara tersebut, Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa, Plt Kepala Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, dan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kemendikdasmen Gogot Suharwoto.
Selain itu, turut hadir Program Associate Djarum Foundation Richard Wu, praktisi pendidikan di Kabupaten Kudus, serta peserta Festival Berpikir Komputasional.
Bakti Pendidikan Djarum Foundation mendukung pemerintah dengan menginisiasi keterampilan berpikir komputasional bagi murid usia dini hingga menengah untuk mengembangkan kemampuan computational problem solving.
Berkaca dari hal itu, Bakti Pendidikan Djarum Foundation dan 22 mitra jenjang SD/MI sejak 2024 memadukan keterampilan berpikir komputasional dan literasi fisik.
Hal ini untuk mendukung peningkatan kemampuan berpikir, konsentrasi, dan pemecahan masalah murid. Kombinasi antara pelatihan kognitif dan fisik ini turut melibatkan penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, serta peran keluarga.
Festival Berpikir Komputasional 2026 ini diisi dengan berbagai kegiatan. Peserta mengikuti tur keliling rangkaian lomba Festival Berpikir Komputasional lomba Plugged yang terdiri dari 5 jenis lomba, yakni storytelling dan animasi scratch, soal bebras sikecil dan bebras siaga, dan creative robotics.
Selain itu ada lomba Unplugged yang terdiri dari 6 jenis lomba, yakni lomba lompat navigasi pemrogram cilik, olahraga komputasional, zig-zag sortir koin, jejak lincah batang dan daun, jump & toss block coding, dan balance turtle block coding.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto mengapresiasi inisiatif dari Bakti Pendidikan Djarum Foundation. Terlebih sudah menyelenggarakan Festival Berpikir Komputasional 2026.
"Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, kami mendukung sepenuhnya karena ini sejalan dengan apa yang sudah dicanangkan. Yakni mulai tahun ajaran 2025/2026 sudah mencanangkan mapel pilihan koding dan kecerdasan artifisial," katanya kepada awak media.
Ia menambahkan, koding dan kecerdasan artifisial sudah menjadi mata pelajaran pilihan sekolah. Berkaca dari hal itu, agar anak-anak lebih termotivasi untuk mengaktualisasikan pelajaran, menurutnya perlu wadah untuk mempraktikkan apa yang sudah mereka pelajari.
"Ternyata, teman-teman Bakti Pendidikan Djarum Foundation ini sudah lama mengembangkan kegiatan ini. Pemerintah pada 2025 sudah mendorong semua sekolah agar mengambil sebagai mapel pilihan dan sudah banyak kami lakukan pelatihan," terangnya.
Lebih lanjut, menurut Gogot, pada 2025, pihaknya sudah melatih 28 ribu sekolah untuk mengambil mata pelajaran coding dan kecerdasan artifisial. Menurutnya, semua dokumen sudah siap, yakni mencakup Peraturan Menteri, modul dan pelatihannya.
"Kemudian yang kedua, praktik baik ini perlu dikembangkan, tidak hanya di Kudus," jelasnya.
Selanjutnya, hal ketiga, ketika sudah masif diterapkan dapat mencetak generasi yang unggul. Sehingga semua jenjang pendidikan bisa menerapkan kegiatan computational thinking.
"Sebelumnya ada PAUD, ada SD, ada SMP dan SMA. Semua nanti akan kami dorong untuk membuat kegiatan-kegiatan yang bisa mendukung computational thinking. Mulai dari PAUD sudah, SD, SMP, SMA, sampai SMK, sampai pada saat mereka nanti di perguruan tinggi mampu menyelesaikan masalah," ujarnya.
Gogot berpendapat, di era sekarang ini siswa-siswi menghadapi tantangan yang luar biasa. Sehingga dituntut untuk membuat keputusan. Dalam hal ini yakni anak-anak mampu membuat keputusan bersumber dari informasi, data, dan ketersediaan alat yang ada, selanjutnya membuat solusi.
"Jadi kami siapkan dari paling bawah. Sehingga semua anak-anak bisa menjadi problem solver," imbuhnya.
Sementara itu, Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa mengatakan, pihaknya sudah mendampingi 22 sekolah SD/MI di Kudus mengikuti pelatihan berpikir komputasional. Ia menilai pembelajaran berpikir komputasional ini begitu penting.
"Sudah ada 22 sekolah yang kami dampingi lewat pelatihan berpikir komputasional ini. Kami mengambil langkah lebih awal lewat program berpikir komputasional ini," katanya, Minggu (20/9).
Ia menambahkan, pemberian program berpikir komputasional ini sekaligus mengajak anak-anak untuk bergerak. Mereka tidak hanya diajak berpikir, melainkan juga bergerak.
"Kami mencoba agar anak-anak bisa bermain dan belajar dengan happy secara emosional yang diintegrasikan dengan literasi fisik. Karena dari survei yang kami lakukan, usia 15 tahun itu 56 persennya hanya berolahraga sekali dalam seminggu," imbuhnya.
Pada akhir acara tersebut juga memberikan penghargaan kepada sekolah yang telah mengikuti pelatihan berpikir komputasional. Kategori yang diberikan yakni Sekolah Berproses Program Kompak Batch 2 kategori bronze, silver, dan gold.
Berikut daftarnya:
Sekolah Berproses Program Kompak Batch 2 Kategori Bronze:
MI Nurul Haq Kudus
SD 3 Kalirejo Kudus
MI NU Nurus Shofa Kudus
MI NU Tarbiyatul Islam Kudus
SD 1 Jati Kulon Kudus
SD 1 Kalirejo Kudus
MI NU Miftahul Ulum Loram Kulon Kudus
Sekolah Berproses Program Kompak Batch 2 Kategori Silver:
MI NU Qudsiyyah Kudus
MI NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus
SD 1 Barongan Kudus
Sekolah Berproses Program Kompak Batch 2 Kategori Gold:
SD Muhammadiyah Birrul Walidain
