Banjir Landa Permukiman Warga di Medan: 803 Rumah Terdampak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana banjir melanda Kota Medan, Senin (24/8/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana banjir melanda Kota Medan, Senin (24/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

Banjir kembali melanda permukiman penduduk di Kota Medan pada Senin (24/8). Akibatnya, ratusan rumah warga terdampak.

Banjir berawal dari meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Babura, Deli, Sunggal, dan Denai di wilayah Kota Medan yang dipicu tingginya debit air dari wilayah pegunungan. Air yang meluap menyebabkan permukiman warga terendam banjir.

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan, sebanyak 803 rumah warga terdampak banjir di Kecamatan Medan Maimun.

Suasana banjir melanda Kota Medan, Senin (24/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

"Rumah yang terdampak 803 rumah," kata Sri dalam keterangannya, Selasa (25/8).

Dalam peristiwa tersebut, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Ratusan warga mengungsi. Saat ini, air sudah mulai surut.

Air Setinggi 3 Meter

Mardiwal, warga Kelurahan Sei Mati, mengatakan saat banjir terjadi, ketinggian air di rumahnya mencapai tiga meter. Lumpur pascabanjir masuk ke rumahnya hingga setinggi betis orang dewasa.

"Lumpur itu sudah tinggi. Jadi air itu enggak bisa lagi surut. Ada lumpurnya, jadi enggak bisa lagi air itu jalan. Tiga meter (tinggi airnya)," kata Mardiwal saat ditemui di lokasi.

Mardiwal berharap pemerintah membangun tanggul di sepanjang Sungai Deli agar banjir tidak kembali terjadi.

Sementara itu, Kepala Lingkungan Sei Mati, Rozy mengatakan bahwa saat itu air sungai Deli meluap. Para warga kemudian menyelamatkan diri dengan memanjat atap rumah. Lalu, sebagian warga menyelamatkan barang-barang pribadinya ke dataran yang lebih tinggi.

"Airnya tadi malam kencang, cepat naiknya. Terlebih kami dataran rendah, ada dekat pinggiran sungai. Semua pada menaikkan barang, kendaraan. Ada warga yang dua anak tangga lagi di loteng sudah full banjirnya," ujar Rozy saat ditemui di lokasi.

Kemudian, para warga mengungsi di kantor kepala desa. Air itu naik sekitar pukul 22.00 WIB dan 03.30 WIB sudah mulai surut.

"Dari jam 10 malam itu sudah keluar semua warga. Sebagian ada yang menyelamatkan barang," ujar Rozy.

Rozy mengatakan, di lingkungannya terdapat 70 kepala keluarga. Beberapa warganya memilih pindah dari lingkungannya karena tidak tahan terkena banjir terus-menerus.

"Rumah tidak terpakai tiga akibat banjir. Memilih pindah, tidak tahan karena banjir. Mereka tidak punya loteng dan capek membersihkan lumpur banjir tersebut," ucap Rozy.

Di lingkungan Sei Mati, sering terjadinya banjir karena meluapnya air Sungai Deli. Rozy berharap, agar pemerintah dapat melakukan pengorekan di sungai tersebut.

"Kita kan sudah minta tatanan masyarakat juga untuk mengorek sungai. Istilahnya dikorek saja pun sudah bersyukur kali kami. Normalisasi sudah waktu zaman Pak Gubernur Sumut, Bobby Nasution. Tapi untuk pengorekan sungai itu yang belum terealisasi," pungkas Rozy.