Konten dari Pengguna

Banyak Pria yang Bekerja Takut Tua dan Pensiun?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah ngobrol sambil ngopi dengan teman-teman kerja, ternyata banyak teman pria yang takut tua. Khawatir akan masa pensiunnya sendiri, entah kenapa?

Tapi bila dipikir-pikir, pria takut tua mungkin ada banyak penyebabnya. Bisa karena tidak punya uang di hari tua, bisa takut bingung kalau tidak kerja, atau karena lainnya. Tentu, pria-pria itulah yang lebih tahu, kenapanya?

Ada teman saya. Dia sepanjang hidupnya berdiri paling depan. Disapa banyak orang, ditanya pendapatnya. Diandalkan dalam setiap keputusan penting. Dia tumbuh dengan identitas mentereng. Dia merasa “bernilai” karena sibuk dan dibutuhkan di kantornya. Tapi ketika masa pensiun tiba, panggung itu tiba-tiba gelap. Sekarang dia sudah pensiun, tidak bekerja lagi.

Di minggu-minggu awal pensiun, semuanya terasa seperti liburan panjang. Bangun siang, minum kopi, olahraganya jalan santai. Tapi setelah beberapa minggu, sunyi mulai terdengar dengan nyata. HP yang dulu penuh panggilan, kini sepi. Rapat yang dulu padat, kini tidak ada.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak tahu harus ke mana. Ada ketakutan yang jarang ia akui ke siapa pun: “Kalau saya nggak kerja… siapa saya?” Karena sejak kecil ia diajarkan: laki-laki harus kuat, harus berguna, dan harus menghasilkan. Bisa jadi, ini alasannya kenapa teman-teman saya takut tua hehehe.

Pria memang tidak pernah diajarkan untuk merasakan. Inner child-nya dulu tidak pernah diizinkan menangis. Setelah pensiun, baru terasa. Teman saya kembali ke masa kecilnya, mengingat “Dulu aku pengen diperhatikan…”. “Dulu aku takut…”. “Dulu aku sendirian…”

Dan sekarang, di usia senjanya, perasaan itu menagih untuk dipeluk. Post power syndrome bukan soal hilangnya jabatan. Bukan soal pensiun. Tapi yang sebenarnya hilang adalah: penghargaan diri, identitas, dan pelarian dari rasa yang pernah ditahan.

Ketika sibuk, ia tidak sempat merasa. Ketika bekerja, iya seakan tidak punya waktu. Ketika berhenti kerja, kini ia tidak bisa lagi lari. Dan di situ, semuanya terungkap. Dan memang, sepertinya banyak pria sebenarnya takut tua. Takut bila duduk berdampingan dengan hatinya sendiri. Takut melawan badai pikirannya sendiri di hari tua.

Pensiunann berkiprah sosial di dunia taman bacaan

Banyak pria lupa, apalagi saat belerja.upa hal yang paling menakutkan adalah kejujuran pada diri sendiri. Saat kerja boleh rapi, keren dengan outfit barang-barang branded. Gagah perkasa. Tapi begitu pensiun, para pria itu cerita mengalami depresi berat, linglung. Makanya psikolog, menganjurkan para pria bekerja apa saja di hari tua. Asal punya aktivitas, alasannya. Agar kesehatan mentalnya tidak terganggu.

Semua pria pasti akan pensiun, akan tua. Maka jangan takut tua. Karena para pria harus mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Nabung di dana pensiun, karena pria butuh hobi butuh aktivitas. Bila pensiun dengan uang banyak maka bisa menjalani hobi dengan bebas. Waktu tersedia, fisik masih sehat dan uang pensiun yang akan membantu untuk mewujudkannya.

Begitulah kisah pria di masa pensiun. Ternyata, pensiun bukan hanya urusan berhenti kerja. Tapi harus punya kesiapan mental, psikologis, dan uang tentunya. Agar tetap mandiri secara finansial di hari tua. Dan yang penting, pensiun itu mengajarkan para pria untuk "berhenti sejenak" dari hiruk pikuk dunia atau apapun. Selamat menjalani masa pensiun teman!