Banyak yang Inginn Seharum Dupa tapi Enggan Dibakar

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang menginginkan kepandaian, kesuksesan, kebijaksanaan, atau kemuliaan, tetapi tidak semua mau menjalani latihan, disiplin, kegagalan, kritik, dan pengorbanan yang diperlukan untuk mencapainya. Kita sering lupa. Setiap hasil yang bernilai selalu menuntut proses yang tidak nyaman. Sebab pisau yang tajam karena terus diasah, sementara dupa yang harum pasti setelah melalui dibakar.
Di mana- mana dan apapun, proses sering kali terasa menyakitkan. Tapi justru proses itulah yang membentuk kualitas diri seseorang. Tidak ada ketajaman tanpa gesekan, dan tidak ada keharuman tanpa pengorbanan. Seorang pemuda selalu mengagumi keberhasilan orang-orang di sekitarnya. Ia ingin menjadi cerdas, dihormati, dan sukses. Namun setiap kali menghadapi kesulitan, ia memilih menyerah. Ketika dikritik, ia marah. Ketika harus belajar lebih keras, ia mencari jalan yang lebih mudah. Apa bisa sukses bila begitu?
Suatu hari, ia melihat seorang pandai besi sedang mengasah pisau. Percikan api beterbangan setiap kali mata pisau bergesekan dengan batu asah. Pemuda itu bertanya, "Mengapa pisau itu harus disakiti seperti itu?" Dan si pandai besi tersenyum lalu menjawab, "Karena tidak ada pisau yang tajam tanpa diasah."
Tidak jauh dari sana, ia melihat dupa yang dibakar di sebuah tempat ibadah. Semerbak wanginya memenuhi ruangan. Ia kembali bertanya, "Mengapa dupa harus dibakar agar harum?" Lalu seorang penjaga menjawab, "Karena keharumannya muncul saat ia rela melewati api."
Dan pemuda itu terdiam. Ia akhirnya memahami bahwa selama ini ia menginginkan hasil, tetapi menolak proses. Ia ingin menjadi tajam seperti pisau, namun tidak mau diasah oleh pengalaman. Ia ingin menjadi harum seperti dupa, namun tidak mau dibakar oleh perjuangan.
Sejak hari itu, ia mulai menerima setiap tantangan sebagai bagian dari pembentukan dirinya. Sebab ia sadar, kualitas terbaik dalam diri manusia lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menjalani proses. Maka, banyak yang ingin setajam pisau tapi menolak untuk diasah, banyak yang ingin seharum dupa tapi enggan untuk dibakar. Begitulah adanya …!!
