Barus sebagai Pintu Gerbang Kekristenan di Tanah Batak

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
·waktu baca 16 menit
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah perkembangan agama Kristen di Tanah Batak tidak dapat dipisahkan dari rangkaian perjalanan para utusan Injil yang datang dari Eropa pada abad ke-19. Upaya penginjilan ini ditandai dengan kedatangan para misionaris yang diutus oleh badan misi Jerman, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), serta beberapa penginjil mandiri dari Ermelo, Belanda. Kehadiran mereka membawa perubahan besar dalam peta spiritual dan kebudayaan masyarakat di Sumatra Utara, khususnya masyarakat suku Batak. Momentum ini tercatat secara resmi melalui pertemuan penting para penginjil yang kemudian dianggap sebagai tonggak awal berdirinya Misi Batak.
Pada tanggal 7 Oktober 1861, para penginjil berkumpul untuk mengadakan konferensi pertama di Sipirok. Hari bersejarah tersebut disepakati sebagai hari lahir dari pelayanan penginjilan di Tanah Batak. Dalam pertemuan itu, dengan penuh semangat iman, mereka memutuskan untuk segera mendirikan empat stasiun misi utama di wilayah Tapanuli. Langkah berani ini diambil untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat lokal dan membuka akses pengajaran Kristen secara lebih terstruktur.
Tiga dari stasiun misi yang direncanakan tersebut terletak di lembah tinggi Sipirok, yaitu stasiun Sipirok, Waringin, dan Bungabondar. Sementara itu, stasiun keempat direncanakan untuk dibuka di wilayah Silindung, yang pada masa itu statusnya masih merdeka dan belum berada di bawah kendali pemerintahan Hindia Belanda. Pembagian wilayah tugas ini memperlihatkan strategi penginjilan yang matang untuk menjangkau pusat-pusat pemukiman suku Batak.
Para penginjil yang membagi tugas di ketiga stasiun awal di Sipirok adalah Klammer, Denninger, dan Belz. Klammer menetap dan membangun pelayanan di desa Sipirok, Denninger ditempatkan di Waringin yang berada di sebelah selatan, dan Belz mengawasi wilayah Bungabondar di sebelah timur laut. Sementara itu, untuk wilayah Silindung, pihak misi mempersiapkan Heine dan Van Asselt untuk masuk ke sana apabila pintu pelayanan telah terbuka.
Sebelum bertugas di Sumatra, beberapa penginjil seperti Denninger dan Klammer sebenarnya telah bertahun-tahun melayani di pedalaman Kalimantan (Borneo). Namun, akibat situasi politik dan keamanan yang tidak menguntungkan setelah meletusnya Perang Banjar di Banjarmasin, mereka terpaksa meninggalkan ladang pelayanan tersebut. Mereka sempat menunggu kepastian di Batavia selama lebih dari dua tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Sumatra.
Selain para penginjil dari Jerman, terdapat pula tiga penginjil asal Ermelo, Belanda, yang sudah lebih dahulu berada di Sumatra, yaitu Van Asselt, Betz, dan Dammerboer. Mereka bekerja di bawah bimbingan Pendeta Witteveen dari Belanda. Keberadaan mereka sangat membantu karena Van Asselt, misalnya, sudah bertahun-tahun tinggal di sana, menguasai bahasa Batak dengan baik, bahkan telah mendirikan beberapa sekolah dan membaptis beberapa orang lokal.
Untuk menghindari tumpang tindih pelayanan, pengurus RMG berkoordinasi dengan Pendeta Witteveen agar ketiga penginjil Belanda tersebut dapat bergabung dengan RMG. Melalui kesepakatan itu, Van Asselt dan Betz resmi bergabung dengan misi RMG untuk memperkuat barisan penginjilan di Tanah Batak. Kerja sama ini memberikan keuntungan besar karena misi langsung mendapatkan tenaga berpengalaman yang memahami adat istiadat setempat.
Pendaratan Awal Nommensen dan Pintu Masuk Barus
Di sisi lain, seorang tokoh penting yang kelak dikenal sebagai Rasul Bangsa Batak, yaitu Ludwig Ingwer Nommensen, juga bersiap untuk berangkat ke Sumatra. Sebelum menginjakkan kakinya di Tapanuli, Nommensen menghabiskan waktu selama dua bulan di Amsterdam untuk mempersiapkan diri. Di kota tersebut, ia belajar dasar-dasar bahasa Batak secara intensif kepada seorang ahli bahasa terkemuka dari Nederlandsch Bijbelgenootschap (NBG), Herman Neubronner van der Tuuk.
Dalam catatan hariannya, Nommensen mengungkapkan betapa rumitnya struktur bahasa Batak yang ia pelajari dari Van der Tuuk. Sistem kata kerja bahasa Batak diakuinya sangat kompleks—memiliki sembilan jenis yang berbeda—serta dipenuhi oleh banyak pengecualian dan pembagian aturan linguistik. Pertemuan dua kali seminggu bersama Van der Tuuk dimanfaatkan Nommensen dengan sangat disiplin untuk menyalin tata bahasa dan melatih percakapan.
Setelah mendarat pertama kali di Padang pada tanggal 14 Mei 1862, Nommensen segera melanjutkan pelayarannya ke arah utara menuju pantai barat Sumatra. Barus menjadi pangkalan pertamanya ketika menjejakkan kaki di Tanah Batak. Di kota pelabuhan tua ini, Nommensen sempat menetap sementara waktu guna mempraktikkan kemampuan linguistiknya serta membangun kontak awal dengan masyarakat lokal maupun para raja pedalaman yang turun ke pesisir.
Selama beberapa bulan menetap di Barus, Nommensen tinggal di sebuah rumah sederhana yang ia sewa seharga 8 gulden per bulan dari seorang warga Tionghoa setempat. Rumah sewa tersebut awalnya berada dalam kondisi yang sangat buruk hingga tidak mampu melindungi penghuninya dari angin maupun hujan. Sang pemilik rumah awalnya meminta harga tinggi sebesar 50 gulden per bulan jika rumah itu dipasangi atap baru, namun Nommensen menolaknya. Akhirnya, ia mengambil alih sendiri pengerjaan perbaikan atap tersebut dengan biaya sekitar 25 gulden. Jika dihitung secara rata-rata dengan masa tinggalnya, biaya tempat tinggalnya di Barus berkisar 10 gulden per bulan. Pilihan untuk menetap di sini diambil agar ia memiliki ruang yang tenang untuk fokus belajar sekaligus menerima kunjungan dari orang-orang lokal yang penasaran dengan keberadaannya.
Pada masa-masa awal tersebut, warga Barus memandang kehadiran Nommensen dengan penuh kecurigaan dan sikap dingin. Mereka dengan terus terang mencurigai Nommensen sebagai perintis dan pembuka jalan bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mula-mula datang untuk merebut hati rakyat lewat pengobatan, sebelum akhirnya militer datang untuk mencaplok tanah mereka. Sebaliknya, Nommensen menghadapi rasa ketidakpercayaan yang mendalam ini dengan empati dan kesabaran yang besar.
Komitmen pelayanannya diuji secara berat ketika ia diserang oleh penyakit kulit berupa bisul darah (bloedzweren) yang sangat parah dan menyakitkan akibat penyesuaian tubuh terhadap sanitasi dan makanan pesisir yang buruk. Penyakit ini sempat menghambat proses belajarnya dan menjadi ujian fisik pertama bagi Nommensen, sebelum kelak ia juga didera serangan demam tropis beberapa kali saat melakukan ekspedisi trekking darat yang berbahaya menuju wilayah pedalaman Rambe.
Namun, karena situasi politik di mana wilayah pedalaman Toba saat itu masih sepenuhnya merdeka, pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak memberikan izin keamanan bagi Nommensen untuk langsung menetap di sana melalui rute Barus. Resident di Sibolga menjelaskan bahwa surat izin Nommensen tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Pemerintah Belanda saat itu hanya memiliki otoritas sejauh seperempat jam berjalan kaki di sekeliling Barus, sementara wilayah di luar batas tersebut masih sangat rawan konflik antar-marga.
Karena terganjal hambatan administratif ini, Nommensen akhirnya terpaksa membongkar rumah sementaranya pada akhir November 1862. Ia mengalihkan rute perjalanannya melewati perairan Sibolga yang berbahaya, berjalan kaki ke wilayah selatan seperti Sigompulon dan Aek Sarulla, hingga akhirnya kelak berhasil mendapatkan izin resmi dan menembus lembah Silindung pada akhir tahun 1863. Meskipun kehadirannya di Barus berlangsung singkat, wilayah pesisir ini memegang peranan penting sebagai gerbang pembuka dalam sejarah awal misinya.
Kiprah Misionaris Klammer di Barus dan Tantangan Budaya Lokal
Pasca-keberangkatan Nommensen dari pesisir, jembatan pelayanan di pantai barat tidak lantas terputus. Kiprah penginjilan Kristen yang menetap di Barus secara nyata terekam melalui laporan pelayanan Klammer, yang memutuskan untuk berpindah dari stasiun misi awalnya di Sipirok. Pada bulan Juli 1862, Klammer tiba di Barus untuk membangun pelayanan jangka panjang dan langsung menyewa sebuah rumah di sana untuk dijadikan pusat kegiatannya. Langkah ini diambil karena Barus merupakan titik temu strategis bertemunya berbagai suku bangsa, mulai dari suku Batak pedalaman, orang Melayu pesisir, hingga para pedagang asing.
Klammer mengubah rumah sewaannya di Barus menjadi sebuah tempat persinggahan terbuka bagi siapa saja yang lewat. Setiap orang asing disambut dengan ramah, diberikan makanan dan minuman, serta diperbolehkan menginap selama yang mereka butuhkan. Bagi orang-orang yang sakit, Klammer menyediakan obat-obatan sederhana dan perawatan, sehingga rumahnya dengan cepat dikenal sebagai tempat penolong bagi masyarakat miskin.
Melalui pelayanan sosial ini, Klammer mendapatkan kesempatan emas untuk menyebarkan ajaran Kristen kepada para pengunjung rumahnya. Setiap pagi dan malam hari, ia mengadakan pembacaan dan perenungan Alkitab bersama orang-orang yang menginap. Di Barus, Klammer tidak hanya berhadapan dengan masyarakat Batak yang masih menganut kepercayaan tradisional, tetapi juga dengan komunitas Melayu yang memeluk agama Islam.
Dalam berdiskusi dengan penduduk Muslim di Barus, Klammer menerapkan pendekatan dialog yang unik dan persuasif. Ia sengaja menghindari perdebatan langsung mengenai figur Nabi Muhammad, kecuali jika ditanya secara eksplisit. Sebagai gantinya, ia melemparkan pertanyaan mendasar mengenai konsep penebusan dosa kepada mereka, seperti pertanyaan tentang siapa yang akan membayar utang dosa manusia.
Pendekatan dialog tersebut memaksa para pendengarnya berpikir secara logis berdasarkan realitas kehidupan sehari-hari mereka. Klammer menganalogikan utang dosa seperti utang materi yang mutlak harus dibayar, sementara manusia sendiri terus menambah dosa setiap hari. Melalui diskusi-diskusi yang santun di beranda rumahnya, Klammer berusaha memperkenalkan sosok Yesus Kristus sebagai juru selamat yang mampu melunasi utang dosa tersebut.
Tantangan berat yang dihadapi oleh para penginjil di Barus dan sekitarnya tidak hanya datang dari perbedaan keyakinan keagamaan, melainkan juga dari kuatnya tradisi mistis dan ritual adat lokal. Masyarakat Batak pada masa itu memiliki keterikatan yang sangat kuat terhadap pemujaan roh nenek moyang dan roh-roh alam. Mereka sering kali mengadakan ritual-ritual besar yang menguras banyak biaya dan energi.
Klammer mencatat salah satu pengalaman berharga ketika ia menyaksikan pelaksanaan ritual adat penolak bala yang memaksa seluruh penduduk kampung mengurung diri. Selama tiga hari berturut-turut, tua dan muda dilarang keluar dari rumah, dilarang bekerja di ladang, dan dilarang berbicara dengan tetangga. Mereka percaya jika melanggar aturan ritual tersebut, ular-ular di hutan akan keluar dan memakan mereka.
Di tengah kungkungan ritual adat yang ketat tersebut, Klammer menjadi satu-satunya orang yang dengan bebas berjalan keliling kampung tanpa rasa takut. Ia menggunakan momen tersebut untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa ketakutan mereka terhadap kutukan alam tidaklah terbukti. Sambil berjalan dari rumah ke rumah, ia menawarkan pesan pembebasan dari rasa takut melalui iman kepada Tuhan yang sejati.
Tantangan alam yang ekstrem juga menjadi ujian fisik yang berat bagi para penginjil di wilayah pesisir dan pedalaman. Ketika badai angin topan yang dahsyat melanda wilayah Barus, masyarakat lokal segera mengeluarkan tombak dan melakukan ritual tradisional untuk mengusir angin. Namun, upaya mereka sia-sia karena badai tetap menghancurkan atap-atap rumah dan menumbangkan pepohonan di sekitar pemukiman.
Setelah badai mereda, Klammer segera mengumpulkan penduduk dan membacakan khotbah dari Kitab Matius pasal 8 ayat 23-27. Bagian Alkitab tersebut mengisahkan tentang mukjizat Yesus yang meredakan angin ribut di danau. Melalui khotbah ini, Klammer menyindir ketidakberdayaan tombak dan ritual tradisional mereka, sekaligus mengarahkan pandangan mereka kepada kekuasaan Tuhan yang sejati.
Kondisi kesehatan juga sering kali menjadi penghambat utama pergerakan para penginjil di lapangan. Serangan penyakit demam tropis sering kali membuat para penginjil terkapar berhari-hari dan menunda perjalanan misi mereka. Selain itu, kecelakaan fisik seperti kaki yang terluka akibat menginjak tunggul pohon di dalam air juga sering dialami saat mereka menyeberangi sungai-sungai deras di wilayah Tapanuli.
Meskipun menghadapi berbagai macam rintangan, para penginjil di Barus tetap bertahan karena mereka mendapat dukungan moril dari para kepala adat atau raja lokal yang bersahabat. Beberapa raja Batak menyambut kedatangan para penginjil dengan tangan terbuka dan memberikan izin bagi mereka untuk berbicara di pasar-pasar tradisional (onan). Pasar menjadi ruang publik yang sangat efektif bagi para penginjil untuk menyampaikan pesan Injil kepada ratusan orang yang berkumpul dari berbagai kampung.
Warisan Penginjilan dan Pengaruh Penulisan Bahasa bagi Kekristenan
Kekristenan di wilayah Barus dan Tanah Batak pada umumnya sangat ditentukan oleh keberhasilan para penginjil dalam menguasai bahasa lokal. Dalam konteks inilah, peran dari penelitian bahasa yang dilakukan oleh Herman Neubronner van der Tuuk menjadi sangat krusial. Karya-karya linguistik Van der Tuuk bertindak sebagai kunci pembuka gerbang komunikasi antara dunia Barat dan peradaban Batak.
Sebagai seorang linguis lapangan yang diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootschap), Van der Tuuk tinggal di Sumatra Utara antara tahun 1851 hingga 1857, dengan masa-masa paling produktifnya dihabiskan di pos pesisir Barus (1852–1857). Selama periode tersebut, ia mengumpulkan ratusan manuskrip kuno Batak, termasuk naskah-naskah dalam aksara Dairi, Toba, dan Mandailing. Ia menyusun kamus bahasa Batak-Belanda serta buku tata bahasa Batak yang sangat komprehensif.
Kehidupan sehari-hari Van der Tuuk di Barus tidaklah berjalan dalam isolasi akademis yang tenang, melainkan di tengah interaksi yang sangat intensif dan sibuk dengan masyarakat pribumi. Pada awal kedatangannya, ia sempat meyakini bahwa tradisi lisan Batak adalah bentuk "sastra yang tidak tertulis" (unwritten literature). Ia menyadari bahwa dirinya tidak mampu mencatat cerita secara akurat jika hanya mengandalkan dikte langsung "dari mulut orang yang sedang bercerita" karena kecepatan dan ritme tutur yang tinggi.
Untuk mengatasi hambatan metodologis ini, rumah atau pos tinggal Van der Tuuk di Barus bertransformasi menjadi semacam pusat dokumentasi budaya. Setiap hari, para penduduk lokal berdatangan ke kediamannya untuk menawarkan potongan-potongan bambu kuno yang telah digoresi tulisan berisi surat, andung (ratapan), maupun ringkasan cerita tradisi. Dalam suratnya kepada Lembaga Alkitab Belanda pada Agustus 1852, Van der Tuuk mengeluhkan bahwa ia bahkan tidak memiliki waktu luang untuk sekadar menyalin draf kamusnya sendiri. Kesehariannya tersita penuh untuk menyalin teks dari bilah-bilah bambu tersebut ke atas kertas dengan aksara Latin, lalu langsung mendiskusikan dan membedah maknanya secara kritis di hadapan orang yang membawa atau menulis naskah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, metode kerja lapangan Van der Tuuk berkembang menjadi lebih terstruktur dan komersial. Ia mulai merekrut dan menggaji para juru tulis serta informan ahli dari kalangan datu (spesialis ritual atau dukun Batak) yang memiliki kecakapan literasi tinggi. Skema kerja harian ini menuntut ketelitian yang luar biasa, di mana Van der Tuuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksa validitas setiap transkripsi naskah dan memastikan tidak ada penyimpangan makna. Hubungan patronasi ini berjalan saling menguntungkan; Van der Tuuk memfasilitasi para pembantunya dengan kertas berkualitas baik dan pena modern, yang pada gilirannya menstimulasi para pujangga lokal untuk menuliskan narasi yang lebih panjang, terstruktur, dan mendalam daripada yang biasa mereka goreskan di atas media bambu atau kulit kayu (pustaha).
Fokus utama pekerjaan Van der Tuuk selama di Barus adalah mengumpulkan bahan mentah yang otentik untuk memformulasikan deskripsi ilmiah bahasa Batak. Salah satu pencapaian tekstual terpenting dari periode Barus ini adalah penyusunan Bataksch Leesboek (Buku Bacaan Batak) yang diterbitkan dalam empat jilid (1860–1862). Buku bacaan ini menjadi korpus tekstual utama yang merekam berbagai genre sastra Batak.
Di Barus, ia berhasil mengodifikasi berbagai cerita rakyat, mitos penciptaan dunia (Mula ni Tano), kisah-kisah ritual, hingga tradisi lisan khas rumpun Batak Barat atau Dairi (sukut-sukuten). Beberapa karya spesifik yang berhasil diselamatkan dan ditranskripsikan oleh Van der Tuuk di Barus. Sebut saja: (1) Naskah Datu Tonggal ni Begu. Sebuah cerita berlatar belakang instruksi ritual dan teks mantra pemanggilan dewa (pedah ni kata-kata ni mangmang debata). Van der Tuuk menyalin naskah ini langsung dari media bambu asli ke dalam karakter Latin; (2) Naskah Guru Tonggal Begu (Pemere Beru Si Pitu): Versi narasi yang lebih panjang dan mendetail yang dituliskan di atas kertas oleh salah satu asisten lokal terpercayanya; (3) Mula ni Tano (Kisah Penciptaan Dunia versi Dairi): Naskah epik yang ditulis khusus untuk Van der Tuuk oleh seorang juru tulis lokal bernama Guru Tinuturen. Berbeda dari teks-teks kuno lainnya yang biasanya diawali dengan doa atau mantra ritual, teks karya Guru Tinuturen ini ditulis murni dalam gaya naratif prosa yang panjang. Di dalam pembuka naskahnya, Guru Tinuturen secara eksplisit mendedikasikan tulisan tersebut untuk sang sarjana (tuan pandito) agar ia senang menemukan hukum-hukum tata adat dan aturan Dairi (bincara) di dalamnya.
Seluruh frasa, idiom, dan struktur ekspresi dari cerita-cerita rakyat yang dikumpulkannya di Barus inilah yang kemudian ia ekstraksi menjadi contoh-contoh kasus konkret dalam penyusunan Tobasche Spraakkunst (Tata Bahasa Toba Batak) dan kamus besarnya. Prinsip ilmiah yang dipegang teguh oleh Van der Tuuk adalah bahwa deskripsi suatu bahasa harus didasarkan pada teks tertulis yang diproduksi secara otentik oleh penutur asli bahasa tersebut, bukan sekadar bahasa lisan sekilas.
Kamus dan buku tata bahasa hasil kerja keras Van der Tuuk di pesisir Barus inilah yang kemudian dipelajari oleh para penginjil RMG, termasuk Ludwig Ingwer Nommensen, sebelum mereka menjejakkan kaki di medan pelayanan Sumatra. Tanpa adanya panduan tata bahasa yang sistematis dari Van der Tuuk, para penginjil dipastikan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun lebih lama hanya untuk memahami dasar percakapan masyarakat lokal. Penulisan bahasa ini memotong kompas kesulitan komunikasi yang dialami misi.
Lebih dari sekadar alat komunikasi, kodifikasi bahasa Batak ke dalam bentuk tulisan dan cetakan juga berkontribusi besar dalam menyelamatkan warisan sastra lisan masyarakat melalui buku bacaan Batak (Bataksch Leesboek) yang diterbitkan oleh Van der Tuuk. Buku tersebut berisi kumpulan cerita rakyat, mitos, tradisi bercerita (storytelling), dan petuah adat. Langkah ini membuat tradisi lisan suku Batak tidak punah dan dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Dampak Spiritual dan Perubahan Sosial
Bagi kepentingan misi Kristen, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Batak merupakan warisan paling berharga yang mengubah jalannya sejarah spiritual di kawasan tersebut. Ketika masyarakat Batak dapat membaca kisah-kisah Alkitab dalam bahasa ibunya sendiri, pesan Kekristenan tidak lagi dianggap sebagai agama asing milik orang Eropa. Kekristenan mulai meresap ke dalam sanubari dan mengakar kuat menjadi bagian dari identitas baru masyarakat Batak.
Melalui pengajaran literasi yang dibuka di sekolah-sekolah misi, para penginjil mendidik anak-anak Batak untuk membaca dan menulis. Kemampuan literasi ini secara perlahan mengikis praktik-praktik magis kuno yang sarat dengan ketakutan takhayul. Masyarakat mulai melihat dunia dengan cara pandang yang lebih rasional, namun tetap memegang teguh nilai-nilai moralitas Kristiani yang diajarkan.
Transformasi sosial ini juga terlihat dari perubahan kebiasaan pemakaman dan ritual kematian di tengah masyarakat. Pada masa pra-Kristen, upacara kematian sering kali menjadi beban finansial yang luar biasa berat bagi keluarga yang ditinggalkan. Tradisi lama menuntut penyembelihan puluhan ekor kerbau atau lembu serta pesta berhari-hari yang menghabiskan seluruh harta kekayaan keluarga.
Bagi keluarga miskin yang tidak memiliki uang untuk menyembelih hewan, jenazah anggota keluarga mereka sering kali dikuburkan begitu saja secara sepihak tanpa penghormatan adat yang layak. Masuknya ajaran Kristen membawa prinsip kesetaraan di hadapan Tuhan, di mana setiap orang, baik kaya maupun miskin, berhak mendapatkan penguburan yang layak dan terhormat. Praktik ini perlahan-lahan meruntuhkan sistem pelapisan sosial yang tidak adil akibat beban biaya adat.
Di sisi lain, jalinan sejarah antara wilayah pesisir Barus dan daerah pedalaman Tapanuli juga memperlihatkan dinamika relasi antaragama yang dinamis. Pesisir Barus yang telah lama dipengaruhi oleh budaya Melayu dan Islam menjadi cermin bagi para penginjil untuk belajar bertoleransi dan hidup berdampingan di tengah keberagaman Sumatra. Pola interaksi ini membentuk karakter Kekristenan Batak yang tangguh namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.
Kombinasi antara dedikasi fisik para penginjil RMG di lapangan—baik jejak awal Nommensen maupun pelayanan menetap Klammer di Barus—serta penguatan fondasi bahasa oleh sarjana seperti Van der Tuuk menjadi pilar utama tegaknya Kekristenan di Sumatra Utara. Warisan berupa gereja, sekolah, rumah sakit, serta kodifikasi bahasa Batak yang mapan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas hingga hari ini. Barus telah menjadi bagian integral dari rantai sejarah panjang yang menghubungkan iman, bahasa, dan transformasi kebudayaan Nusantara.
Daftar Pustaka
Brakel-Papenhuyzen, C. (2016). “Dairi storytelling and stories in the Batak Reader of Herman Neubronner van der Tuuk.” Wacana: Journal of the Humanities of Indonesia, 17(2).
Groeneboer, K. (n.d.). “Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik: Herman Neubronner van der Tuuk sebagai linguis lapangan di Indonesia pada abad kesembilan belas.”
Hemmers, J. H. (1935). L. I. Nommensen: De apostel der batakkers. J. N. Voorhoeve.
Hemmers, J. H. (n.d.). Schetsen uit het leven van Nommensen, den apostel der batakkers. Bosch & Keuning / Druk Emmink.
Kom Over en Help Ons! Maret 1862; Januari 1863: Juni 1863; Februari 1864; September 1864; Oktober 1864; November 1864; Desember 1864; Juli 1865.
Marrison, G. E. (1996). “Working with Van der Tuuk: Some British links in the development of Indonesian studies.” Journal of the Royal Asiatic Society, 6(1).
Plomp, M. (2014). Never-neverland revisited: Malay adventure stories: With an annotated edition and translation of the Malay story of Bahram Syah (Doctoral dissertation, Universiteit Leiden). Leiden University Repository.
Rijkhoek, D. (1932). Ompoe Nommensen, de apostel der Bataks (2e Jaargang No. 7). Christelijke Persvereeniging "Midden Java".
Scharten, C. Th. (1919). Ludwig I. Nommensen: Pionier en ephorus der battakzending. In Lichtstralen op den Akker der Wereld (25ste Jaargang, 6e Aflevering, No. E 48). J. M. Bredée's Boekhandel en Uitgevers-Maatschappij.
