Konten dari Pengguna

Batik Indonesia Nggak Mau Punah: Menjaga Filosofi dan Rantai Regenerasi

ilham adriansyah

ilham adriansyah

MAHASISWA TEKNIK MESIN UNIVERSITAS PAMULANG

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ilham adriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi/Generative AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi/Generative AI (Gemini)

Batik menyimpan cerita, doa, dan falsafah hidup yang mendalam di dalam setiap goresan lilinnya. Jauh sebelum dunia mengakuinya sebagai warisan budaya pada tahun 2009, batik sudah menjadi bagian erat dari identitas kita. Sayangnya, hari ini batik yang asli—yang dibuat lewat proses tulisan tangan atau cap—sedang berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah gempuran zaman.

Lebih dari Sekadar Kain, Ini soal Rasa Khas Batik

Keindahan batik yang sebenarnya ada pada proses pembuatannya yang magis. Seorang perajin harus menahan napas dan menjaga ketenangan tangan saat menggoreskan canting ke atas kain mori. Proses yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi ini melahirkan makna yang dalam pada setiap motifnya.Ambil contoh motif Parang.

Garis diagonalnya yang mirip ombak samudra itu melambangkan semangat yang tidak pernah patah. Ada juga motif Truntum, sebuah lambang cinta tulus yang terus bersemi. Memakai batik asli berarti kita sedang merayakan nilai-nilai kehidupan ini, bukan sekadar mengikuti tren visual semata.

Tantangan Kain Printing dan Sepinya Penerus Batik

Musuh terbesar batik hari ini sebenarnya adalah salah kaprah dari kita sendiri sebagai konsumen. Banyak kain murah di pasar yang kita sebut batik, padahal produk tersebut hanyalah tekstil bermotif batik hasil cetakan mesin pabrik. Karena harganya jauh lebih murah dan diproduksi massal, produk cetakan ini pelan-pelan menggeser posisi batik tulis dan cap buatan manual para perajin lokal. Dampaknya langsung terasa pada hulu industri, yaitu regenerasi perajin.

Saat ini, mayoritas pembatik di desa-desa sentra budaya sudah berusia lanjut. Anak-anak muda enggan meneruskan estafet ini karena proses membatik yang lama dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi jika dibandingkan dengan pekerjaan modern. Jika rantai generasi ini putus, keahlian meracik malam dan pewarnaan alami terancam hilang selamanya dari bumi Nusantara.

Membantu batik agar nggak punah artinya menolak lupa pada akar budaya sendiri. Setiap kali kita memilih, membeli, dan bangga memakai batik yang asli, kita tidak hanya sedang berpakaian. Kita sedang membantu seorang perajin di desa untuk terus berkarya, sekaligus menjaga denyut nadi budaya Indonesia tetap hidup sampai masa depan.