Bayi di Surabaya Meninggal Usai Diberi Telur Mentah, Komisi IX: Ke Mana Pemda?

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menyoroti peran pemerintah daerah (pemda) dalam mengedukasi masyarakat mengenai perawatan bayi. Hal ini disampaikannya menyusul kasus bayi berusia 28 hari di Surabaya yang meninggal dunia setelah diberi makan telur mentah oleh neneknya.
Yahya menyampaikan duka cita atas meninggalnya bayi tersebut. Ia juga menyayangkan masih adanya masyarakat yang belum memahami cara merawat bayi dengan benar.
“Pertama, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya bayi berusia 28 hari tersebut. Kedua, saya menyampaikan keprihatinan atas kasus tersebut karena ketidakpahaman warga masyarakat dalam memelihara bayi,” kata Yahya saat dikonfirmasi, Selasa (13/10).
“Ketiga, ini menunjukkam kurangnya perhatian pemerintah, khususnya untuk mendidik masyarakat agar mereka tahu memelihara bayi,” lanjutnya.
Menurut Yahya, kasus tersebut menunjukkan pentingnya perhatian pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengasuhan dan pemeliharaan bayi. Ia menilai edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Usia bayi sampai 2 tahun merupakan masa yang paling krusial bagi pertumbuhan manusia, karena 80% pertumbuhan otak manusia dibentuk pada 1000 hari pertama kehidupan. 9 bulan dalam kandungan dan 2 tahun di luar kandungan. Masa 100 hari pertama kehidupan juga rawan dengan stunting, sehingga intervensi stunting yang paling penting dan prioritas di 1000 hari pertama kehidupan,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai edukasi mengenai perawatan bayi dan pemenuhan kebutuhan anak perlu menjadi perhatian pemerintah. Pengetahuan masyarakat mengenai pengasuhan anak dinilai penting agar orang tua maupun anggota keluarga yang terlibat dalam merawat bayi memahami cara perawatan yang tepat.
Yahya juga mengaitkan kasus tersebut dengan kondisi kemiskinan di Indonesia. Ia menilai kejadian itu menunjukkan masih adanya persoalan dalam pemahaman masyarakat mengenai cara merawat bayi dan menjaga anak.
“Adanya kasus semacam itu juga berkorelasi dengan masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Juga menunjukkan rendahnya pengetahuan warga masyarakat dalam memelihara bayi dan menjaga anak,” tuturnya.
Yahya kemudian mempertanyakan peran Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Ia menyayangkan kasus tersebut terjadi di kota besar yang seharusnya memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang baik.
“Yang paling menyedihkan kasus tersebut terjadi di kota besar seperti Surabaya. Ke mana peran pemda selama ini dalam mengedukasi warga masyarakat. Seharusnya Surabaya posyandunya sudah lengkap, puskesmasnya lengkap, pustunya juga lengkap,” kata Yahya.
Sebelumnya, kisah seorang bayi disebut meninggal dunia setelah diberi makan telur mentah oleh nenek kandungnya sendiri viral di media sosial. Bayi tersebut meninggal saat dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Peristiwa itu dikabarkan oleh akun Threads @calisthaarisha. Ia mengaku sebagai tante dari bayi bernama Alena yang meninggal dunia itu.
“Teman teman threads, terima kasih banyak untuk doa kalian buat alena ya dengan berat hati aku menyampaikan alena telah berpulang, alena sudah tidak sakit lagi, alena sudah jadi bidadari di sana, untuk permasalahan keluarga suami ariana, SUDAH KAMI TINDAK LANJUTI, makanya ariana meminta untuk tidak membahasnya karna ariana juga belum siap menjawab pertanyaan pertanyaan kalian mohon doa untuk alena di surga yaa,” tulis akun tersebut.
Ia juga mengungkap bayi Alena meninggal setelah diberi makan telur mentah oleh neneknya sendiri. Alasan pemberian telur itu agar demam bayi turun.
Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar, membenarkan informasi kematian bayi Alena. Bayi itu meninggal di usia 28 hari setelah mendapatkan perawatan intensif.
“Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Namun pasien dinyatakan meninggal dunia pagi tadi sekitar pukul 07.10 WIB, usainya 28 hari,” ujar Robeth, Minggu (11/10).
