Belajar Bersama AI, Bukan Menolaknya
Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah paradoks besar dalam pendidikan di era kecerdasan buatan: semakin pintar mesin, semakin penting manusia belajar menjadi manusia.
Selama ini kita sering membayangkan bahwa tantangan pendidikan di era AI adalah mengajarkan anak bagaimana menggunakan teknologi. Anak harus belajar prompting, memahami chatbot, menguasai aplikasi AI, dan mampu bekerja bersama mesin.
Di era digital, semua itu memang penting. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang terjadi jika anak semakin mahir menggunakan AI, tetapi semakin kehilangan kemampuan untuk berpikir tanpa AI? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar spekulasi futuristik.
Data terbaru OECD melalui PISA 2025 menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk pekerjaan sekolah telah menjadi sesuatu yang umum. Di Indonesia, 53% siswa melaporkan menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 46%. Sebanyak 39% menggunakannya untuk meringkas teks yang harus dibaca dan 30% untuk membuat draf tugas tertulis. Hanya 7% siswa Indonesia yang mengatakan hampir tidak pernah menggunakan AI untuk tugas-tugas sekolah yang ditanyakan dalam PISA, dibandingkan 14% rata-rata OECD.
Artinya, AI bukan lagi teknologi masa depan. AI saa ini sudah berada di dalam ruang belajar anak-anak kita. Masalahnya bukan apakah mereka menggunakan AI atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa mereka menggunakannya?
Ketika AI mengambil alih giat berpikir
AI mempunyai kemampuan luar biasa untuk meringkas, menerjemahkan, menyusun argumen, mencari informasi, menghasilkan gambar, menulis kode, bahkan membantu memecahkan persoalan kompleks. Karena itu, ada godaan besar untuk menjadikan AI sebagai jalan pintas.
Siswa tidak lagi membaca buku secara utuh karena AI bisa merangkumnya. Siswa tidak lagi menyusun argumen karena AI dapat membuatkannya. Tidak lagi bergulat dengan persoalan karena AI dapat memberikan solusi dalam hitungan detik.
Di sinilah letak munculnya persoalan: belajar bukan sekadar menghasilkan jawaban. Belajar adalah proses menjadi seseorang yang mampu menghasilkan jawaban.
Jika seluruh proses tersebut diberikan kepada mesin, kita mungkin memperoleh tugas yang lebih bagus, tetapi belum tentu memperoleh manusia yang lebih terdidik.
OECD dalam Digital Education Outlook 2026 memperingatkan bahwa pengalihan tugas kognitif kepada chatbot umum dapat meningkatkan risiko kemalasan metakognitif dan keterlepasan dari proses belajar. Beberapa studi yang dirangkum OECD menunjukkan bahwa keunggulan siswa ketika menggunakan GenAI dapat menghilang, bahkan berbalik, ketika AI tidak tersedia dalam ujian.
Sebaliknya, AI yang digunakan dengan tujuan pedagogis yang jelas dapat mendukung pembelajaran dan keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Dengan demikian, masalahnya bukan AI atau tanpa AI.
Masalahnya adalah ketika AI digunakan sebagai pengganti usaha berpikir atau AI digunakan sebagai penguat usaha berpikir.
Data Indonesia lebih serius
Kekhawatiran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat kondisi kemampuan berpikir kreatif siswa Indonesia.
Menurut PISA 2022 Creative Thinking, Indonesia memperoleh skor rata-rata 19 dari 60, jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 33. Hanya 31% siswa Indonesia yang mencapai tingkat dasar kemampuan berpikir kreatif (Level 3 atau lebih), dibandingkan 78% rata-rata OECD. Sementara itu, hanya sekitar 5% siswa Indonesia yang masuk kategori top performers dalam berpikir kreatif, dibandingkan 27% rata-rata OECD.
Angka ini seharusnya tidak membuat kita menyimpulkan bahwa anak-anak Indonesia tidak kreatif. Justru sebaliknya: data tersebut adalah peringatan bagi sistem pendidikan.
Selama berabad-abad pendidikan di bumi ini bertanya: “Apa yang harus diketahui seorang siswa?” Di era AI, pertanyaan tersebut tidak cukup memadai lagi. Kita perlu bertanya: “Apa yang harus tetap mampu dilakukan manusia ketika mesin sudah mampu mengetahui dan menghasilkan begitu banyak hal?”
Jawabannya bukan hanya pengetahuan. Manusia harus mampu mempertanyakan, menilai, membayangkan, mencipta, berempati, berdialog, mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
Mendidik pengguna AI
Karena itu, solusi pendidikan bukanlah kembali ke dunia tanpa teknologi. UNESCO (unesco.go, 16/01/2026) sendiri menekankan pendekatan yang human-centred dalam penggunaan GenAI di pendidikan. Kerangka kompetensi AI UNESCO untuk siswa mencakup antara lain pola pikir yang berpusat pada manusia, etika AI, pemahaman teknik dan aplikasi AI, serta kemampuan merancang sistem AI.
Yang menarik, PISA 2025 juga memberikan petunjuk yang sama. Secara rata-rata OECD, sekitar enam dari sepuluh siswa mengatakan bahwa mereka pernah diminta di sekolah untuk menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI. Siswa yang menggunakan AI untuk belajar dan sekaligus memperoleh kesempatan di sekolah untuk belajar mengevaluasi kualitas informasi AI menunjukkan performa yang sedikit lebih baik dibandingkan pengguna yang tidak memperoleh pembelajaran semacam itu. OECD juga menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak membuktikan sebab-akibat, tetapi menunjukkan pentingnya pengajaran yang terarah.
Sudah saatnya pendidikan yang kritis dengan mempertanyakan: Bukan “jangan gunakan AI.” Tetapi:“Gunakan AI, lalu pertanyakan jawabannya.” Bukan: “Biarkan AI menulis.” Tetapi: “Gunakan AI untuk menghasilkan kemungkinan, lalu tulislah pemikiranmu sendiri.” Bukan: “Percayalah kepada AI.” Tetapi: “Periksa AI.” Bukan: “Apa jawaban AI?” Melainkan: “Mengapa saya menerima atau menolak jawaban tersebut?”
Tidak kehilangan kemanusiaannya
Kita sering mengatakan bahwa AI harus dibuat human-centered. Tetapi mungkin ada pertanyaan yang lebih mendalam: Apakah manusianya sendiri masih human-centered? Sebab teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih manusiawi.
Inilah risiko terbesar AI dalam pendidikan: bukan bahwa mesin menjadi terlalu pintar, melainkan manusia menjadi terlalu malas untuk berpikir. Tugas pendidikan adalah memastikan manusia tetap mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih mendasar: menjadi manusia.
Manusia yang mampu berpikir sebelum percaya. Mampu bertanya sebelum menerima. Mampu meragukan sebelum menyimpulkan. Mampu mencipta sebelum meniru. Mampu berempati sebelum menghakimi. Yang paling penting, manusia mampu mengatakan: “AI mungkin dapat memberikan jawaban kepada saya, tetapi sayalah yang bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dengan jawaban itu.”
Bukan manusia yang berubah menjadi lebih mirip AI. Melainkan manusia yang, dengan bantuan AI, naik ke tingkat berpikir yang lebih tinggi tanpa kehilangan hati nurani, kebijaksanaan, kreativitas, relasi dan tanggung jawabnya.

