Belajar dengan AI, Bukan Belajar dari AI

Guru SD Hikmah Teladan Cimahi. Pengurus PP IGI dan BMPS Kota Cimahi. Menulis tentang pendidikan, murid, guru, pembelajaran inklusif, dan refleksi dunia sekolah.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang siswa hari ini dapat menyelesaikan tugas yang dahulu membutuhkan berjam-jam hanya dengan beberapa kalimat perintah kepada kecerdasan buatan—menjelaskan konsep, membuat rangkuman, menyusun esai, bahkan menyelesaikan soal matematika. Persoalannya, jika semua itu dapat dilakukan mesin, apa sebenarnya yang masih harus dipelajari seorang anak?
Pertanyaan ini bukan soal boleh-tidaknya sekolah menggunakan artificial intelligence (AI). AI sudah hadir dalam kehidupan anak, bahkan ketika sekolah belum siap mengajarkannya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sekolah mengajarkan anak belajar dengan AI tanpa berhenti belajar karena AI.
Perbedaannya tampak sederhana, tetapi mendasar. Belajar dari AI berarti anak memperoleh jawaban dari mesin. Belajar dengan AI berarti anak memakai AI untuk memperluas proses berpikirnya sendiri. Pada model pertama, mesin mengerjakan pekerjaan kognitif anak. Pada model kedua, mesin membantu anak mengerjakan pekerjaan kognitif yang tetap menjadi tanggung jawabnya.
OECD melalui Digital Education Outlook 2026 memberi peringatan yang relevan: GenAI dapat mendukung pembelajaran apabila diarahkan dengan prinsip pedagogis yang jelas. Namun, ketika siswa sekadar menyerahkan tugas kognitif kepada chatbot, kualitas hasil pekerjaan memang bisa meningkat, tetapi belum tentu terjadi peningkatan kemampuan belajar. Keunggulan itu bahkan bisa menghilang ketika siswa kembali mengerjakan ujian tanpa bantuan AI.
Artinya, guru tidak cukup mengajarkan anak cara membuat prompt. Anak perlu diajarkan cara berpikir sebelum, ketika, dan setelah menggunakan AI: merumuskan pertanyaan, memeriksa apakah jawaban AI masuk akal dan memiliki bukti, lalu mengolah kembali informasi itu dengan pemahamannya sendiri.
Pola ini dekat dengan prinsip pendidikan yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW, yang sering membuka ruang berpikir lewat pertanyaan, bukan sekadar menyampaikan informasi. Dalam sebuah hadis tentang ghibah, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” lalu Rasulullah menjelaskan maknanya. Dialog tidak berhenti di situ. Seorang sahabat bertanya lagi, “Bagaimana jika yang saya katakan tentang saudara saya itu memang benar?” Rasulullah kembali menjelaskan (HR. Muslim no. 2589). Yang penting dari metode ini bukan sekadar pertanyaan pembukanya, melainkan urutannya: pertanyaan, jawaban awal, lalu pertanyaan susulan yang memperluas dan memperjelas pemahaman.
Bayangkan pola ini diterapkan dalam pembelajaran berbasis AI. Guru tidak berkata, “Tanyakan ke ChatGPT apa arti perubahan iklim,” melainkan, “Menurut kalian, mengapa suhu bumi meningkat?” Siswa membuat dugaan, baru kemudian memakai AI untuk mencari penjelasan. Guru bertanya lagi, “Bagian mana dari jawaban AI yang bisa kita buktikan? Dari mana sumbernya?” AI bukan guru. AI adalah alat dialog. Guru tetap menjadi perancang pengalaman belajar dan pengarah proses berpikir.
Prinsip ini sejalan dengan kerangka kompetensi AI UNESCO. Untuk siswa, UNESCO menempatkan empat dimensi—pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI—yang bergerak dari memahami, menerapkan, hingga mencipta. Untuk guru, UNESCO menambahkan pedagogi AI dan pemanfaatan AI untuk pengembangan profesional. Guru bukan sekadar orang yang tahu memakai aplikasi AI, melainkan yang mampu menentukan kapan AI digunakan, untuk tujuan apa, dan kapan justru tidak digunakan.
Di sinilah cara kita memandang tugas sekolah perlu berubah. Jika siswa menyerahkan seluruh proses penulisan esai kepada AI, guru memang memperoleh sebuah tulisan, tetapi belum tentu memperoleh proses belajar. Sebaliknya, guru bisa meminta siswa menulis gagasan awal dengan tangannya sendiri, lalu memakai AI untuk mengkritik argumen dan mencari kelemahan penalaran sebelum memperbaiki tulisannya. Dalam pola ini, AI tidak mengambil alih pekerjaan siswa; AI justru membuat siswa berhadapan dengan pikirannya sendiri.
Misalnya seorang siswa menulis, “Kendaraan listrik pasti menyelesaikan masalah lingkungan.” AI diminta menjadi pihak yang tidak setuju. Siswa kemudian harus mempertahankan argumennya, memeriksa bukti, dan memperbaiki kesimpulannya. Yang dinilai guru bukan hanya tulisan akhir, melainkan bagaimana siswa membangun dan memperbaiki argumentasinya. Inilah pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, ketika yang dibutuhkan bukan orang tercepat memberi jawaban, melainkan orang yang mampu menguji jawaban.
Cara Rasulullah mendidik menunjukkan pola yang sejalan: pertanyaan untuk membuka pikiran dan dialog untuk memperjelas pemahaman. Pendidikan diarahkan pada perubahan sikap, bukan sekadar penambahan pengetahuan. Prinsip inilah yang dapat menjadi salah satu fondasi pendidikan AI yang lebih manusiawi, berdampingan dengan kerangka OECD dan UNESCO.
Dari prinsip itu, sekolah dapat merumuskan kerangka sederhana untuk belajar dengan AI: bertanya, mencoba, memeriksa, merefleksikan, dan bertanggung jawab. Bertanya sebelum membuka AI. Mencoba dengan bantuannya. Memeriksa kebenaran hasilnya. Merefleksikan apa yang benar-benar dipahami. Bertanggung jawab atas hasil akhir yang digunakan atau dipublikasikan. Lima langkah ini membuat penggunaan AI tidak berhenti pada kemampuan membuat prompt. Anak belajar menjadi manusia yang mampu memakai mesin tanpa membiarkan mesin menggantikan pikirannya.
Tantangan pendidikan Indonesia di era AI bukan memilih antara guru atau teknologi—pilihan itu keliru sejak awal. Kita membutuhkan guru yang mampu memakai teknologi sekaligus menjaga agar manusia tetap menjadi pusat pendidikan.
Sebab semakin pintar mesin memberi jawaban, semakin penting sekolah mengajarkan anak cara mengajukan pertanyaan. Kita tidak sedang mendidik generasi untuk mengalahkan mesin dalam menghasilkan jawaban, melainkan generasi yang memiliki kebijaksanaan untuk menentukan jawaban mana yang layak dipercaya, bagaimana menggunakannya, dan untuk kebaikan siapa pengetahuan itu digunakan.
