Belum Naik Kelas, Tetapi Terus Bertumbuh
Tulisan dari Muafid Ardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hanya sebuah angka. Namun selama bertahun-tahun, angka itu menjadi bagian dari perjalanan karier saya sebagai ASN dengan kelas jabatan 6. Saya memulai pengabdian sebagai Pengolah Data. Hingga hari ini, kelas jabatan saya belum berubah. Tetapi justru ketika angka itu tidak berubah, saya mulai bertanya, “Apakah saya juga harus tetap menjadi orang yang sama?”.
Pertanyaan itu, kemudian membawa saya pada satu kesadaran, mungkin naik kelas sebagai ASN tidak selalu dimulai dari naiknya angka pada jabatan. Bisa jadi, ia dimulai dari kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Perjalanan itu ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Saya menjadi ASN pada tahun 2019. Pada tahun yang sama, dalam kegiatan Latsar di Depok, saya bertemu dengan perempuan yang kemudian menjadi istri saya. Sejak awal kami sudah mengetahui bahwa penempatan kami berbeda. Ia bertugas di Jawa Barat, sementara saya di Maluku Utara. Kami tahu konsekuensinya, tetapi saat itu kami belum benar-benar memahami seperti apa rasanya menjalin kehidupan dengan jarak yang begitu jauh.
Pada Oktober 2020, di tengah pandemi, kami menikah. Ternyata, tantangan dalam membangun keluarga bukan hanya soal jarak dan tempat.
Hampir dua tahun kami menunggu hadirnya seorang anak. Pertanyaan tentang kapan memiliki keturunan beberapa kali datang, bahkan dalam bentuk candaan. Mungkin bagi yang mengucapkannya itu sederhana, tetapi bagi kami yang sedang menunggu, pertanyaan tersebut terkadang terasa berat dan menyakitkan.
Kami memilih untuk terus bersabar.
Pertengahan 2022, penantian itu akhirnya terjawab. Kami akan menjadi orang tua. Anak pertama kami lahir pada 2023. Seharusnya kehadiran seorang anak membuat keluarga semakin dekat. Bagi kami, justru ada satu tantangan baru, bagaimana menjadi orang tua ketika ayah dan ibu bekerja di tempat yang berbeda?
LDM menjadi bagian dari kehidupan kami. Anak kami tumbuh dengan jarak. Ada banyak momen yang harus kami lewatkan melalui layar telepon. Pada satu titik, saya menyadari bahwa saya tidak ingin hanya mengeluhkan keadaan. Saya harus tetap bertumbuh sebagai ASN.
Kesempatan itu datang ketika kami memperoleh Beasiswa Unggulan dan menjalani tugas belajar di UNY sejak Agustus 2024. Saya mengambil prodi Teknologi Pembelajaran, dan istri Menajamen Pendidikan. Secara kedinasan, tugas belajar berarti kesempatan untuk meningkatkan kompetensi. Tetapi bagi kami, ada makna lain yang sangat personal, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun LDM, kami memiliki kesempatan untuk tinggal bersama.
Di Yogyakarta, kami belajar menjalani kehidupan sebagai keluarga.
Kami belajar, mengerjakan tugas, berdiskusi, dan mengurus anak. Di tengah kesibukan itu, anak kedua kami lahir pada 2025. Dua anak, dua orang tua yang sama-sama kuliah, dengan berbagai tuntutan akademik membuat masa itu tidak mudah. Namun justru di sanalah saya belajar bahwa peningkatan kompetensi bukan hanya mengenai gelar. Ia tentang kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap memberikan yang terbaik ketika banyak hal harus dilakukan bersamaan.
Namun tugas belajar memiliki batas waktu.
Pada Juni 2026, perjalanan itu sampai pada salah satu pencapaian yang membanggakan. Saya menyelesaikan pendidikan sebagai lulusan terbaik prodi Teknologi Pembelajaran dengan IPK 4,00. Istri saya juga menjadi lulusan terbaik prodi Manajemen Pendidikan dengan IPK 3,98.
Bagi kami, pencapaian tersebut bukan sekadar angka. Ia menjadi bukti bahwa setelah bertahun-tahun menjalani jarak, keterbatasan, dan tanggung jawab sebagai orang tua, kami tetap bisa bertumbuh.
Namun kelulusan bukan akhir perjuangan kami.
Saya kembali ke Maluku Utara. Istri saya kembali ke Jawa Barat.
Kami kembali menjalani jarak.
Pendidikan mempertemukan kami, tetapi penugasan kembali memisahkan kami.
Di situlah saya kembali dilema, untuk apa semua perjalanan belajar itu jika pada akhirnya kami kembali berjauhan?
Saya kemudian menyadari, bahwa tugas belajar bukan tiket untuk mendapatkan kehidupan yang selalu sesuai keinginan. Ia menjadi bagian dari perjalanan untuk menjadi ASN yang lebih baik.
Saya bekerja dengan data. Setiap hari saya berhadapan dengan angka, tabel, dokumen, dan informasi. Tetapi perjalanan ini mengajarkan saya bahwa di balik setiap data kepegawaian, terdapat manusia dengan kehidupan yang tidak tercatat dalam tabel.
Ada seorang suami yang ingin pulang pada istrinya.
Ada seorang istri yang ingin melihat anak-anaknya tumbuh bersama.
Ada seorang ayah yang ingin hadir dalam keseharian anaknya.
Dan ada seorang ASN yang tetap harus menjalankan tanggung jawabnya di tempat ia ditugaskan.
Anak pertama kami kini berusia tiga tahun, Ia semakin pintar dan banyak bertanya. Berkali-kali kami menjelaskan bahwa saya harus bekerja jauh dan tidak bisa pulang setiap saat. Sampai suatu ketika ia bertanya:
“Ayah kenapa ninggalin aku?”
Saya tidak punya jawaban yang benar-benar mampu menjelaskan semuanya kepada anak saya.
Pada hari saya kembali bertugas, ia mengantar sampai gerbang perumahan dengan sepedanya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kecilnya. Saya pun pergi.
Beberapa waktu kemudian, saya justru menyesal karena tidak memeluknya lebih lama saat itu.
Mungkin itulah bagian dari pengabdian yang jarak terlihat. Tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Kadang ia hanya tentang tetap berangkat bekerja ketika ada hati kecil yang ingin kita temani tumbuh. Momen kecil itu mengingatkan saya bahwa menjadi ASN, suami, dan ayah adalah tiga tanggung jawab yang berjalan bersamaan.
Saya masih berada di Maluku Utara.
Istri saya masih berada di Jawa Barat.
Kami kembali menjalani jarak.
Tetapi perjalanan ini membuat saya memahami sesuatu yang sebelumnya mungkin belum saya mengerti sepenuhnya.
Pengabdian bukan selalu tentang berada di tempat yang kita inginkan. Terkadang pengabdian berarti tetap memberikan yang terbaik di tempat kita dibutuhkan, meskipun hati kita ingin berada di tempat lain.
Menjadi ASN berarti menerima tanggung jawab untuk negeri.
Menjadi suami berarti bertanggung jawab terhadap keluarga.
Menjadi ayah berarti ingin hadir dalam pertumbuhan anak-anak.
Ketiganya bukan hal yang harus dipertentangkan. Kami hanya sedang mencari jalan agar ketiganya dapat berjalan beriringan.
Saya mungkin belum naik kelas dalam jabatan. Tetapi saya tidak ingin berhenti naik kelas sebagai ASN.
Karena bagi saya, bertumbuh bukan hanya tentang berpindah jabatan. Bertumbuh adalah ketika ilmu yang kita dapatkan membuat kita mampu bekerja lebih baik, ketika pengalaman membuat kita memahami manusia, dan ketika pengabdian membuat kita tetap bertahan meskipun ada bagian dari diri kita yang ingin pulang.
Sampai hari itu tiba, kami tidak menyerah untuk pulang.

