Berawal dari Otopsi Rusa: Bagaimana Hayy Ibn Yaqzan Menemukan Rahasia Kehidupan

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berawal dari Otopsi Rusa: Bagaimana Hayy Ibn Yaqzan Menemukan Rahasia Kehidupan dan Sains
Bagi sebagian besar orang, kehilangan sosok "ibu" akan memicu duka yang melumpuhkan. Namun bagi Hayy Ibn Yaqzan, karakter alegoris ciptaan filsuf dan dokter asal Andalusia, Ibnu Tufail, kematian induk rusa yang menyusuinya sejak bayi justru menjadi pemicu lahirnya metode penelitian ilmiah dan ilmu kedokteran di pulau terpencil.
Di tengah kesedihan mendalam karena sang rusa terbaring kaku tak bergeming, Hayy yang beranjak remaja mulai bertanya-tanya: Apa yang sebenarnya rusak dari tubuh ibunya? Mengapa matanya tak lagi melihat dan telinganya tak lagi mendengar?
Berbekal rasa ingin tahu yang membara dan pengalaman empiris panca indera, Hayy memulai aksi nekat, melakukan otopsi dan pembedahan anatomi pada bangkai rusa.
Pisau Batu dan Misteri Bilik Hati yang Kosong
Tanpa guru, tanpa laboratorium, dan tanpa alat medis modern, Hayy mencari kepingan batu tajam serta kayu kering yang ia bentuk menyerupai pisau. Dengan alat seadanya itu, ia membelah kulit dan lapisan dada rusa yang ia sayangi.
Dalam pembedahan tersebut, Hayy menemukan fakta-fakta anatomi penting:
Paru-paru dan Hati: Ia mengamati organ paru-paru serta mengelupas selaput kuat yang membungkus organ hati.
Dua Rongga Hati: Saat membelah bagian hati, Hayy menemukan dua bilik utama. Bilik kanan terisi penuh oleh darah beku, sedangkan bilik kiri benar-benar kosong.
Dari pengamatan ini, Hayy menarik kesimpulan rasional yang jenius. Darah di bilik kanan membeku karena mengalir keluar setelah kematian. Namun, bilik kiri yang kosong pasti pernah diisi oleh "sesuatu" yang sangat vital, sebuah penggerak utama (muharrik) atau uap panas yang kini telah pergi meninggalkan jasad rusa.
Jasad, menurut Hayy, hanyalah instrumen fisik ibarat tongkat. Ketika penggeraknya telah pergi, jasad menjadi kaku dan membusuk. Setelah melihat burung elang menguburkan sesamanya, Hayy pun menguburkan jasad rusa tersebut ke dalam tanah.
Eksperimen Anatomi pada Hewan Hidup dan Penemuan Sistem Saraf
Tidak puas hanya membedah bangkai yang sudah mati, naluri ilmiah Hayy mendorongnya melakukan eksperimen lebih jauh untuk membuktikan keberadaan "uap panas" penggerak kehidupan tersebut.
Hayy menangkap hewan hidup dan membedah bagian dadanya. Di sana, pada bilik kiri hati hewan yang masih bernapas, ia menemukan udara beruap putih menyerupai awan yang sangat panas. Begitu uap panas itu keluar dan hilang, hewan tersebut seketika mati.
Penelitian anatomi ini dilakukan Hayy secara tekun selama bertahun-tahun hingga ia berusia 21 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Hayy membedah berbagai organ hewan hingga mencapai tingkat keahlian pakar fisika dan kedokteran:
Pusat Kehidupan: Ia menemukan bahwa uap panas (al-ruh) memancar dari hati menuju otak.
Sistem Saraf: Dari otak, ruh tersebut dialirkan melalui urat-urat saraf ke seluruh anggota tubuh untuk menggerakkan panca indera, otot, dan organ pencernaan.
Sains, Api, dan Inovasi Teknologi Bertahan Hidup
Proses belajar Hayy tidak berhenti pada pembedahan organ. Pengalaman empirisnya berlanjut saat ia menemukan kobaran api dari gesekan ranting atau kebakaran alam.
Awalnya ia takjub karena api bisa menggantikan peran kehangatan matahari di malam hari. Namun, ketika jarinya terbakar, ia belajar sifat api secara objektif. Hayy memanfaatkan api untuk memasak daging, yang menjadi awal pengenalannya pada makanan matang. Serta memanfaatkan api dan batu tajam untuk menciptakan teknologi bertahan hidup:
Pakaian dan Sepatu: Dibuat dari kulit hewan hasil bedah anatominya, dijahit dengan benang dari serat rami dan bulu.
Peralatan Rumah: Menggunakan duri dan kayu diperuncing sebagai paku/pasak untuk membangun rumah batu berlapis pintu kayu.
Senjata Pertahanan: Membuat tombak berujung tanduk sapi buas dan perisai kulit untuk mengimbangi taring dan cakar binatang buas.
Penjinakan Hewan: Menjinakkan burung pemangsa untuk berburu dan menunggangi hewan liar di pulau.
Detail pembedahan anatomi yang begitu presisi dalam novel Hayy Ibn Yaqzan bukanlah kebetulan. Ibnu Tufail sendiri adalah seorang dokter medis terkemuka abad ke-12 yang pernah mempraktikkan ilmu kedokteran di Granada, Seville, dan menjadi dokter istana Khalifah di Marakesy.
Melalui perjalanan Hayy, Ibnu Tufail ingin menyampaikan pesan mendalam: Pengetahuan manusia tentang alam dan Tuhan tidak bermula dari khayalan abstrak, melainkan dimulai dari panca indera, pengamatan empiris, dan eksperimen ilmiah.
Sains dan pembedahan organ tubuh bukanlah hal yang bertentangan dengan keimanan, melainkan tangga pertama bagi manusia untuk memahami betapa agungnya desain Sang Pencipta di balik rumitnya organ kehidupan.
