Konten dari Pengguna

Berbagi Gratis Ala Apache Spark Agar Superkaya: Ali Ghodsi & Paradox Kedermawan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Net
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Net

Ada nasihat lama yang sering kita dengar. Kalau mau kaya, jaga rahasia dagangmu. Kunci resepmu. Jangan biarkan orang lain meniru.

Ali Ghodsi menempuh jalan sebaliknya. Ia dan kawan-kawannya membagikan karya terbaik mereka secara gratis kepada seluruh dunia. Hari ini ia memimpin Databricks, perusahaan data dan AI dengan valuasi sekitar 190 miliar dolar AS pada pertengahan 2026. Ghodsi sendiri masuk jajaran miliarder dunia.

Bagaimana mungkin orang menjadi superkaya dengan cara memberi gratis? Inilah paradoks kedermawanan.

Hadiah dari Berkeley

Ghodsi lahir di Iran. Keluarganya pindah ke Swedia ketika ia masih kecil. Ia tumbuh sebagai anak imigran, lalu menjadi ilmuwan komputer di bidang sistem terdistribusi dan data besar.

Di UC Berkeley, ia ikut membesarkan Apache Spark. Spark adalah mesin pengolah data berukuran raksasa. Kodenya dibuka untuk umum. Siapa pun boleh memakai, mengubah, dan menyebarkannya. Tanpa bayar.

Ribuan perusahaan lalu memakai Spark. Insinyur di berbagai negara ikut memperbaikinya. Spark menjadi standar industri. Semua itu terjadi karena satu keputusan: memberi.

Masa paceklik sang pemberi

Kisah ini tidak langsung manis. Databricks berdiri tahun 2013 untuk membawa Spark ke dunia usaha. Ghodsi bergabung paruh waktu. Tiga tahun kemudian perusahaan itu goyah.

Masalahnya mudah ditebak. Orang senang memakai Spark yang gratis. Mereka tidak merasa perlu membayar apa pun. Penggunanya melimpah. Pendapatannya hampir nihil.

Di titik ini banyak orang akan menyimpulkan bahwa memberi gratis adalah kesalahan. Tutup saja kodenya. Pasang harga.

Ghodsi diangkat menjadi CEO pada 2016. Ia tidak menutup hadiahnya. Ia merombak jajaran pimpinan dan menata ulang model bisnis. Mesinnya tetap gratis. Yang dijual adalah kemudahan: layanan yang aman, rapi, siap pakai, dan dikelola penuh untuk perusahaan besar. Lalu ia mengarahkan perusahaan ke arsitektur data lakehouse, yang menyatukan data mentah dan data terstruktur dalam satu rumah.

Bahkan setelah sukses, kebiasaan memberi itu berlanjut. Databricks membuka Delta Lake. Databricks membuka MLflow. Kemudian membuka pula model bahasanya sendiri.

Mengapa memberi bisa memperkaya

Paradoks ini punya penjelasan yang masuk akal.

Pertama, ilmu adalah barang yang aneh. Kalau saya memberi Anda sepotong roti, roti saya berkurang. Kalau saya memberi Anda sebuah gagasan, gagasan saya tetap utuh. Gagasan bisa dipakai sejuta orang sekaligus tanpa habis.

Kedua, hadiah melahirkan komunitas. Setiap insinyur yang belajar Spark menjadi calon pelanggan, calon karyawan, dan calon penyumbang perbaikan. Perusahaan tertutup harus membayar untuk semua itu. Ghodsi mendapatkannya lewat kepercayaan.

Ketiga, pemberi dikenal sebagai ahlinya. Siapa yang paling paham Spark? Tentu orang-orang yang menciptakannya. Ketika perusahaan besar butuh bantuan, mereka tahu harus mengetuk pintu siapa.

Psikolog Adam Grant meneliti pola serupa pada manusia. Dalam bukunya Give and Take, ia menemukan bahwa para pemberi berada di puncak tangga kesuksesan. Menariknya, para pemberi juga berada di dasar tangga. Bedanya ada pada kecerdasan dalam memberi. Pemberi yang gagal memberi tanpa arah sampai kehabisan tenaga. Pemberi yang berhasil memberi dengan strategi.

Tahun-tahun paceklik Databricks adalah gambaran pemberi di dasar tangga. Kebangkitannya adalah gambaran pemberi di puncak. Kedermawanannya sama. Kecerdasannya yang bertambah.

Sains memang tumbuh dari berbagi

Cara kerja Ghodsi sebenarnya bukan hal baru. Ia mewarisi tradisi tua dunia ilmu.

Sosiolog Robert Merton merumuskan norma-norma sains pada 1942. Salah satunya adalah komunalisme. Temuan ilmiah adalah milik bersama. Ilmuwan mendapat nama dan penghargaan. Ia tidak mendapat hak untuk mengurung temuannya. Newton menyebutnya dengan cara lain. Ia bisa melihat lebih jauh karena berdiri di atas bahu para raksasa.

Dunia digital dibangun dengan semangat yang sama. Tim Berners-Lee menciptakan World Wide Web di CERN. Pada 1993 teknologi itu dilepas ke publik tanpa royalti. Linus Torvalds membagikan Linux sejak 1991. Hari ini Linux menjalankan sebagian besar server dunia dan hampir semua ponsel Android. Bayangkan internet kita kalau keduanya memilih memasang pagar.

Ghodsi melangkah lebih jauh. Ia meramalkan bahwa semua model AI pada akhirnya akan menjadi sumber terbuka. Alasannya teknis. Model tertutup tidak bisa sepenuhnya mencegah distilasi. Model kecil bisa belajar dari jawaban model besar. Dengan kata lain, ilmu memang sulit dikurung. Yang mencoba mengurungnya hanya menunda waktu.

Pelajaran untuk kita

Apa artinya bagi kita di Indonesia?

Bagi dosen dan peneliti, bagikan bahan kuliah, kode, dan data. Jangan takut ditiru. Orang yang ditiru adalah orang yang dirujuk.

Bagi perusahaan, pisahkan mana yang layak dibagi dan mana yang layak dijual. Ghodsi membagi mesinnya dan menjual kemudahannya. Ia juga mengingatkan bahwa nilai terbesar AI ada pada konteks perusahaan: data internal, aturan, dan sistemnya. Pengetahuan umum boleh milik semua orang. Konteks adalah milik kita sendiri.

Bagi anak muda, mulailah memberi sebelum kaya. Tulis tutorial. Sumbang kode. Ajari adik kelas. Reputasi dibangun dari apa yang kita berikan.

Satu catatan penting. Kedermawanan tidak boleh naif. Ghodsi tetap menuntut hasil. Ia menolak pemakaian AI yang boros dan mendorong orang mengukur nilai yang dihasilkan. Memberi dengan lapang dan berhitung dengan cermat ternyata bisa berjalan bersama.

Jadi judul tulisan ini perlu sedikit diluruskan. Ghodsi tidak berbagi agar menjadi superkaya. Ia berbagi karena begitulah cara ilmu bekerja. Kekayaan datang kemudian sebagai akibat. Tangan yang terbuka memang melepaskan sesuatu. Tetapi semesta itu melengkung (mestakung), ujar Prof. Johanes Surya. Tangan yang banyak melepas dan berbagi , insya Allah, akan terlimpahi keberkahan. (**)