Bersihkan Abu Vulkanik Anak Krakatau, BMKG Lanjutkan OMC hingga 10 September

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mempercepat pembersihan atmosfer dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Operasi tersebut direncanakan berlangsung hingga 10 September 2026.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan OMC untuk penanganan abu vulkanik dimulai pada 6 September 2026 dari Posko Pondok Cabe. Operasi kemudian dilakukan dari Posko Semarang pada 7 September karena sejumlah bandara di Jakarta sempat ditutup.
Setelah Bandara Halim Perdanakusuma kembali dibuka, posko OMC dipindahkan ke Halim mulai 8 September agar operasi dapat dilakukan selama 24 jam.
“OMC penanganan abu vulkanik sudah mulai dilakukan dari tanggal 6 September di posko Pondok Cabe dan 7 September 2026 di posko Semarang karena beberapa bandara di Jakarta tutup. Akan tetapi setelah Bandara Halim buka maka mulai tanggal 8 September posko dipindah ke Halim agar bisa operasi 24 jam,” kata Seto saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).
BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait menjalankan OMC sebagai upaya mempercepat pengurangan konsentrasi abu vulkanik di atmosfer.
Gunakan Dua Pesawat dan Tiga Metode
Seto menjelaskan OMC menggunakan dua pesawat, yakni PAC XTOL 750 dengan nomor registrasi PK-SCJ dan Cessna Caravan C208 dengan nomor registrasi PK-SNH.
Pesawat PAC XTOL 750 mampu membawa hingga 1.000 kilogram bahan semai berupa bubuk NaCl. Sementara itu, Cessna Caravan C208 digunakan untuk membawa bahan berupa larutan surfaktan dan larutan CaCl2.
NaCl dan CaCl2 digunakan sebagai bahan higroskopis yang dapat menambah inti kondensasi atau cloud condensation nuclei (CCN) ketika dimasukkan ke dalam awan. Dengan begitu, potensi awan hujan yang tersedia dapat dioptimalkan untuk membantu membersihkan atmosfer dari abu.
Sementara itu, larutan surfaktan digunakan untuk menangkap partikel abu vulkanik yang masih terperangkap di atmosfer. Larutan tersebut disemprotkan terutama di wilayah dekat bandara.
“Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, 1 sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, 1 sorti liquid CaCl2 dan 3 sorti menggunakan spraying/water mist,” jelas Seto.
Operasi masih dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik agar konsentrasi abu di udara dapat terus ditekan.
“Operasi akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik, sehingga konsentrasi abu di udara diharapkan terus berkurang dan kondisi atmosfer berangsur lebih bersih,” ujarnya.
Seto menyebut Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) juga telah kembali beroperasi. Untuk mendukung kelancaran penerbangan, penyebaran larutan surfaktan terus dioptimalkan pada pagi hingga siang hari.
Di sisi lain, penyemaian awan menggunakan bahan semai berbentuk bubuk dilakukan dengan mengoptimalkan potensi awan hujan di wilayah yang terdampak sebaran abu.
“Untuk penyemaian awan dengan bahan semai powder juga sudah mulai dilakukan dengan mengoptimalkan potensi awan hujan yang ada di wilayah yang terdampak abu seperti Bogor, Bandung dan timur Jawa Barat. Terpantau hujan ringan di wilayah Bandung,” kata Seto.
Delapan Bandara Kembali Beroperasi
Sementara itu, BMKG mengonfirmasi delapan bandara yang sebelumnya ditutup telah dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik berdasarkan hasil pengujian paper test.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pengujian dilakukan secara berkala di sejumlah titik untuk melengkapi pemantauan citra satelit dan data meteorologi penerbangan. Pengujian tersebut menjadi salah satu dasar untuk memastikan kondisi ruang udara dan landasan sebelum bandara kembali membuka operasional penerbangan.
“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Faisal dalam keterangannya, Selasa (8/9).
AirNav Indonesia kemudian menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menyatakan bandara-bandara tersebut dapat kembali beroperasi.
Bandara Soekarno-Hatta resmi dibuka kembali pada pukul 00.30 WIB, disusul Halim Perdanakusuma pukul 00.40 WIB dan Husein Sastranegara Bandung pukul 00.42 WIB.
Selanjutnya, Bandara Budiarto Curug beroperasi mulai pukul 01.25 WIB, Pondok Cabe pukul 01.28 WIB, Muhammad Taufik Kiemas pukul 09.31 WIB, Radin Inten II pukul 09.45 WIB, serta Salakanagara Tanjung Lesung pukul 09.50 WIB.
Meski sejumlah bandara telah kembali beroperasi, BMKG masih memantau pergerakan abu vulkanik GAK secara real-time.
Abu Vulkanik Bergerak ke Selatan-Barat Daya
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan abu secara umum berada pada ketinggian hingga 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer.
Pada 8 September 2026 pukul 09.00 WIB, abu terpantau bergerak ke arah selatan-barat daya, mencakup sebagian Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten, dengan kecepatan 5-10 knot atau sekitar 9,3-18,5 kilometer per jam.
“Pantauan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.
Mengacu pada informasi terbaru PVMBG pukul 07.49 WIB, GAK juga masih mengalami erupsi. Erupsi terbaru memiliki amplitudo maksimum 48 mm dengan durasi 19 detik dan masuk kategori erupsi strombolien atau erupsi kecil.
BMKG juga mencatat gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik akibat aktivitas GAK pada pukul 21.00-23.00 WIB. Namun, aktivitas tersebut menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap dinamika atmosfer akibat erupsi GAK. Warga yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik diminta membatasi aktivitas di luar rumah.
Bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar, BMKG mengimbau penggunaan masker dan kacamata pelindung serta terus mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah.
