Konten dari Pengguna

Birokrasi Jangan Hilang Empati

Musthain Asbar Hamsah

Musthain Asbar Hamsah

Penelaah Teknis Kebijakan di DKP Prov. Sulsel

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Musthain Asbar Hamsah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ambulans. Foto: Faiz Zakiy Yamani/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ambulans. Foto: Faiz Zakiy Yamani/Shutterstock

Hanya mesin yang tak punya rasa empati.

Jumat, 23 Agustus 2019, seorang pria bernama Supriyadi ramai menjadi bahan pemberitaan. Video Supriyadi menggendong jasad Husein, keponakannya, sempat heboh. Husein anak berusia delapan tahun itu telah meninggal setelah tenggelam di Sungai Cisadane. Jenazanya sempat dibawa ke Puskesmas, namun nyawanya tidak dapat ditolong lagi.

Tubuh Husein kemudian dibungkus kain, setelah para petugas Puskesmas membantu membersihkan jenazahnya. Sang paman lalu meminta ambulans.

Namun, ambulans yang ada di Puskesmas tidak dapat mengantar Husein ke rumah duka. Alasannya, sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), ambulans di sana ternyata dikhususkan untuk merujuk orang sakit saja.

Setelah dua jam menunggu, Supriyadi memutuskan berjalan dengan tubuh keponakannya dalam dekapan. Beberapa orang menoleh. Sebagian berhenti. Ketika Supriyadi hendak meniti tangga jembatan penyeberangan, seorang warga kemudian menawarkan mobil untuk mengantar mereka ke rumah duka.

Video Supriyadi kemudian beredar luas. Sebuah video yang membuka pertanyaan tentang arti pelayanan ketika seorang warga berada pada titik paling berduka dalam hidup: kehilangan anggota keluarga.

video youtube embed

Sumber video: Supriyadi Ups/Youtube

Ketika pertama kali membaca berita itu, saya masih menempuh pendidikan sarjana. Saya yang tidak tahu menahu perspektif birokrasi, seketika langsung saja menggerutu:

Tidakkah sang pejabat birokrasi Puskesmas beserta jajarannya bersimpati kepada jenazah Husein? Dan, tidakkah mereka mempunyai rasa iba lalu memberi solusi yang lebih manusiawi?

Atau, sudah sebesar itukah rasa tega di dalam dada para pejabat birokrasi yang menghamba pada sistem dan standar operasional itu? Sehingga membiarkan jenazah Husein dibopong begitu saja tanpa diberi angkutan layak?

Alasan “tidak sesuai Standar Operasional Prosedur” sungguh suatu dalih birokratis yang tak punya rasa empati.

Beberapa tahun berselang, setelah bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), saya mulai paham sudut pandang dari para petugas di Puskesmas di sana saat itu. Saya menyadari bahwa lingkungan birokratis memang bekerja di dalam sebuah sistem.

Ada peraturan yang harus dipatuhi. Ada SOP yang harus dijalankan. Ada mekanisme administrasi yang harus dipenuhi. Ada hierarki kewenangan yang harus dihormati. Serta ada berbagai ketentuan yang menjadi batas dalam menjalankan pekerjaan.

Birokrasi dan aturan adalah hal yang selalu berjalan beriringan. Pelayanan publik tidak mungkin diselenggarakan hanya berdasarkan perasaan. Anggaran negara harus dipertanggungjawabkan. Setiap keputusan harus memiliki dasar.

Prosedur dibutuhkan agar pelayanan tidak dilakukan secara semaunya dan agar setiap orang mendapatkan perlakuan yang adil. Semua prespektif ini saya dapat saat bekerja sebagai ASN.

Walau begitu, dari peristiwa Supriyadi, saya juga memetik pelajaran bahwa mematuhi aturan, semestinya, tidak berarti harus kehilangan empati. Hilang empati berarti tidak mampu untuk melihat dari posisi orang lain, tidak mampu untuk ikut merasakan emosi dan penderitaan warga secara langsung.

Sudut pandang birokrasi yang melulu melihat pada SOP memang jadi alasan yang benar dari segi aturan. Tetapi, saat membaca kembali berita tentang Supriyadi dan Husein, rasa kemanusiaan dalam diri tidak bisa serta merta dihilangkan hanya karena alasan standar operasional.

Saya kira, di sinilah tantangan bekerja sebagai ASN. Di satu sisi, ASN tidak boleh sembarangan mengabaikan aturan. Sebab aturan dibuat untuk menjaga keteraturan dan mencegah kesewenang-wenangan. Jika setiap aparatur menggunakan berbagai alasan untuk mengabaikan prosedur, maka birokrasi dapat kehilangan kepastian dan membuka ruang bagi perlakuan asal jadi.

Tetapi di sisi lain, terlalu kaku menjalankan aturan juga dapat membuat birokrasi kehilangan wajah manusianya.

Rasa kemanusiaan dapat mengambil peran dalam proses mengambil keputusan. Ada yang namanya kebijakan. Ada yang namanya solusi alternatif. Bukannya melulu bicara tentang sistem dan standar operasional laiknya mesin, lantas tidak mengindahkan orang-orang yang akan kesusahan dan kesulitan karenanya. Sungguh tidak elok bila seperti itu.

Persoalannya adalah bagaimana menjalankan aturan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Sebagai ASN, kita memang tidak boleh menjadi orang yang merasa paling benar hanya karena memiliki SOP. Kalimat “sudah sesuai prosedur” belum tentu selalu berarti masalah selesai. Bisa jadi secara administratif pekerjaan kita benar, tetapi secara manusiawi masih ada persoalan yang belum terselesaikan. Seperti peristiwa yang dialami Supriyadi tadi.

Ketika sebuah permohonan memang tidak dapat dipenuhi karena bertentangan dengan ketentuan, maka seorang ASN harus berani mengatakan tidak. Namun sepanjang kewenangan memungkinkan, ASN dapat membantu menemukan alternatif atau kebijakan yang tetap sesuai dengan aturan.

Saya kira, para petugas di Puskesmas yang membantu membersihkan jenazah Husein juga memiliki rasa empati. Seandainya mereka melakukan usaha lebih untuk membantu mencarikan solusi alternatif agar jenazah Husein dapat diantar ke rumah duka secara layak, mungkin berita heboh ini tidak bakal ada.

Begitulah semestinya ASN bekerja. Tidak hanya sekadar mengikut pada SOP dan sistem saja. Tidak. Sebab seringkali ada hal-hal yang luput dalam pembuatan, juga saat sistem dan standar operasional itu dijalankan di area kerja.

Mesin tidaklah mengenal simpati dan empati. Mesin akan bekerja sesuai standar operasional yang berlaku. Robot akan bekerja sesuai program algoritmanya. Sedangkan manusia tidaklah seperti itu.

Manusia memang bisa mencipta sistem, standar operasional, algoritma dan lain sebagainya. Tapi manusia tidak semestinya menjadi mesin dan robot seperti apa yang diciptakannya.

Penghambaan yang berlebih pada sistem dan standar operasional akan menghilangkan empati dan rasa kemanusiaan. Padahal fungsi keduanya bukanlah untuk menyusahkan dan mempersulit, melainkan untuk memudahkan agar kerja lebih efisien.

Maka semestinya ASN bekerja sebagai manusia dengan rasa simpati dan empati terhadap masyarakat. Terutama kepada mereka yang berada pada posisi paling rentan.