Konten dari Pengguna

Birokrasi Tak Akan Berubah Kalau ASN Tak Berani Mencoba

Sandi Putra

Sandi Putra

ASN Panwaslih Kabupaten Aceh Barat

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sandi Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

Ada satu kalimat yang sering terdengar di ruang kerja “Tunggu arahan dulu," Kalimat itu sederhana. Tidak salah, bahkan dalam banyak keadaan memang diperlukan. ASN bekerja dalam sistem, terikat aturan dan tidak bisa bertindak sesuka hati. Namun, ketika “menunggu arahan” berubah menjadi kebiasaan setiap kali berhadapan dengan persoalan, di situlah birokrasi mulai kehilangan tenaga untuk bergerak. Saya percaya birokrasi tidak akan berubah kalau ASN tidak berani mencoba.

Perubahan memang membutuhkan kebijakan dan keputusan pimpinan. Tetapi birokrasi pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Regulasi boleh berganti, aplikasi boleh diperbarui dan program reformasi boleh diluncurkan. Jika orang-orang yang menjalankannya tetap bekerja dengan cara lama karena takut mencoba sesuatu yang berbeda, perubahan hanya akan berhenti sebagai dokumen.

Sebagai ASN, saya merasakan bahwa persoalan birokrasi tidak selalu berupa aturan yang buruk. Sering kali masalahnya justru lebih sederhana, kita terlalu lama terbiasa dengan cara kerja yang sama. Sebuah pekerjaan dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika muncul kesulitan, kita mencari pembenaran bahwa memang begitulah prosedurnya. Ketika ada pekerjaan berulang yang menyita waktu, kita menerimanya sebagai rutinitas. Padahal, sesekali kita perlu berhenti dan bertanya apakah pekerjaan ini memang harus dilakukan dengan cara seperti ini? Pertanyaan tersebut terlihat kecil, Namun dari pertanyaan kecil itulah inovasi biasanya bermula.

Saya pernah berada dalam situasi ketika proses analisis pekerjaan membutuhkan cara yang lebih sistematis agar fakta, persoalan dan unsur hukum tidak tercecer. Alih-alih menganggap kerumitan itu sebagai sesuatu yang harus diterima, saya mencoba menyusun alat bantu yang dapat membuat proses berpikir menjadi lebih terstruktur. Dari proses mencoba, mengevaluasi, memperbaiki hingga mengujinya kembali, lahirlah sebuah instrumen kerja yang kemudian dikembangkan sebagai Legal Reasoning Matrix (LRM).

Bagi saya, pengalaman itu memberi pelajaran sederhana, inovasi tidak selalu dimulai dari ruang rapat besar atau anggaran besar. Kadang inovasi bermula dari kegelisahan seorang ASN di depan meja kerjanya. Kegelisahan itu muncul ketika kita melihat pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan lebih cepat, lebih tertib dan lebih mudah dipertanggungjawabkan, tetapi terus dikerjakan dengan cara lama.

Tentu ada alasan mengapa ASN sering ragu mencoba. Kesalahan dalam birokrasi memiliki konsekuensi. Ada aturan yang harus dipatuhi, ada atasan yang harus dihormati dan ada kekhawatiran bahwa sebuah gagasan justru akan dianggap sebagai tindakan yang keluar dari kebiasaan. Ada pula anggapan bahwa ASN yang baik adalah ASN yang tidak banyak membuat masalah. Bekerja sesuai kebiasaan dianggap lebih aman dari pada menawarkan cara baru. Padahal, keamanan semacam itu bisa menjadi jebakan. Kita mungkin berhasil menghindari kesalahan, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan menemukan perbaikan.

Kekhawatiran itu wajar. Namun, takut salah tidak boleh berubah menjadi alasan untuk tidak pernah mencoba. Jika setiap gagasan dihentikan sebelum diuji, birokrasi akan kehilangan kesempatan untuk belajar.

Di sinilah kita perlu membedakan antara keberanian dan kecerobohan. ASN tidak boleh mencoba dengan mengabaikan aturan. Justru sebaliknya, inovasi yang sehat harus lahir dari pemahaman terhadap aturan, kebutuhan nyata serta kemauan untuk menguji apakah sebuah cara kerja memang lebih baik. Mencoba bukan berarti bertindak tanpa dasar. Mencoba berarti mencari perbaikan secara terukur, bertanggung jawab dan dapat dievaluasi.

Karena itu, saya tidak sedang mengajak ASN untuk menjadi "pembangkang birokrasi." Saya justru mengajak kita menjadi bagian dari birokrasi yang mau berpikir. Caranya tidak harus rumit. Pimpinan dapat membuka ruang uji coba bagi gagasan pegawai dalam skala terbatas. Setiap gagasan diuji, hasilnya diukur, kelemahannya dicatat lalu diperbaiki sebelum diterapkan lebih luas. Dengan pola seperti itu, inovasi tidak lagi menjadi lompatan yang menakutkan, melainkan proses belajar yang terkendali.

Pimpinan juga perlu memberi penghargaan bukan hanya kepada mereka yang berhasil, tetapi kepada ASN yang berani mengidentifikasi masalah, mengusulkan solusi dan mengujinya secara bertanggung jawab. Sebab, budaya inovasi tidak akan tumbuh jika setiap kegagalan langsung dipandang sebagai aib.

Birokrasi membutuhkan ekosistem seperti itu, bukan budaya yang menghukum setiap kesalahan, melainkan budaya yang mampu membedakan antara kesalahan karena kelalaian dan kegagalan dalam proses belajar. Kesalahan karena mengabaikan aturan tentu harus dipertanggungjawabkan. Namun kegagalan dalam eksperimen yang dilakukan secara hati-hati seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk mematikan keberanian. Sebab birokrasi yang sehat bukan birokrasi yang tidak pernah salah. Ia adalah birokrasi yang mau belajar ketika menemukan kesalahan.

Pada akhirnya, reformasi birokrasi bukan hanya urusan gedung pemerintahan, regulasi atau program nasional. Reformasi juga terjadi ketika seorang ASN memutuskan untuk tidak lagi berkata “Dari dulu memang begini," lalu menggantinya dengan pertanyaan “Adakah cara yang lebih baik?”

Mungkin perubahan besar tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Mungkin ia dimulai dari satu formulir yang disederhanakan, satu proses yang dipangkas, satu alat bantu yang dibuat atau satu gagasan yang berani diuji.

Mungkin ia dimulai dari seorang ASN yang berani mencoba.