BMKG Pasang 20 Sensor Tsunami di Selat Sunda: Tak Ada Anomali Kenaikan Air

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penjelasan tentang sensor seismograf di BMKG Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penjelasan tentang sensor seismograf di BMKG Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya telah memasang 20 tsunami gauge yang tersebar di sekitar wilayah Selat Sunda.

Sensor tersebut digunakan untuk memantau perubahan muka air laut secara terus-menerus imbas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Kami telah memasang 20 tsunami gauge yang tersebar di sekitar area Selat Sunda. Tsunami gauge ini terus-menerus memantau dan sampai saat ini tidak ada anomali kenaikan muka air laut akibat tsunami yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Faisal dalam rapat terbatas (ratas) penanganan bencana bersama Presiden Prabowo Subianto secara daring di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9).

Selain tsunami gauge, Faisal mengatakan pihaknya juga memasang lebih dari 20 sensor seismograf di sekitar Selat Sunda. Sensor tersebut digunakan untuk memantau aktivitas erupsi sekaligus mengantisipasi potensi terjadinya flank collapse seperti pada 2018.

"Juga ada 20 lebih sensor seismograf yang berada di sekitar Selat Sunda. Ini terus memantau terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dan juga potensi terjadinya flank collapse juga seperti tahun 2018," ujarnya.

Foto udara kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: PVMBG/via REUTERS

BMKG juga memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui tiga lokasi rekaman medan magnet bumi yang dipasang di Lampung Selatan, Serang, dan Sukabumi.

Dari pemantauan tersebut, BMKG melihat adanya kecenderungan penurunan aktivitas erupsi dibandingkan dengan erupsi pada 4 dan 5 September.

"Sejak pukul 23 tanggal 4 September hingga yang terjadi pada saat ini, amplitudo gangguan geomagnetik dan jumlah sambaran petir vulkanik itu menunjukkan tingkat erupsi yang lebih kecil dari dua erupsi pada tanggal 4 September malam dan juga tanggal 5 September," kata Faisal.

Dia mengatakan, data medan magnet dan petir vulkanik menunjukkan proses peluruhan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Jadi ada proses peluruhan dari erupsi berdasarkan data medan magnet dan juga dari petir vulkanik yang dimiliki BMKG," ujarnya.