BMKG: Potensi Tsunami di Selat Sunda Rendah, Gelombang Sekitar 1 Meter

BMKG menyebut potensi tsunami di sekitar Selat Sunda masih rendah setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Pemantauan hingga Minggu (6/9) pagi tidak menemukan anomali muka air laut.
Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kondisi itu berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB.
“Berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07:00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut. Analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas tsunami pada saat tersebut berada di tingkat rendah (di bawah 40 persen), dengan tinggi gelombang laut yang terjaga di kisaran satu meter,” ujar Andri dalam keterangannya, Minggu (6/9)
Analisis menggunakan teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas tsunami saat itu berada di bawah 40 persen. Tinggi gelombang laut terpantau sekitar satu meter.
“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intesitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujarnya.
BMKG tetap melakukan pemantauan aktivitas GAK selama 24 jam dengan sejumlah instrumen. Pemantauan tersebut dilakukan bersama PVMBG-Badan Geologi untuk melihat perkembangan erupsi dan dampaknya terhadap wilayah pesisir Selat Sunda
BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang berada di sepanjang pesisir Selat Sunda, tetap waspada dan tidak panik. Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Adapun BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik GAK berdasarkan citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB. Sebaran abu meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Sementara itu, Empat bandara ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
Keempat bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II, dan Bandara Budiarto.
