BMKG: Puncak Musim Kemarau Terjadi Agustus-September 2026

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi musim kemarau. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi musim kemarau. Foto: Shutter Stock

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026.

"Puncak musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi terjadi mayoritas pada bulan Agustus hingga September tahun 2026," kata Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam jumpa pers, Kamis (30/7).

Ia mengungkapkan, saat ini, sudah lebih dari setengah wilayah Indonesia yang memasuki musim kemarau.

"Kondisi monitoring musim kemarau yang sekarang ini sudah terjadi. Jadi sudah 509 zona musim atau 54,5 persen dari luasan wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau," ungkapnya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menunjukkan peta wilayah prediksi sifat musim kemarau terhadap normalnya saat konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Ardhasena menjelaskan, wilayah yang masuk musim kemarau ada di selatan khatulistiwa, yakni Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Menghadapi musim kemarau ini, perlu ada sejumlah antisipasi yang dilakukan. Misalnya di sektor pertanian, petani diimbau untuk menyesuaikan musim tanamnya sekaligus varietas tanamannya.

"Juga terkait dengan sektor sumber daya air dan juga sektor energi. Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Dan juga biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasi," papar dia.

"Tidak kalah penting juga sektor kesehatan. Sejalan dengan musim kemarau itu biasanya cuaca panas karena kondisi pada saat musim kemarau biasanya tutupan awan itu rendah, itu dapat memicu heatstroke untuk masyarakat yang beraktivitas cukup lama di luar ruangan, dan juga kondisi penurunan kualitas udara yang bisa berasosiasi dengan penyakit ISPA," sambungnya.