BMKG: Sebaran Abu Anak Krakatau Kini Tak Lagi Terdeteksi, Kondisinya Bersih

Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengungkap sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini sudah tidak lagi terdeteksi.
Ia mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa saat ini wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau sudah bersih dari sebaran debu vulkanik.
“Nah, saat ini kita coba lihat bagaimana kondisi terkini. Nah, sejak semalam, pemantauan semalam atau sekitar jam 01.00 WIB itu untuk sebaran debu vulkaniknya sendiri sudah tidak lagi terdeteksi dari citra satelit,” jelas Ida dalam diskusi Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9).
“Sehingga ini ke depannya kalau misalnya erupsinya berhenti ini harusnya sudah tidak ada lagi sebaran debu vulkanik. Jadi untuk saat ini kondisinya bersih untuk sebaran debu vulkanik dan tentu saja ini kalau dilakukan paper test juga pastinya negatif,” lanjutnya.
BMKG sebelumnya memantau pergerakan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki. Sebaran tersebut bergerak ke arah barat, sementara pada lapisan bawah juga terpantau bergerak ke arah timur.
Ida menjelaskan, BMKG juga mengamati kondisi gelombang di perairan Selat Sunda. Pemantauan dilakukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan tinggi gelombang yang dapat menjadi indikator awal potensi tsunami akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Nah, ini kami akan menyampaikan kondisi terkini Gunung Anak Krakatau. Jadi tadi untuk debu vulkaniknya kita sudah lihat bahwa pergerakannya sampai 50.000 kaki ke arah barat dan juga ke arah timur di lapisan bawah,” ungkap Ida.
“Kemudian juga untuk ketinggian gelombang tidak teramati adanya peningkatan tinggi gelombang yang ini dapat menunjukkan atau sebagai indikator awal potensi tsunami itu tidak terjadi pada saat erupsi Gunung Anak Krakatau,” sambungnya.
Menurut Ida, hasil pemantauan menunjukkan tidak ada peningkatan tinggi gelombang yang berarti di Selat Sunda. Kondisi arus di wilayah tersebut juga tidak menunjukkan adanya perubahan yang mengkhawatirkan.
“Nah, kemudian untuk ketinggian gelombangnya sendiri di Selat Sunda ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan yang berarti dan arusnya juga sehingga kondisinya aman,” kata dia.
BMKG juga melakukan pemantauan menggunakan sejumlah instrumen, salah satunya HF Radar. Selain itu, kondisi muka air laut dipantau melalui tide gauge untuk memastikan ada atau tidaknya perubahan tinggi gelombang yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Nah, ini kalau dari kalau yang sebelumnya itu dari pengamatan radar HF Radar, nah ini dari pengamatan tide gauge dari, jadi dari pengamatan tide gauge ini terlihat bahwa juga tidak ada peningkatan secara signifikan ketinggian gelombang di Selat Sunda yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau,” jelasnya.
